Apa Kabar


Dari Ken Arok hingga PP
September 13, 1997, 3:02 pm
Filed under: Other
Benih premanisme sudah bersemai di negeri ini sebelum masa Ken Arok. Tapi, seiring zaman, ia terus bermetamorfosis.

KEN ANGROK, sang pendiri kerajaan Singosari itu, bisa dibilang tadinya preman juga. Ia memulai karir sebagai bandit dan jawara. Tentu, dia bukanlah orang pertama yang membuka akses ke kekuasaan lewat jalur “bawah tanah”. Sejarah negeri ini memperlihatkan bahwa pada zaman pra-kolonial pun, jago, jawara, centeng, dan sejenisnya sudah jamak. Karena, memang ketokohan semacam itu merupakan sisi lain dari kekuasaan itu sendiri. Dalam hal ini, ia merupakan implementasi tak formal dari kekuasaan. Karena itu, sejarah preman di negeri ini bisa ditelusuri hingga jauh.

Pada zaman Hindia Belanda, premanisme tumbuh lebih subur. Pada masa ini, para preman semakin tampil ke permukaan. Di Batavia misalnya, para jagoan menguasai jaringan tenaga kerja. Mereka juga menjalin hubungan dengan jaringan pedagang Arab, dalang, pokrol bambu, guru-guru mengaji, serta pentolan-pentolan rampok di kampung-kampung pantai utara Karawang dan hutan-hutan di kaki gunung sebelah selatan. Hubungan tersebut kerap dimanfaatkan untuk menggerogoti kekuasaan kolonial. Karenanya, penguasa kolonial perlu mengerahkan Marsose dan Veldpolitie (polisi kota) untuk menghadapi para jagoan.

Selain pribumi, geng Cina dan Arab eksis juga hingga tahun 1945. Pada tahun 1942 contohnya, Karawang dicekam oleh kelompok Oey Soe Peng dan Tan Goan Kiat. Namun, menurut sejarawan Robert Cribb, para jagoan itu sebenarnya tak pernah membentuk serikat rahasia terstruktur seperti yang ada di Cina. Jadi, ikatan mereka relatif longgar dan cenderung mengandalkan patronase saja. Bukan formal organisatoris.

Modal seorang jawara atau centeng dalam membangun patronase adalah kedigdayaan, nyali serta lobi. Seorang pentolan preman biasanya dipercaya sakti dan pemberani. Selain kebal, mereka bisa membekali pengikutnya dengan jimat. Hubungan dengan penegak hukum mereka jalin, baik secara diam-diam maupun terbuka.. Acap juga mereka bertindak sebagai polisi informal bagi para tuan-tuan tanah yang menyewa mereka. Berkat hubungan baik, sering mereka tak perlu mendekam di bui, sekalipun telah membantai lawan. Hukum besi berlaku bagi mereka: yang kuat dan gesit menjadi pialang kekuasaan, sedangkan yang lemah dan lamban segera menjadi penghuni bui kolonial di Cipinang atau Glodok.

Zaman revolusi bisa dibilang merupakan era kejayaan para preman. Situasi yang serba-bergolak serta sumber daya perjuangan yang minim, membuat mereka dilirik oleh kaum pergerakan progresif. Contohnya antara lain Haji Darip, Pak Macem, Kiai Nurali, Camat Nata, dan Bang Pi-ie. Lasykar Rakyat Jakarta Raya, misalnya, beraliansi dengan Haji Darip, Pak Macem, K.H. Nurali, dan Camat Nata dalam menghadapi penjajah. Sosok para jagoan tersebut bisa mencerminkan ideologi kaum preman saat itu.

Haji Darip berbasis di Bekasi. Wilayah kekuasaannya mencakup Bekasi, Pulogadung, Klender, dan Jatinegara. Pemimpin Barisan Rakyat Indonesia itu, menurut Cribb, menggabungkan perampokan dengan patriotisme. Mangsa mereka adalah orang berkulit terang (Cina, Indo, Eropa) dan berkulit gelap (Ambon dan Timor).

Muhammad Arif alias Haji Darip lahir sekitar tahun 1900. Ayahnya, Gempur, adalah penguasa lama Klender. Pada usia tujuh tahun Haji Darip bersekolah di Mekah. Tiga tahun kemudian ia kembali ke Klender. Lalu, bekerja di jawatan kereta api dan menjadi jagoan. Ia terlibat dalam pemogokan kereta api pada tahun 1923. Lewat Barisan Rakyat Indonesia, jawara yang sempat menjadi pedagang itu menguasai lintasan kereta api di Jakarta Barat. Ia banyak berperan dalam Revolusi ‘45.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, tokoh yang dihormati sebagai pemimpin agama dan dianggap sakti itu tampil sebagai penguasa Klender. Ia berpengaruh dan disegani para pemimpin Republik di Jakarta. Hubungan pribadinya dengan tokoh revolusi Surabaya, Moestopo, telah mengengkat pamornya.

Di Cibarusa, tenggara Jakarta, pada masa yang sama berkuasa Pak Macem. Ia memimpin kelompok perampok yang sebagian besar anggotanya pejuang berpengalaman. Kegiatan mereka adalah penjarahan, teror, dan mengupayakan hak menentukan nasib sendiri. Di Cibarusa, tokoh intelijen Zulkifli Lubis pernah aktif. Kabarnya, ia pernah merekrut para penjahat Nusakambangan untuk keperluan operasinya.Tak jelas apakah ia berhubungan dengan Pak Macem juga.

Masih pada zaman revolusi, Iman Syafei yang akrab dipanggil Bang Pi-ie menguasai Senen. Bos kelompok Oesaha Pemuda Indonesia itu kelak masuk militer dan berdinas di Divisi Siliwangi. Banyak yang percaya bahwa ia mampu mengalirkan massa ke jalanan di Jakarta untuk unjuk rasa politik. Dalam peristiwa 17 Oktober 1952, disinyalir dia berperan dalam menggerakkan demonstran yang menentang parlemen.

Bang Pi-ie merupakan salah satu pentolan preman yang mencapai kedudukan tertinggi di pemerintahan. Jagoan yang meninggal pada tahun 1982 itu menjadi Menteri Negara Urusan Keamanan Rakyat dalam Kabinet 100 Menteri yang dibentuk Bung Karno pada 21 Februari 1966.

Pada masa revolusi itu, Kiai Haji Nurali “memegang” daerah berpaya-paya di utara Bekasi. Camat Nata dan Bantir di Bekasi. Pak Utom di Cianjur, Bubar di Karawang, Haji Akhmad Khaerun di Tangerang.

Perkembangan selanjutnya, beberapa jagoan itu mulai berorientasi pada kekuasaan formal. Bubar misalnya membenum diri sebagai Bupati Karawang dan menduduki kantor kabupaten. Haji Masum di Cilincing dan Haji Eman di Telukpucung, mengambil alih posisi pemerintah setempat. Pak Macem menjadi Kepala Polisi Cibarusa. Bantir dari Bekasi menjadi mantri polisi, Nata menjadi camat.

Haji Akhmad Khaerun menobatkan diri sebagai “bapak rakyat”. Ia melangsungkan revolusi rakyat pada 18 Oktober ‘45, dengan menghalau seluruh aparat pemerintah setempat. Bupati Tangerang minggat ke Jakarta. Komite Nansional Indonesia Tangerang dibubarkan pada 21 Oktober ‘45 dan Khaerun menggantikan lembaga itu dengan presidium beranggota empat orang. Orang Jepang, Cina dan Eropa ditangkapi. Kalau tak diusir, mereka dihabisi. Hubungan dengan Jakarta diputus. Tangerang dinyatakan sebagai daerah otonom.

Khaerun, veteran aksi Partai Komunis Indonesia tahun 1926 di Tangerang itu, ahli kebatinan. Pendukungnya–banyak yang haji–dipersenjatai dan mereka disebut lasykar ubel-ubel. Khaerun bersahabat dengan Syekh Abdullah, peranakan Arab pimpinan Barisan Berani Mati atau Lasykar Hitam.

Pentolan kakap lebih suka membentuk lembaga kekuasaan sendiri, tanpa mengusik kekuasaan resmi. Contohnya, Haji Darip di Bekasi.

Ketika hubungan lasykar dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) makin buruk, para jawara itu pun terimbas. Sebagian dari mereka tewas dan yang masih mujur hanya dilucuti. Sebab, dianggap membangkang terhadap kekuasaan resmi. TNI terus berkonsolidasi dan lasykar-lasykar semakin tak mendapat tempat. Bahkan, akhirnya lenyap, baik karena melebur maupun karena diharamkan. Akan halnya preman, mereka tetap eksis sampai sekarang. Hanya mereka tak berpolitik secara terbuka lagi. Memang masih ada saja yang bereksperimen politik, terutama pada masa pembangkangan daerah terhadap pusat. Tapi, hasilnya tak begitu berarti.

* Pascarevolusi

Menyempitnya ruang gerak mereka bersamaan dengan konsolidasi TNI, membuat preman-preman lama tadi tersisih dari pentas besar. Keterbatasan lapangan kerja dan sulitnya ekonomi, menjadikan mereka kian tereliminasi. Akibatnya, banyak dari mereka yang mencoba menekuni kehidupan normal.

Perlahan para preman dari zaman revolusi ini surut. Usia mengadang mereka. Posisi mereka diambil oleh angkatan muda yang orientasi dan gayanya lain. Fenomena ini tampak makin jelas menjelang dekade ‘60-an. Di Medan misalnya, menurut kriminolog Purnianti Simangunsong, pada tahun 1958-60 muncul geng-geng. Mereka mengidentifikasi diri dengan simbol-simbol, topi, dan sepeda motor. Mereka dinamakan crossboy, karena sering nongkrong di perempatan jalan. Hal serupa terjadi di kota-kota besar semacam Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung. Tapi, menurut Rachmat Hidayat, Bandung-lah yang memulai berandalan bergaya cross boy itu. “Bandung lebih dulu dari Jakarta. Jakarta waktu itu belum ada apa-apa,” ujar dia. Setelah Bandung, menurut Rachmat, menyusul Medan, baru Surabaya dan kemudian Jakarta.

Kelompok preman yang mencuat di Bandung pada tahun 1960-an dan 1970-an, antara lain Dollar di Cicadas dan Kobra di Bandung Tengah serta pusat kota. Kobra merupakan akronim dari nama pimpinanya, Kolonel Bratamanggala. Kobra kemudian dipegang Tatto Bratamanggala, anak angkat sang kolonel. Padepokan mereka sekarang bernama BBC (Buah Batu Club) dan dikomandani Kenken.

Selain itu, ada juga kelompok lain seperti Panbor, Sakarima, dan Cikaso Besi. Seiring waktu, para pentolan preman Bandung pun silih berganti. Namun, nama seperti Rachmat Hidayat, Kolonel Bratamanggala, Tatto, Kenken, Alex Bima (Cicadas), Suwarna, dan Yaya (Sakarima), Abas Ali (Cikaso Besi), Ade Madjid (Sukajadi), Martin Bule, Yudi Fox (Merdeka) atau Polce (Tongkeng) tetap dikenang.

Pada awal tahun 1960-an yang dominan di Medan adalah kelompok etnik. Seperti preman Karo, Batak, Aceh, Minang, dan Jawa. Agar tak gontok-gontokan lagi, H.M. Yoenan Effendi Nasution alias Pendi Keling pada tahun 1963 mencoba mempersatukannya dalam Persatuan Pemuda Kota Medan (P2KM). Tapi, organisasi ini tak berusia panjang. Bermunculan kelompok
baru yang namanya selalu memakai boys. Misalnya, Atla Boys pimpinan Richard Simanjuntak, Singa Boys (Jalan Singamangaraja).

Ada juga geng anak orang kaya yang kerjanya pesta dan hura-hura. “Waktu itu geng anak kaya ini bergaya ala James Dean dan Rock Hudson. Gaya twin-nya seperti Cubby Checker,” kata seorang pentolan tahun 1960-an. Sampai saat itu, kelompok-kelompok ini tetap menjauhi tindak kriminal. Preman Medan baru terorganisasi setelah Pemuda Pancasila lahir.

Menginjak tahun 1960-an muncul dua kelompok kuat di Surabaya, yaitu Giant dan Viking. Kedua kelompok itu bersaing ketat dan kerap bentrok. Selain itu, ada juga geng perempuan, yakni Selendang Biru. Ibarat merpati yang mencari pasangan, cewek-cewek yang doyan merokok dan minum ini selalu hadir ketika Giant dan Viking perang tanding. Ganja dan morfin masih longgar saat itu.

Pasca-generasi ini muncul kelompok Besi Tua. Sebagian besar anggotanya orang Madura dan berlatar belakang kaum marginal. Musiknya dangdut. Setelah itu yang mencuat adalah kelompok band. Yang terkemuka adalah AKA. Band ini punya sejumlah pasukan, termasuk Lapendoz (laki-laki penuh dosa).

Hingga paro pertama tahun 1980-an, berandalan ugal-ugalan merupakan ciri khas premanisme di Indonesia. Setelah itu yang mencolok adalah premanisme yang digalang oleh organisasi kemasyarakatan dan pemuda (OKP), seperti PP, Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan dan ABRI, Pemuda Panca-Marga atau Warga Jaya. Apakah dengan demikian preman kembali mendapat akses politik? Bisa juga.

Laporan Arinto TW, Abdul Manan, Aendra HM, Bambang Soedjiantoro

D&R, Edisi 970913-004/Hal. 105 Rubrik Laporan Khusus



Preman di Sini, Preman di Sana
September 13, 1997, 8:44 am
Filed under: Social
Kelompok preman juga meruyak di berbagai kota besar. Mereka membagi wilayah kekuasaannya, tak ubahnya seperti memotong-motong kue. Siapa mereka dan bisnis apa yang digarap kaum preman? Bagaimana hubungan mereka dengan penguasa keamanan resmi? Inilah jepretan di beberapa tempat.

# MEDAN

Kalau ada bisnis yang mampu mencirikan, sekaligus menghidupkan kota Medan, barangkali itu perjudian dan bisnis sektor hiburan. Betapa tidak. Cobalah Anda berjalan-jalan di kawasan Petisah yang acap dijuluki sebagai kota yang tak pernah mati. Kegiatan bisnis pada pagi, siang, sore, malam, hingga dini hari berjalan amat dinamis. Pada pagi hari sampai sore, kawasan Petisah, misalnya di Jalan Nibung Raya, diwarnai bisnis jual-beli mobil bekas, perparkiran, penitipan, dan pencucian mobil. Namun, begitu malam tiba, kawasan ini berubah menjadi pusat kegiatan hiburan, usaha makanan, bahkan pelacuran dan perjudian.

Wajarlah jika banyak orang mengais rezeki di tempat itu. Dan, kaum preman adalah kelompok yang pasti menempati pos terdepan. Mereka secara umum dibagi berdasarkan pekerjaan, wilayah, skill (ketrampilan), serta sejarah eksistensinya. Jadi, ada yang menguasai lahan parkir, juga ada yang “memegang” toko, restoran, lapak, kaki lima. Bahkan, tempat mesum dan rumah judi.

Dari sektor parkir saja, seorang preman bisa memperoleh setoran rutin antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per hari. Dari penghasilan itu, mereka menyisihkan sekian persen rezekinya untuk oknum keamanan di tingkat polsek. “Kami harus bagi-bagilah itu dengan mereka,” tutur seorang tokoh preman yang dikenal di kawasan Simpanglimun.

Dewasa ini, ada dua organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) yang populer di kalangan kaum preman, yaitu Pemuda Pancasila (PP) dan Ikatan Pemuda Karya (IPK) pimpinan Olo Panggabean. Di berbagai pusat keramaian dan hiburan Kota Medan, selalu saja ada preman anggota PP atau IPK yang bertindak sebagai koordinator di lapangan. Untuk itu, tentu ada upah menarik yang mereka peroleh.

“Biasanya pihak pengusaha itu mengundang kami untuk mengamankan usahanya. Kalau kerja kami bagus, kami bisa memperoleh honor bulanan. Untuk daruratnya saja, kalau rajin, Rp 100 ribu per hari itu enggak ke mana. Tapi, kalau tiap hari datang, malulah. Mau ditaruh di mana muka ini?” kata Iwan Lubis. Pria bertampang sangar dan berambut gondrong itu tak lain seorang pengurus Pemuda Pancasila wilayah pusat bisnis Kota Medan. Menurut sejumlah pengusaha, rata-rata harga keamanan bulanan dari pengusaha berkisar antara Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu untuk tiap OKP.

Namun, urusan bagi-bagi rezeki itu terkadang memunculkan persoalan di antara “penguasa keamanan” itu sendiri. Yang masih segar dalam ingatan warga Medan, ketika terjadi pertarungan bersenjata antara Serka Marlon yang polisi dan sejumlah oknum tentara bersenjata sangkur.

# SURABAYA

Pasca-penembakan misterius 1983-1984, geng pada bubar di kota ini. Kini yang banyak “memegang” adalah kelompok Madura. Ada dua pentolan mereka yang sering disebut-sebut, yaitu Pak Wi dan Mbah Nari. Mereka bergerak di bidang perparkiran, pasar, dan jasa pengamanan. Namun, untuk sektor menengah atas seperti diskotek, tempat hiburan lain, dan pusat pertokoan yang berjaya adalah Pemuda Pancasila.

* Stasiun Wonokromo

Ketika malam datang, kawasan ini berubah semarak. Musik dangdut mengalun dari berbagai sudut. Lelaki dan perempuan tumplak dalam kegiatan judi campur pelacuran. Setiap hari, aneka jenis judi memang tersedia di sini. Mulai dari kelas receh seperti gaple sampai cap jie kie yang bernilai jutaan rupiah. Semua itu berjalan aman berkat kepiawaian seorang kepala keamanan ternama di sana. Lelaki itulah yang bertugas menjaga wilayah stasiun dari gangguan orang luar, termasuk meladeni razia atau sekadar kontrol situasi keamanan dari aparat resmi.

* Terminal Bungurasih

Sekelompok preman sudah tinggal di Terminal Bungurasih, jauh sebelum tempat itu dibangun pada tahun 1990. Di sana pernah lahir seorang tokoh preman terkenal bernama Mat Oyik. Ia kini menjadi pengusaha dan mengorganisasi pedagang asongan. Belakangan, aparat keamanan getol menyatroni, gara-gara wilayah tersebut menjadi tempat perdagangan ekstasi dan putauw, di samping makin seringnya aksi kejahatan penodongan.

* Pelabuhan Tanjungperak

Dua tindak kejahatan yang sering terjadi di wilayah pelabuhan adalah pemerasan dan perampokan. Itu belum termasuk penjambretan, penodongan, perampasan, dan penipuan. Sederet tempat yang menjadi langganan aksi pemerasan dan perampokan, misalnya, dermaga Nilam, Mirah, Berlian, Jamrud, dan Kalimas. Satu atau sekelompok kecil preman biasanya menguasai tempat itu. Namun, agak sulit mengidentifikasi siapa saja penguasa di sana, kecuali satu nama yang cukup dikenal: John Kelor.

# SEMARANG

Para penguasa Kota Semarang membagi “kue” kekuasaannya ke dalam tujuh bagian, yaitu Pasar Johar, Simpanglima, Karangayu, Banyumanik, Peterongan, Pelabuhan, dan stasiun. Kemudian, tiap bagian itu dipecah menjadi sub-sub wilayah, seperti selatan-atas, selatan-bawah, tengah, utara-atas, utara-bawah, Pasar Krempyeng, dan Pedamasan. Dari sub-sub bagian tadi, wilayah selatan-atas dan bawah merupakan daerah yang paling basah. Mungkin, itu disebabkan banyaknya pedagang kelas menengah yang mangkal di situ. Tempat lain yang tak kurang basah yakni kawasan Pedamasan. Di sini bongkar-muat barang dilakukan di bawah kontrol seorang berjuluk si Gendut. Pria berbadan subur itulah yang menetapkan uang keamanan Rp 500 sampai Rp 1.000 untuk skali tarikan. Dalam sehari terjadi minimal 25 kali bongkar-muat.

Selain jasa keamanan, bisnis-bisnis seperti perparkiran, pengamenan, dan pengemisan merupakan ladang strategis yang mampu mendatangkan uang dengan cepat. Dan, jenis pekerjaan itu terdapat hampir di semua sudut kota lumpia itu. Seperti juga di kota-kota lain di Indonesia, setiap wilayah kerja dijaga oleh preman, baik yang berasal dari jalanan maupun yang sudah ngepos di instansi tertentu. Yang patut disayangkan, selalu saja ada preman yang terlibat, atau merangkap sebagai pemain, minimal penadah barang-barang hasil kejahatan.

Dewasa ini, perebutan kursi antar-penguasa dunia hitam di Semarang makin kelihatan. Dari pengamatan D&R di lapangan, tampak ada dua kelompok yang sedang berebut pengaruh serta wilayah untuk menentukan siapa yang terkuat. Mereka ialah geng Cina asal Medan melawan geng lokal Semarang yang dibantu preman dari Jawa Timur. Separo pihak yang terlibat dalam suksesi itu, konon, kelompok preman yang selama ini menguasai bisnis judi. Ada fakta bahwa di tempat-tempat, seperti Johar Atas, Taman Parkir, Hotel Grand Rama, Depok, Kompleks Bukit Sari dan Tanah Mas, praktik perjudian dengan nilai ratusan juta per malam berlangsung aman-aman saja.

# BANDUNG

Di Bandung, orang biasanya menyebut kaum preman sebagai “okem”, kependekan dari prokem. Namun, ada kesan sinis dari julukan itu, sebab istilah okem berkonotasi merendahkan pekerjaan preman. “Habis kebanyakan okem Bandung mah tukang palak, suka mabuk, dan biang reseh,” tutur Tia, mahasiswi sebuah akademi swasta.

Pendapat Tia boleh jadi benar. Buktinya? Lihatlah di Terminal Kebon Kelapa pada saat jatah para okem dari sopir angkot tak terabaikan. Hampir pasti terjadi amukan para okem. Tidak jarang, mereka tega mengacak-acak tempat si sopir atau si tukang dagang yang dianggap melawan.

Contoh lain, Cicadas. Ini adalah sebuah wilayah di perbatasan Bandung Timur yang dikenal amat padat penduduknya. Di tempat ini, jatah preman biasa dipungut dari toko, pedagang, dan sopir angkot. Yang menyebalkan, kebanyakan preman Cicadas itu seperti calo. Maksudnya, mereka memunguti jatah kecil-kecil dari orang, kemudian memakai uangnya untuk minum-minum atau mabuk obat. Dengar pengakuan seorang tokoh jagoan setempat yang tidak mau disebut namanya. “Di Cicadas ini sebenarnya tak ada preman. Yang ada, siapa yang paling berani berantem atau sering keluar-masuk penjara, biasanya ia akan disegani. Itu saja.”

Di pusat pertokoan Bandung Indah Plaza, seorang anggota Pemuda Pancasila (PP) asal Irian dikabarkan menguasai tempat ini. Jatah preman yang diperoleh tokoh itu berasal dari sopir taksi yang setiap saat lalu lalang di Jalan Merdeka. “Bayangkan,” kata seorang calo taksi di Bandung Indah Plaza kepada D&R, “Setiap taksi harus menyetor Rp 500 sama dia. Dan, di sini ada seribu taksi yang tiap hari mondar-mandir. Apa enggak kaya dia?” Masih menurut sumber tadi, “Dulu, yang pegang wilayah ini si Martin Bule. Tapi, setelah dia mati tergilas kereta api, tak ada orang yang menguasai Bandung Indah Plaza, kecuali anak PP.”

Areal yang barangkali agak aman sekarang ini, justru kawasan alun-alun yang dulunya menjadi pusat keramaian Kota Bandung. Armen, penguasa kaki lima di Jalan Dalam Kaum mengatakan, “Di sini tidak ada lagi preman yang utuh. Semua orang punya usaha. Ada yang jaga parkir, berjualan koran, calo angkot, atau pedagang kaki lima.” Nama Armen memang cukup disegani di daerah itu. Terbukti kalau ada keributan di alun-alun, aparat keamanan paling hanya mencari Armen. Dulu, Bandung mempunyai sederet nama preman yang dikenal masyarakat. Salah satunya, karena keberadaan mereka yang sering membantu keamanan setempat. Aktor Rachmat Hidayat misalnya.

Masalahnya, kenapa kini kaum preman Bandung dipandang sinis oleh sebagian masyarakat?

Laporan Bambang Soedjiartono, Abdul Manan, Prasetya, Aendra H.M.

D&R, Edisi 970913-004/Hal. 102 Rubrik Laporan Khusus