Apa Kabar


Limbah Militer di “Pulau Brigif”
January 26, 1999, 11:39 am
Filed under: Other
Sebagian ekosistem Pulau Sempu rusak akibat latihan Kostrad. Badan Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur menyatakan tak pernah memberi izin.

BEBERAPA WC semi permanen yang diperkirakan dipakai para perwira sewaktu menjenguk latihan tempur ditemukan di Pulau Sempu. Tentu, itu bukan yang menjadikan Masyarakat Pecinta Alam Jonggring Salaka (MPAJS) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang serius ingin menggugat Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), tapi karena Kostrad menjadikan cagar alam tersebut sebagai ajang latihan militer, dengan ekses penebangan kayu dan penembakan satwa yang dapat merusak ekosistem.

Kawasan Pulau Sempu yang terletak sekitar 60 km sebelah selatan Malang itu terkenal akm keindahannya. Tempat yang populer dengan nama Sendang Biru tersebut termasuk salah satu obyek wisata favorit masyarakat Jawa Timur. Sejak 1928, wilayah ini ditetapkan Pemerintah Hindia Belanda sebagai cagar alam, lewat stableed 26 Stbl No. 69 tertanggal 15 Maret 1928, sesuai UU No. 5/1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehutanan. Jantung kawasan seluas 877 hektare itu adalah danau air tawar bernama Telaga Lele. Tepi pulau itu berdinding dan bergua. Separonya lebat oleh rimbun hutan tropis. Beberapa bagian hutan tropis di kawasan hutan sekitar Telaga Lele itu kini terbabat habis. Hal itu baru diketahui baru-baru ini.

Ceritanya? pada awal oktober 1998, seorang anggota MPAJS mengantarkan temannya melihat keindahan Pulau Sempu. Alangkah kagetnya dia ketika melihat bekas barak-barak sementara (bivak) militer di situ. Ia melaporkan temuan terebut. Kelompok anak muda calon guru tersebut segera membentuk tim investigasi. Tiga kali mereka melakukan survei ke sana.

Investigasi pertama dilakukan pada 27 November 1998. Mereka menyusuri Telaga Lele mencari bekas-bekas bivak tentara. Ternyata, mereka menemukan coretan-coretan vandalis di kulit batang-batang kayu di sanasini. Tertera di situ grafiti kebanggaan korp: Linud 18. Lalu, di sana-sini juga terdapat serakan sampah militer, antara lain sepatu. jaket doreng, kotak peluru, dan selongsong peluru. Karena hasil investigasi dianggap belum cukup, penyusuran dilanjutkan.

Betapa kagetnya mereka, kini yang tampak adalah bukti-bukti baru kerusakan ekosistem pulau. Mereka mendapatkan kayu-kayu yang sudah ditebang dan digergaji. Selain itu, juga ada tengkorak binatang mamalia, seperti kera.

Konferensi pers digelar. Terbentuklah kemudian Komunitas Peduli Sempu (KPS), militer yang melibatkan lembaga bantuan hukum dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. Agaknya, itu membuat gusar Pangdam V Brawijaya waktu itu, Mayjen Djoko Subroto, sehingga ia meninjau sendiri kawasan tersebut.

Sehari setelah kunjungan Djoko, KPS melakukan investigasi lanjutan. Alangkah terkejutnya mereka karena semua sampah yang pemah mereka temukan sudah bersih sama sekali. Toh, mereka tak bisa ditipu. Mereka pun menggali. Ternyata, sampah-sampah itu berusaha dihilangkan jejaknya dengan dipendam.

* Bukan Pakistan

Pihak militer sendiri ternyata cukup jujur. Panglima Divisi II Kostrad di Singosari, Mayjen William Theodorus da Costa, seperti dikutip Malang Pos, mengakui latihan militer sudah berlangsung sejak tahun 1970, khususnya oleh Brigif Linud 18 Kostrad. Jadwal latihan militer: setahun sekali dengan waktu tinggal 1-2 minggu. Jadwal latihan terakhir berlangsung antara 25 September dan 2 Oktober 1998 lalu oleh 231 pasukan.

Latihan itu merupakan tradisi prajurit Trisula, meliputi kompas rawa atau navigasi dan berenang menggunakan ponco. Begitu seringnya Brigif Linud 18 Kostrad mengadakan latihan di sana, sampai-sampai penduduk di sekitar kawasan Sempu sudah biasa menyebut pulau itu sebagai “pulau Brigif”. Warga setempat bahkan bisa menaksir jumlah pasukan setiap latihan, yaitu rata-rata 400 prajurit.

Tapi, Theodorus da Costa menampik tuduhan perusakan ekosistem. Penggunaan Pulau Sempu untuk latihan itu, menurut dia, sudah memperoleh izin dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Selama puluhan tahun BKSDA tidak mempermasalahkan hal tersebut. Latihan itu bukan liar. Justru, menurut dia, sembari latihan mereka memelihara dan melestarikan cagar alam. Logikanya, menurut Theodorus, bila 28 tahun pasukannya melakukan perusakan lingkungan, tentunya Pulau Sempu sekarang sudah hancur total. Dan di hadapan mata sekarang toh kawasan itu sehat-sehat saja. “Kami tidak pernah menembak binatang atau menebang pohon-pohon di sana. Kalaupun menebang pohon, itu pun yang kecil-kecil, hanya untuk membuat bivak dan para-para,” katanya.

Pendapat senada juga dilontarkan Kapendam V/Brawijaya, Letkol Djoko Agus. Ia menyangsikan adanya kerusakan ekosistem. Sebab, tradisi latihan militer Indonesia tidak akan melakukan seperti itu. Tidak mungkin militer membabati kayu-kayu besar. Ia menduga tindakan itu dilakukan penduduk yang membikin perahu, karena kayu di sana bagus untuk bahan perahu. “Tak ada limbah militer. Bukan maksud saya mengecilkan militer Indonesia, latihan militer kita itu konvensional saja. Kita kan belum seperti Pakistan yang mengangkut dan meledakkan nuklir secara selamat,” kata mantan Dandim Bojonegoro itu. Dia juga membantah bahwa peluru berceceran di sana. Sebab, seluruh keamanan pengangkutan amunisi selalu melalui prosedur keamanan ketat.

Lalu, mengapa Kostrad harus latihan di Pulau Sempu? Menurut Letkol Djoko Agus, itu karena sesuai dengan spesifikasi latihan satuan ini, seperti halnya Gunung Lamong Lumajang yang cocok bagi latihan perang dan patroli Kodam. Di Gunung Lumajang ada jalan kecil dan lekuk gunung. Akan halnya Pulau Sempu, tutur Kapendam Djoko, bagus untuk latihan Kostrad yang harus menguasai dua medan–air dan darat–karena letak medan air dan darat di Pulau Sempu itu tidak terlalu jauh, seperti halnya selat Madura. Djoko mengatakan, dulu sebelum kedatangan militer, wilayah Pulau Sempu masih kering lahannya. Justru ketika Kostrad datang pada tahun 1970-an itulah kemudian ditanami sehingga menjadi rimbun seperti sekarang.

Namun, faktanya: latihan itu menyalahi UU No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dan UU No 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sebab, menurut kepala BKSDA Unit II Jawa Timur Ir. Ruslan Effendi, cagar alam hanya hisa digunakan untuk penelitian, pendidikan, serta peningkatan budaya, tidak untuk lainnya. Siapa pun yang melanggar, dengan sengaja atau tidak sengaja, dikategorikan melakukan tindak pidana. Itu termasuk tindak pidana lingkungan (eco crime).

Pakar hukum lingkungan Prof. Koesnadi Harjosoemantri, meski tidak mau berkomentar karena belum memiliki data lengkap, kepada D&R mengatakan sepakat bahwa penggunaan hutan lindung sebagai lokasi latihan militer jelas tidak diperbolehkan. “Setahu saya, ABRI kan punya tempat latihan sendiri,” katanya.

Akan halnya Ruslan, ia menyatakan selamaini BKSDA pusat tidak pernah mengeluarkan izin. Nah, tentunya dalam hal ini Sub-BKSDA Jember yang mewilayahi Nusa Barong dan Cagar Alam Pulau Sempu patut ditanyai karena merekalah yang memberi izin. Hingga kini D&R belum bisa meminta konfirmasi pihak mereka, karena Suprapto Adi Pranoto, Kepala BKSDA Jeber, sibuk terus mengikuti rapat dinas di Magetan. Rapat atau berkelit?

Seno Joko Suyono/Suma Atmaja (Malang), Abdul Manan (Surabaya), dan Ahmad Nur sobirin (Jakarta)

D&R, Edisi 990125-024/Hal. 42 Rubrik Lingkungan



Pergulatan Menantang Zaman
January 18, 1999, 4:25 pm
Filed under: Other
Pesantren selalu tumbuh dan tidak ada cerita tutup. Mengapa tetap bertahan, dan apa sebenarnya yang dilakukan?

KRISMON atau tak krismon pesantren jalan terus. Dari lebih 9.000 pesantren rasanya belum pernah terdengar cerita tutup atau bangkrut. Dari sisi kepemimpinan pun pesantren tak pernah kering: ketika kiainya meninggal, generasi berikutnya sudah disiapkan mengemban tugas. Bagaimana ini semua dijaga?

Ini sebuah contoh. Ketika KH. Zarkasyi dan KH. Sahal, dua pemimpin Pesantren Gontor, meninggal pada tahun 1970-an, putra-putra beliau langsung menggantikannya, dan Gontor pun berkembang. Kini, sekitar 100 pesantren di Jawa dan luar Jawapunya hubungan dengm Gontor. Sekarang, pesantren yang telah menjadi “holding ” ini dipimpin KH. Abdullah Syukri Zarkasyi.

Ketika sekolah modern berkembang dan bertambah banyak, pesantren ternyata tak terpengaruh: tetapi dibanjiri para calon santri. Ada yang beruhah rnernang, cap bahwa pendidikan di pesantren itu “kuno dan dusun” pelan-pelan terkikis oleh perkembangan zaman. Pesantren pun menjadi pilihan setelah sejumlah nama dari pesantren mencuat di pentas nasional. Sebut saja Prof: Dr. Quraish Shihab, K.H. Abdurrahman Wahid, Dr. Nurcholis Madjid, Dr. Dien Samsuddin, umpamanya.

Berikut, safari sejumlah wartawan D&R dari pesantren ke pesantren.

* Pesantren di Tengah Kota

Di Jakarta, sejak tahun 1960-an sudah ada tiga pesantren yang dikelola dan dibesarkan oleh ulama Betawi sendiri Pertama, Pesantren Asyafi’iyyah di Balimatraman, Manggarai, Jakarta Selatan, didirikan K.H. Abdulah Syafi’i, ayah Dra. Hj. Tuty Alawiyah, Menteri Negara Urusan Peranan Wanita sekarang. Lalu, Aththahiriyah di Kampungmelayu, Jakarta Timur, didirikan K.H. Thahir Rahili. Dan ketiga, Pesantren Al Ashiratus Syafi’iyyah, Kampungdukuh, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, didirikan K.H. Syafi’i E ladzami, Ketua Majelis Ulama Indonesia DKI Jaya Ibu Kota pun menambah pesantrennya ketika sejumlah santri Betawi pulang dari Gontor dan lain-lain. Mereka mendirikan pesantren-pesantren baru, misalnya Darun Najah di Ulujami, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan; Darul Rahman di Jalan Senopati, Jakarta Selatan, yang dipimpin K.H. Syukron Makmun; lalu Darul Maarif yang didirikan K.H. Dr. Idham Chalid; Pesantren Alhusnayan yang didirikan K.H. Chalil Ridwan, dan; sebagainya.

Akibatnya, mau tak mau, terjadilah persaingan. Aththahiriyah, misalnya, kini hanya menampung sekitar 100 santri menetap yang berasal dari luar Jakarta. “Sekitar 30 persen santri dari luar Jakarta, seperti Madura, Jambi, Riau, Bengkulu, dan Timor Timur,” kata Hj . Maisaroh Madsuni, wakil pimpinan pesantren yang kini dipimpin mubaligah terkenal Hj. Dra. Suryani Thaher itu. “Prinsip kami bertahan saja. Tempatnya juga terbatas,” kata Maisaroh. Pesantren yang memungut Rp 120.000 all in untuk santri yang mondok ini mengandalkan nama besar pendirinya, mantan anggota DPR, serta para pengasuhnya yang lulusan Al Azhar, Mesir. Pendatang baru yang berkembang pesat adalah Ashiddiqiyah. Pesantren ini menerapkan dua konsep: tradisional dan sekaligus modern. Tradisional, dengan ciri mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik dan penekanan ubudiyah, seperti kaharusan tahajud tiap malam. Sementara itu, ciri modern terlihat dalam sistem pendidikannya serta pembiasaan santri menggunakan bahasa Arab dan Inggris.

Bisa dibilang, Ashiddiqiyah yang didirikan di tahun 1985 itu kini menjadi pesantren bergengsi dan terbesar di Jakarta. Jumlah santri sekitar 6.000, belum terhitung santri di cabang-cabang: Batuceper, Karawang, Setu Tangerang, Cijeruk Bogor, dan Purwakarta.

Yang unik, cabang-cabang Ashiddiqiyah punya kekhasannya sendiri. Pesantren di Setu, misalnya, dikhususkan untuk pengajaran kitab salaf. Tidak ada sekolah. Pesantren di Purwakarta yang luas tanahnya 100 hektare akan digunakan untuk pesantren agrobisnis. Sementara itu, cabang yang di Karawang akan dikembangkan menjadi pusat pendidikan yang lebih kompleks lagi. Santri pun tidak hanya datang dari sekitar Jakarta, tapi juga dari Malaysia dan Singapura. Tak terbilang sudah lulusan Ashiddiqiyah yang tertampung di berbagai perguruan tinggi negeri maupun luar negeri, seperti Al Azhar, Mesir. “Ini berkat sistem dan metodologi yang terencana dengan baik,” kata K.H. Noer Muhamad Iskandar, S.Q., pemimpin dan pendiri pondok pesantren itu.

Untuk sebuah pendidikan di Jakarta, Ashiddiqiyah termasuk murah. Sebulan, seorang santri hanya dikenakan Rp 125.000. Itu sudah termasuk makan, sekolah, serta asrama. “Kalau lebih dari itu, kasihan mereka. Saya harus pintar-pintar mencari peluang di luar,” kata Noer. Caranya, ia mengaku mendapat bantuan dari kawan-kawan. Bantuan pemerintah? Pesantren yang pernah menjadi tuan rumah Muktamar Rabithah Ma’ahidil Islamiyah tahun 1994 dan dihadiri Presiden, hampir-hampir Lak pernah menerima apa pun dari pemerintah.

Sebagai pesantren kota, Ashiddiqiyah punya pengalaman unik. Misalnya, tutur Kiai Noer, suatu hari datang satu keluarga dengan komposisi pakaian yang unik. “Anaknya berkerudung, bapaknya pakai celana pendek, ibunya pakai hot pan, ” katanya. “Kami juga menghadapi anak-anak pejabat yang terbiasa dengan disiplin yang kendur di rumah. Ketika menghadapi disiplin pondok, mereka kaget.”

Berkembangnya Pesantren Ashiddiqiyah tak bisa lepas dari manajeman yang diterapkan oleh Kiai Noer. Ia sukses membawa nama pesantren hingga koperasi pesantren ke pentas nasional. Dan untuk itu, tahun lalu Kiai Noer memperoleh gelar doktor honoris causa dari American University dalam bidang manajemen pendidikan dan koperasi. Tentang andil besar kiai untuk popularitas pesantrennya, tampaknya relatif. Kiai Noer bercerita, ada pesantren didirikan oleh seorang tokoh, ulama kondang, toh tak berkembang juga sampai sekarang.

Adapun Kiai Noer menyadari benar bahwa pangsa pasar sebuah pesantren adalah masyarakat yang heterogen. “Karena itu, saya harus banyak melakukan hubungan dengan berbagai lapisan masyarakat untuk bisa memahami keinginan mereka, sehingga kondisi pondok juga harus disesuaikan dengan pangsa pasar,” tuturnya mengenai kiat Ashiddiqiyah menjaring santri.

Di luar itu, yang juga diangap penting oleh kiai satu ini adalah soal meningkatkan kualitas dan menciptakan image. Lalu lanjutnya, “Saya ingin agar pondok pesantren tidak dimarginalkan, baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakatnya sendiri. Dan, saya harus melakukan pendekatan-pendekatan tidak hanya edukatif, tapi juga struggle mission.”

* Pesantren untuk Mujahadah

Sekitar 900 km di timur Jakarta, di ibu kota Jawa Timur, pesantren kota juga berkembang. Pondok Raudhotul Muta’allimin (atau Taman Para Santri) di Surabaya tergolong memiliki ciri khas. Santrinya selalu mengenakan jubah serta peci putih. Wajah mereka, konon, selalu memantul sinar bersih. Pesantren yang terletak di atas tanah kurang dari satu hektare dan berada di tengah permukiman penduduk yang sangat padat ini kini diasuh K.Hr Minanul Rahman, salah seorang putra K.H. Usman Ishaqi (almarhum), pendirinya.

Ketika Kiai Usman yang digelari Syekh Usman Nadi Al Ishaqi pada tahun 1951 mendirikan pesantren ini, santrinya hanyalah warga sekitar yang kebanyakan orang Madura. Baru heberapa tahun kemudian, berdatangan sanlri dari luar. Tapi, sampai sekarang, sebagian besar santri tetap berasal dari Pulau Garam.

Pesantren ini memang sangat khas, khususnya dengan kegiatan pendekatan diri kepada Allah (mujahadah). Ini pantas, karena Kiai Usman adalah mursyid (pemandu) Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah. Di sini sudah sangal biasa santri membaca manaqib (riwayat hidup) Syekh Abdul Qadir Aljailani, tokoh sufi asal Irak yang masih keturunan Nabi Muhammad. Manaqib itu tersusun dalam karya Syekh Albarzanji dalam bukunya yang sangat terkenal Allujaynud Dani. Bahkan, banyak di antara santri pesantren ini yang hafal luar kepala. Manaqib ini tak asing di lingkungan Nahdlatul Ulama yang biasa dibaca tiap bulan, malam 11 kalender Hijriah. Tujuannya untuk mencari berkah dari sultanul awliya (sultan para wali) itu. Karena itu, dengan kewajiban seperti itu, calon santri di pesantren kota ini seperti terbatasi dengan sendirinya.

“Jumlah santri hanya sekitar 600 orang,” kata Kiai Minan. Tapi, jalur tradisional dipilih Kiai Usman bukannya tanpa alasan. Pilihan itu untuk semacam membagi lahan dengan pesantren lain yang sejak tahun 1960an membuka diri dengan mata pelajaran umum dan mengarah pada pondok modern.

Biar Taman Para Santri hanya mampu menyediakan sekolah ibtidaiah (setara SD), sampai kelas 6, mengingat luas lahan yang dimiliki, kulitas belajar-mengajar dipertahankan. “Kitab yang dikaji selalu berganti-ganti. Begitu satu kitab selesai, diganti kitab yang baru. Dalam fikih, misalnya, ada ribuan kitab. Kitab hadis juga begitu,” kata Kiai Minan. Kiai ini selalu menganjurkan agar santrinya melanjutkan ke tempat lain.

Keunikan lain pesantren ini adalah profil santrinya yang 90 persen dari keluarga tidak mampu. Ada keluarga tukang becak, tukang ojek, pedagang kecil di pasar. Itulah agaknya yang membuat Kiai Minan tak ingin ngoyo membangun. Di sini tak ada iuran bulanan yang wajib. Juga, tak dikenal uang pangkal. “Asalkan anak mau mengaji, itu sudah untung. Agama itu jangan dikomersialkan. Begitu pesan ayah saya.”

Memang ada iuran santri. Menurut seorang santri, tiap bulan dia membayar iuran pesantren sebesar Rp 5.000 (Rp 2.000 untuk uang sekolah madrasah, dan Rp 3.000 untuk listrik). Selebihnya tidak ada. Hanya, jika pesantren memiliki perhelatan, otomatis santri ikut mendukung dengan dana. Misalnya, untuk acara haul K:H. Usman dan ulang tahun pesantren. Dana itu pun tak banyak, tahun ini hanya Rp 5.000.

Dalam hal “ketradisionalan”-nya, Raudhotul Muta’allimin hanya diimbangi Pesantren Salafiyah di Pasuruan, masih di Jawa Timur. Di Salafiyah, kegiatan santri tercatat sejak subuh: mengaji, sekolah, salat, serta melakukan mujahadah. Otomatis, kegiatan itu menciptakan suasana khusyuk.

Juga di malam hari, selepas isya, ketika acara membaca managib, gemuruh yang terdengar adalah keramaian yang syahdu. Khusus hari Senin, acara lepas isya itu diisi dengan pembacaan burdah (puji-pujian untuk Nabi Muhammad S.A.W., yang ditulis oleh Imam Albushiri). Kamis malam diisi pembacaan tahlil. Salat berjamaah menjadi kewajiban di sini. Setiap akan salat, santri diabsen oleh ustadnya secara ketat.

Soal baju jubah putih yang selalu dikenakan santrinya itu tak lain untuk mendisplinkan santri pada baju yang dikenakan Rasulullah. Itu pun hanya diwajibkan untuk salat, atau kegiatan pesantren. “Warna putih itu enak dipandang,” komentar Kiai Minan.

Seperti layaknya pesantren lain, di sini peraturan juga berlaku ketat. Izin keluar pesantren hanya diberikan pada hari Jumat, yang biasanya digunakan untuk salat Jumat di Masjid Ampel, yang jaraknya tak sampai satu kilometer. Mereka harus kembali paling lambat pukul 14.00. Untuk keperluan lain, tidak ada toleransi. Sebab, semua kebutuhan sehari-hari santri sudah tersedia di areal pesantren, mulai warung makan, wartel, hingga toko buku.

* Dibangun oleh Santri Sendiri

Nun di provinsi sisi barat, adalah pesantren kuno yang hampir seabad usianya. Pesantren Almusthafawiyah sangat dikenal di Sumatra Utara karena lulusannya yang telah menyebar ke mana-mana. Pesantren ini didirikan Syekh Musthafa Husein Nasution, di Desa Purbabaru, Kecamatan Kotanopan, Tapanuli Selatan, sekitar 12 jam perjalanan dari Medan. Di lahan seluas 10 hektare itu saat ini dihuni sekitar 6.000 santri. Tercatat asal santri antara lain Malaysia dan Singapura. Di bulan Ramadan ini pesantren libur panjang.

Syekh Musthafa, sang pendiri, yang belajar ilmu agama selama 13 tahun di Makkah itu meninggal pada November 1955. Pimpinan pesantren berpindah kepada anak lelaki tertuanya, H. Abdullah Musthafa. Warisan yang ditinggalkan hanya satu unit bangunan papan dengan enam ruangan kelasnya.

Ternyata, jumlah santri yang ingin memperdalam ilmu agama semakin meningkat dari tahun ke tahun, apalagi Almusthafawiyah mulai menerima santriwati. Karena itu, Haji Abdullah Musthafa pun membeli tanah di lokasi Kampung Tengah Purbabaru dan membangun tiga ruang belajar darurat. Ruang belajar itu hanya berdinding bambu, beratap rumbia, dan berlantai tanah. “Herannya, jumlah santri yang ingin belajar bukannya tambah surut malah bertambah banyak,” tutur Hajjah Zahara Hanum Lubis, istri H. Abdullah Musthafa Nasution (almarhum) yang mengelola asrama putri.

Pada tahun 1960 dibangun lagi satu unit gedung dengan sepuluh ruang belajar. Kali ini bangunannya sudah semipermanen. Pada tahun 1962, ruang belajar yang dibangun dari sumbangan para orang tua santri berupa sekeping papan dan selembar seng setiap orangnya ditambah tabungan H. Abdullah Musthafa Nasution itu selesai. Bangunan ini diresmikan Jenderal Purnawirawan Abdul Haris Nasution.

H. Abdullah Musthafa meninggalkan sejumlah aset pesantren berupa bangunan megah, tempat 6.000 orang santri dan santriwati menuntut ilmu. Pesantren Musthafawiyah yang lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Purbabaru itu kini memiliki banyak fasilitas, antara lain tiga unit gedung belajar dengan masing-masing 16 ruang belajar yang terletak di lokasi tengah yang sebagian dananya dari bantuan masyarakat dan Pemda Tapanuli Selatan, satu unit asrama putri berlantai dua dengan 20 kamar yang masing-masing dihuni sedikitnya 60 orang santriwati, satu unit warung serba ada yang dikelola para santri, dua unit rumah pegawai, dan sebagaunya.

Di lahan enam hektare ini, para santri dilatih kemandiriannya dengan membangun pondok tempat tinggal mereka. Ribuan pondok yang terhampar di Desa Purbabaru ini menjadi pemandangan unik di jalan lintas Sumatra. Ada yang merupakan bangun sederhana dengan atap rumbia dan dinding papan, tapi ada juga yang membangun dengan model mutakhir, bahkan tak sedikit yang bertingkat dua atau tiga. Yang menarik, walau mereka bangun dengan model mutakhir, tetap dengan penerangan lampu sumbu dan beralaskan tikar pandan. Bukannya mereka tak sanggup membeli, tapi soal kepraktisan saja. Para santri tidak mau repot harus membawa-bawa seluruh harta bendanya saat liburan panjang. Sebab, ketika liburan, seluruh pondok dibiarkan terbuka takterkunci.

Untuk mendapatkan pondok tidak gratis. Ada sistem sewa kapling dengan membayar dua tabung beras per semesternya (satu tabung beras sama dengan empat kilogram) untuk setiap santri. Dan pembayaran itu diberikan kepada penduduk yang memiliki tanah. Sewa kapling tanah itu dilakukan karenajumlah pondok yang berdiri sudah melebihi areal yang enam hektare itu. Tetapi, banyak juga santri baru yang tidak membangun pondok; mereka membeli dari santri yang lulus.

Hal lain yang kerap menjadi perhatian adalah bila mereka sedang mandi di Sungai Batang Gadis yang terhampar mengelilingi ribuan pondok tersebut. Maka, jubah-jubah mereka yang putih itu pun mulai memenuhi batu-batu sungai. Tapi, itu pula yang menjadi kebahagiaan tersendiri buat para santri. Hidup bersama alam dan kemandirian.

Berbeda dengan para santri putra yang hidup dalam kemandirian, santri putri harus tinggal di asrama. Mereka justru tidak pernah memasak makanan sendiri. Namun, menurut Hj. Zahara Hanum, dengan kondisi saat ini, pihak asrama tidak dapat lagi memenuhinya. Saat ini setiap penghuni asrama putri diwajibkan membayar 4,5 tabung beras setiap bulan (sama dengan 18 kilogram beras), dan memasak sendiri. “Untuk lauknya mereka membeli,” kata Hj. Zahara yang berjanji jika keadaan ekonomi sudah agak membaik, para santri tak perlu lagi membeli lauk. “Kasihan mereka,” katanya.

Tapi sebenarnya, para santri putri punya peluang mendapatkan uang. Di asrama mereka memperoleh banyak keterampilan dari menyulam taplak meja hingga menjahit dan membordir mukena. Produk itu dijual ketika mereka kembali ke kampung halaman atau kepada penduduk setempat.

Uang pendidikan di pesantren hanya Rp 7.500, itu sudah termasuk uang asrama, bagi santri wanita. Bila ada saudaranya menjadi santri, ada hitungan lain. Anak tertua dikenakan biaya penuh, sedangkan anak kedua mendapat potongan separonya, menjadi Rp 3.750. Jika ada adiknya lagi, tidak dikenakan biaya lagi. Gratis juga dikenakan pada santri anak guru dan yatim piatu. Tapi, biaya makan dihitung sendiri.

Lama pendidikan di sini tujuh tahun, dari kelas satu sampai kelas tujuh. Setahun pertama digunakan untuk pengenalan Alquran dan belajar memhaca ejaan Arab yang merupakan bahasa wajib di pesantren ini. Jumlah staf pengajar tercatat 150 orang, berasal dari berbagai pendidikan di luar negeri, khususnya dari Kairo, India, dan Makkah. Jumlah staf pengajar itu tentu tidak sepadan dengan jumlah santri yang ribuan. Untuk itu Departemen P dan K Sumatra Utara menempatkan gurunya di sana. “Mereka harus alumni IAIN serta mampu berbahasa Arab,” Zahara menjelaskan.

Hanya, karena besarnya biaya pengelolaan yang tidak sebanding dengan jumlah uang yang diterima dari para santri, itu menyebabkan pesantren Al-Musthafawiyah masih mendapatkan subsidi dari Pemda Tingkat II Tapanuli Selatan.

* Pesantren Tua di Kediri

Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, juga merupakan wajah pesantren tradisional yang sangat terkenal. Pesantren yang didirikan K.H. Ahdul Karim, pada tahun 1910 M itu memanfaatkan tanah seluas 11,05 hektare, di Mojoroto, Kodya Kediri. Dengan jumlah santri mencapai 7.600 santri, tak pelak jika pesantren ini termasuk salah satu pesantren besar. Pesantren ini tercatat membesar setelah dipimpin duet K.H. Marzuki dan K.H. Machrus Ali. Kiai Marzuki mengasuh urusan dalam pesantren, sedangkan Kiai Machrus bertindak sebagai public relation.

Kini, pesantren ini dipimpin trio ulama dengan masing-masing memiliki kelebihan. K.H. Idris Marzuki, sebagai sesepuh yang mengurus dalam pesantren, dibantu K.H. Imam Machrus. Lalu, K.H. Ma’shum Jauhari banyak bergerak di luar pesantren.

Pesantren ini di samping memiliki lembaga pendidikan nonformal (salaf), juga memiliki beberapa madrasah. Antara lain, madrasah persiapan (i’dadiyah), Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) yang terdiri dari madrasah ibtidaiah (6 tahun), madrasah tsanawiyah (3 tahun), madrasah aliyah (3 tahun), dan Madrasah Murottilil Quran (MMQ). Lirboyo juga punya lembaga pendidikan formal, yang berada di bawah naungan Yayasan Tribakti, dari TK, tsanawiyah, aliyah, hingga Institut Agama Islam (IAI) Tribakti. Letak perguruan itu agaknya dari lingkungan pesantren.

Asrama santri di Lirboyo cukup sederhana. Model dan letak bangunannya tidak teratur sehingga terkesan semrawut. Hanya asrama yang dibangun belakangan ini yang dibangun bagus. Menurut Jamaluddin Nawawi, Bagian Penerangan Pesantren, beberapa kamar yang luasnya hanya 1 kali 1. meter hanya dipakai untuk menyimpan kopor. Untuk tidur, para santri memanfaatkan masjid, dan ruang-ruang lain.

Di sini santri dikelompokkan berdasarkan asal daerah–menurut Jamaluddin agar mereka mudah betah. Di pesantren ini semua kebutuhan santri terpenuhi. Di pesantren ada toko kelontong, warung, hingga wartel. Karena itu, santri “diharamkan” keluar pesantren. Jangan coba-coba nekat keluar malam jika tak ingin ditakzir (hukum) gundul dan disiram air comberan. “Biar jera,” kata salah seorang santri. Dan kalau ada yang ketahuan pacaran, diusir. Mereka dilarang membawa majalah dan radio. Yang berusia di bawah 20 tahun dilarang merokok.

Menurut K.H. Ma’shum Jauhari, salah seorang pengasuh Pesantren Lirboyo, salah satu kelebihan pesantren ini adalah para pembinaan akhlak. “Dalam mencetak kader yang berkarakter (caracter building), itu hanya didapat di pesantren-pesantren salafiyah,” katanya Kelebihan lain, pendidikan kemasyarakatan Karena itu, kata kiai yang jago silat ini, pesantren tak pernah takut berhadapan dengan masa depannya. “Di Pondok juga diajarkan tentang hortikultura, peternakan, dan ketrampilan lain, termasuk menjahit, secara komplet.”

Pendidikan komplet, mungkin itulah penyebab pondok pesantren seperti tak lekang ditimpa panas, tak lapuk ditimpa debu

M.H./Laporan: Edrin Adriansyah (Medan), Multa Fidrus, Budi Nugroho (Jakarta), Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 990118-023/Hal. 17 Rubrik Liputan Utama



Dewa Penolong Menjelang Lebaran
January 18, 1999, 9:51 am
Filed under: Other
Menjelang Lebaran, kantor-kantor Pegadaian diserbu nasabah. Ada yang menggadaikan barang, ada yang menebus perhiasan untuk dipakai pada saat Lebaran.

KANTOR Pegadaian Medan diserbu nasabah. Pemandangan ini memang sudah lama terjadi, terutama sejak krisis moneter. “Dan menjelang Lebaran tahun ini,” ujar seorang petugas satuan pengamanan instansi di bawah Departemen Keuangan itu. Serbuan serupa juga terjadi di Kantor Pegadaian Semarang. Kantor itu justru menerima uang tebusan sampai Rp 1,2 miliar menjelang Lebaran. “Mereka terutama adalah nasabah wanita. Mungkin, mereka ingin mengenakan perhiasannya di saat Lebaran,” ujar Eddy Suprijoso, Kepala Kantor Daerah III Perum Pegadaian Semarang.

Kecenderungan semacam itu juga terjadi di Jakarta. Persentase penebus justru lebih hanyak dibandingkan penggadai. Barang yang ditebus berupa perhiasan emas. Menurut Deddy Kusdedi, Direktur Operasional dan Pengembangan Perum Pegadaian, hal seperti itu juga terjadi pada bulan puasa tahun lalu. “Mereka menebus perhiasan emas, membawa ke kampung halaman, lalu mempergunakannya pada saat Lebaran untuk memamerkan hasil usaha di perantauan. Mereka akan menggadaikan kembali perhiasannya ke Pegadaian sesudah Lebaran,” kata Deddy.

Pun di Surabaya, menurut Istiono, Kepala Cabang Pegadaian Dinoyo, di saat menjelang Lebaran buku kredit yang meningkat, tapi jumlah tebusan gadai berupa perhiasan emas tadi. “Mungkin untuk mejeng. Pokoknya, bisa Lebaran,” ujarnya.

Kendati banyak yang menebus, bukan berarti jumlah nasabah yang menggadaikan barang menurun. Banyak nasabah yang berdatangan menjelang Lebaran ini. Misalnya, Hardjo, penduduk Gamping, Yogyakarta, menggadaikan perhiasan emas seberat dua gram untuk membelikan anaknya sepotong baju buat Lebaran.

Kehadiran Pegadaian sejak 1901 benar-benar seperti kehadiran seorang sahabat. Pegadaian makin tak terpisahkan dari masyarakat setelah krisis ekonomi menerpa kita. Akibatnya, laba Pegadaian pada 1998–berdasarkan perhitungan sementara–tercatat Rp 28 miliar, sedangkan sebelumnya hanya mencapai Rp 19 miliar.

* Memuaskan

Rudi Syafei, seorang kontraktor kecil-kecilan, mempunyai pengalaman baik. Rudi sering membutuhkan uang mendadak untuk membiayai operasional perusahaannya. “Di bank, enggak bisa cepat begini. Saya butuh hari ini juga, lalu mengembalikan dua hari kemudian setelah uang tagihan dikirim perusahaan pengutang,” katanya.

Kepuasan semacam itu membuat nasabah Pegadaian terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 1996, nasabah yang mendatangi 635 kantor cabang Pegadaian seluruh Indonesia mencapai 3,9 juta orang. Setahun berikutnya meningkat menjadi 4,6 juta orang. Dan sepanjang tahun krisis ekonomi 1998, jumlahnya membengkak sebesar 9,1 juta orang.

Memang, dampak krisis ekonomi yang memurukkan lndonesia ke negara miskin sangat luar biasa bagi Pegadaian. Selama 1998 omzet Pegadaian berkembang melampaui target Rp 2,5 triliun, yaitu Rp 3,1 triliun. Lonjakan omzet Pegadaian sebanyak Rp 600 miliar ini terjadi di daerah-daerah industri. Masyarakat pedesaan pun ikut memanfaatkan jasa Pegadaian sebagai alternatif pembiayaan di luar pebankan. Bahkan, tidak sedikit anggota masyarakat yang memandang Pegadaian sebagai dewa penolong.

Akibatnya, menurut Deddy Kusdedi, Pegadaian sampai kehabisan modal kerja akhir tahun lalu, sehingga Bank Indonesia (BI) harus menyuntikkan modal kerja sebesar Rp ] 50 miliar. Tapi, apa lacur? Dana dari BI itu langsung habis tersedot untuk keperluan Natal dan Tahun Baru kemarin.

Hampir semua cabang Pegadaian mengaku kewalahan karena ledakan permintaan nasabah. Selain itu, Pegadaian juga memiliki keterbatasan dalam memenuhi permintaan nasabah itu karena persoalan permodalan. “Kami terpaksa melakukan pembatasan pinjaman hanya sebesar Rp 1 juta sejak Desember lalu,” kata Deddy.

Sebelumnya, Agustus 1998, pinjaman sudah dibatasi dari Rp 5 juta menjadi Rp 2,5 juta. Padahal, sewaktu ekonomi masih normal, nasabah boleh meminjam sampai Rp 20 juta. “Tapi, nasabah juga pintar. Mereka banyak yang mengurangi barang agunannya, seperti perhiasan dipreteli dulu, supaya bisa diagunkan sendiri-sendiri dan dapat uang lebih banyak,” tutur Deddy.

FHR/Laporan Mohammad Subroto (Jakarta), J. Anto (Medan), Prasetya (Yogya), Koresponden Semarang dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 990118-023/Hal. 59 Rubrik Bisnis & Ekonomi



MUDIK, Aman dalam Tanda Kutip
January 18, 1999, 8:12 am
Filed under: Other
Kepolisian mengerahkan personelnya habis-habisan, tapi taka ada jaminan mudik aman seratus persen.

SEORANG penumpang kereta api tewas. Lemparan batu dari luar, memecahkan kaca jendela kereta, lalu menghantam kepala penumpang tersebut. Ini cerita sedih, juga sebuah peringatan buat para pemudik lebaran dengan kereta hari-hari ini. Ada usul, dari karikaturis D&R, Bung Priyanto, para pemudik dengan kereta api silakan memakai helm, menjaga kepala dari batu yang tak diundang, dan tentu tanpa karcis (lihat karikatur).

Mudik, tahun ini, berbeda dengan tahun-tahun lalu memang bermasalah. Justru, di masa yang disebut sebagai reformasi, mudik tidak aman –baik dengan kereta, bus, apalagi kendaraan pribadi. Bahkan, dengan angkutan laut pun, kabarnya di pelabuhannya banyak pemalak yang siap minta uang dengan ancaman.

Tapi, di zaman hak-hak asasi manusia mulai diperhatikan, melarang orang mudik tentu saja bertentangan dengan hak itu. Juga, salah-salah bisa dituduh melecehkan agama; bukankah mudik bagian dari Idul Fitri, untuk ketemu keluarga di kampung dan bermaaf-maafan?

Bijaksanalah F.X. Sunarno dari Direktorat Lalu Lintas Ke-polisian Daerah Jawa Timur. Ia punya tiga nasihat untuk para sopir truk yang sering bolak-balik mengangkut barang antarkota, dan nasihat ini berlaku juga buat para pemudik lebaran.

Pertama, jangan mudik sendirian. Kedua, pada waktu istirahat di jalan, hendaknya juga bersama rombongan. Ketiga, hati-hati menerima tumpangan.

Memang, laporan berbagai media massa tentang keamanan jalan darat di sepanjang pantai utara dan selatan Jawa begitu menggentarkan. Seorang bapak yang pekan lalu berkendaraan pribadi dari Surabaya ke Jakarta, harus mengikhlaskan sekitar Rp 200.000 untuk para pemalak sepanjang jalan pantai utara. Ia masih terhiutng untung. Menurut kabar, beberapa orang malah dirampas mobilnya.

Lo, bukankah pihak kepolisian sudah menjamin keamanan, bahkan sudah ada instruksi tembak di tempat terhadap para pelaku kejahatan jika memang kondisi memaksa? Begitu tanya Anda yang ngebet mudik. Harap diketahui, yang harus dijaga adalah jalur mudik mulai dari Sumatra Selatan sampai ke ujung Ja-Tim. Nah, sudah jelas tak mungkin penjagaan ketat, karena jumlah aparat terbatas.

Dan menurut Kepala Dinas Penerangan Markas Besar Kepolisian RI Brigadir Jenderal Togar Sianipar, para penjahat itu tidak ngetem di satu tempat. Penjahat yang biasa beroperasi di Cirebon, Jawa Barat (Ja-Bar), sekali waktu bisa pindah ke wilayah Jawa Tengah (Ja-Teng).

Tapi sedikit ununglah, polisi tak hanya pasif. Kepolisian Daerah Ja-Teng melaporkan, sampai pekan lalu pihaknya sudah menangkap 56 pelaku kejahatan dan 30-an lagi masih menjadi tget operasi. Menurut identifikasi polisi, para penjahat itu sudah diorganisasi rapi dan terbagi dalam “regu-regu” lima sampai sepuluh orang. Mereka membawa telepon genggam dan handie-talkie. Beberapa di antara mereka bahkan dicurigai membawa senjata api.

Karena penjahat berpindah-pindah, informasi bahwa kejahatan sering terjadi di tempat-tempat tertentu, mungkin tak berguna. Tapi boleh juga dicatat, sekadar buat pegangan. Untuk Ja-Bar, yang rawan jalur Karawang, Cirebon, dan Tasikmalaya. Untuk Ja-Teng harus diwaspadai daerah Rembang, Juwana, Gombel, Kendal, dan Subah (Batang). Untuk Ja-Tim, daerah yang dianggap rawan adalah jalur Tuban-Lamongan-Gresik-Surabaya-Sidoarjo.

Mengantisipasi kondisi itu, Polda Ja-Teng mengatakan telah menerjunkan “pasukan siluman” di jalur pantai utara. Ini bukan pasukan jin, melainkan anggota polisi yang menyamar sebagai penumpang angkutan umum dan ditempatkan di berbagai daerah rawan kejahatan. Mereka dibekali perintah, jika perlu, melakukan tembak di tempat terhadap pelaku aksi kejahatan yang brutal di sepanjang jalur Losari (Brebes) sampai Blora.

* Iming-Iming

Itulah perintah Kepala Polda Ja-Teng Mayor Jenderal Nurfaizi, “Agar para penjahat jera, masyarakat tidak resah, dan pemudik merasa aman di perjalanan.” Kapolda itu menambahkan, sebenarnya jalur pantai utara di Ja-Teng relatif aman. Kejahatan yang banyak terjadi dan mencuat akhir-akhir ini lebih banyak berlangsung di Ja-Bar, sekitar perbatasan Brebes-Cirebon.

Benar? “Itu hanya berita di koran,” kata Istanto, Kepala Dinas Penerangan Polda Ja-Bar, kepada D&R. Ditambahkannya, kasus pembegalan dan pemalakan sebenarnya tidak banyak, tapi terlalu dibesar-besarkan media massa.

Tindakan kejahatan di jalur pantai utara dalam setengah tahun terakhir tercatat tak lebih dari 60 kasus. Berarti, tiap bulan “hanya” sepuluh kasus atau setiap tiga hari hanya satu kasus. Itu pun tidak seluruhnya murni pembegalan. Suara Pembaruan, mengutip Kepala Polda Ja-Bar Mayor Jenderal Chairuddin Ismail, menyinyalir dalam sebagian kasus yang pelakunya tertangkap, ada kerja sama antara sopir atau kernet dan pelaku pembegalan untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar.

Logikanya: jika pembegalan itu begitu banyak seperti diberitakan media massa, mengapa hanya sedikit kasus yang dilaporkan ke polisi. Sebagian pengemudi angkutan umum juga menduga, sebagian begal itu adalah bekas sopir juga sehingga mengenal jalur yang dilewati dengan baik.

Tapi, itu kan sebelum suasana mudik berlangsung. Bila sepanjang jalan antre kendaraan umum dan pribadi, dan sudah terang para pemudik diduga berbekal cukup uang, bukankah ini bagaikan gula mengundang semut?

Apalagi Istanto mengakui, kendala yang dihadapi polisi adalah jalur di daerah ini terlalu panjang. Kondisi Ja-Bar juga berbeda dengan Ja-Teng, yang kantor polisinya terletak persis di pinggir jalan sehingga memudahkan pengawasan. Di Ja-Bar, banyak kantor polisinya jauh dari pinggir jalan utama.

Tapi, masalah pembegalan tampaknya memang serius. Buktinya, Nurfaizi sampai memberi “iming-iming” hadiah uang bagi anggota polisi yang berhasil membekuk begal. Mungkin, itu untuk tambahan semangat bagi polisi yang bertugas di lapangan.

Nurfaizi pada 11 Januari lalu, di Markas Kepolisian Resor (Polres) Kudus, telah memberikan hadiah Rp 3 juta ke tim gabungan polda, polwil, dan Polres Rembang yang berhasil membekuk empat tersangka perampasan truk. Kasus itu terjadi pada 9 Januari lalu di dekat Rumah Makan Mitra, Kragan, Rembang.

* Menyamar Jadi Polisi

Yayat, 29 tahun, dan Sunanjar, 26 tahun, saat itu sedang istirahat sambil mengobrol. Mendadak, sopir dan kemet truk itu dihampiri empat orang yang mengaku polisi. Tiba-tiba, salah satu “polisi” itu menodongkan senjata tajam. Mereka mengikat tangan dan menutup mulut keduanya. Yayat dan Sunanjar segera paham, polisi itu adalah para begalyang selama ini ditakuti.

Yayat dan Sunanjar masih “untung” karena masih hidup meski sempat dibuang ke Tuban, dianiaya selama dalam perjalanan, dan dirampas truknya. Pemilik warung yang melihat aksi pembegalan itu segera melapor ke Polwil Pati sehingga Yayat dan Sunanjar dapat diselamatkan polisi. Empat begal itu kemudian juga dapat diringkus polisi. Truk beserta barang bawaan juga diselamatkan. Tiga begal ternyata berasal dari Surabaya dan satu dari Tuban.

Polda Ja-Teng mengidentifikasi, untuk Ja-Teng bagian timur, pelaku kejahatan biasanya berasal dari Ja-Tim. Untuk Ja-Teng bagian barat, pelakunya berasal dari Losari, Cirebon. Baru-baru ini petugas telah menembak lima penjahat di Batang-Pekalongan dan dua lagi ditembak di Rembang. “Barangkali ada yang meninggal karena tembakan, tapi saya belum mengecek lagi,” ujar Nurfaizi kepada wartawan.

Markas Polda Ja-Tim sementara ini melaporkan telah menangkap enam pelaku perampasan atau bajing loncat; dan diperiksa intensif di Polres Tuban. Untuk pengamanan jalur pantai utara, Polda Ja-Tim dibantu satuan polisi pusat dari pasukan elite Gegana Markas Besar Kepolisian RI, yang jumlahnya lebih dari satu peleton.

Untuk daerah rawan itu memang ada operasi khusus, yakni diterjunkannya pasukan Brigade Mobil. Menurut Sunarno, dalam operasi ini, Polda Ja-Tim menurunkan 11.915 personelnya, dari semua polisi di wilayahnya. Itu berarti separo dari seluruh jumlah personel polisi di Ja-Tim, yang totalnya 23.830 personel. Pihak kepolisian tampaknya memang tidak main-main dan tidak mau ambil risiko dalam pengamanan mudik ini.

Untuk Operasi Ketupat Semeru, polda itu juga dibantu 1.006 personel ABRI dan 999 personel “potensial masyarakat”, yang terdiri dari Pertahanan Sipil dan sebagainya. Juga ada 991 personel dari lintas sektoral, seperti Dinas Lalu Lintas Jalan Raya dan Dinas Kesehatan. Polda Ja-Tim juga menyiapkan 221 pos komando taktis dan tiga pos simpatik, yang tersebar di berbagai polwil.

Namun, Istanto mengatakan, pada akhimya rasa aman itu terpulang ke masyarakat sendiri. “Misalnya, kalau melihat sesuatu yang mencurigakan, langsung lapor saja!” katanya. Kesimpulannya: jalur mudik memang “aman”–dalam tanda kutip.

S.A./Laporan Aendra H. Medita (Bandung), Abdul Manan (Surabaya), Blontank Poer (Solo) , dan Koresponden Semarang

D&R, Edisi 990118-023/Hal. 60 Rubrik Daerah



Antara Kesenjangan dan Kebusukan
January 12, 1999, 3:23 am
Filed under: Other
Maraknya kerusuhan diduga lantaran aspirasi masyarakat meningkat tapi kemampuan memenuhi aspirasi itu tetap, bahkan merosot. Konfrontasi akan selalu terjadi selama negara tidak mengurangi kadar hegemoninya.

KESENJANGAN dan kebusukan, itulah kata kunci untuk menjelaskan kerusuhan yang susul-menyusul di Jakarta dan berbagai daerah, yang intensitasnya memasuki tahun 1999 boleh dibilang meningkat, yakni kesenjangan antara aspirasi rakyat yang makin meningkat di era reformasi dan ketidakmampuan mereka-yang nasibnya makin terpuruk akibat krisis ekonomi–serta kegagalan sistem busuk warisan Orde Baru untuk memenuhi harapan itu.

Justru dalam bulan suci Ramadan ini, belasan kerusuhan terjadi di berbagai daerah, mulai dari Timor Timur, Irianjaya, Surabaya, Ponorogo, Bandung, Garut, Purwakarta, Sukabumi, Karawang, Poso, Gorontalo, Bitung Timur, Lampung Barat, hingga Pidie dan Lhokseumawe, dengan bermacam sebab. Bukan tidak mungkin itu akan terus berlanjut. Setidaknya, banyak yang meramalkan, hingga
pemilihan umum Juni nanti atau malah sepanjang 1999, kerusuhan bakal marak. Dalam konteks sosiologis, maraknya kemsuhan belakangan ini menunjukkan adanya budaya kekerasan yang, menurut sosiolog dari Universitas Airlangga, Dr. Hotman Siahaan, disebabkan masyarakat mengalami deprivasi relatif.

Mengutip teori psikologi-sosial, orang akan mudah marah jika sedang mengalami deprivasi relatif, yaitu adanya kesenjangan antara nilai kapabilitas (kemampuan) dan nilai ekspektasi (harapan). Kemauan orang meningkat, sedangkan kemampuannya sudah tidak bisa memenuhi kemauan itu.

Deprivasi relatif itu ada tingkatannya. Tingkat pertama: harapan meningkat tapi kemampuan tetap. Yang paling berbahaya adalah deprivasi relatif progresif, yaitu ketika harapan meningkat tapi kemampuan menurun. Kalau itu yang terjadi, akan muncul kerusuhan ketika orang marah, merusak apa saja, dan cenderung anarkis. Tingkat kedua dari kerusuhan adalah konspirasi: munculnya konspirasi jahat di tengah masyarakat yang juga memicu kerusuhan. Dan tingkat ketiga–yang paling berbahaya–adalah terjadinya perang saudara, perang di antara sesama.

“Itu yang kita alami sekarang. Ketika orang mengalami deprivasi relatif karena pembangunan, aspek ekonomi dan aspirasi politik meningka tapi kapabilitas seluruh institusi politik ternyata enggak mampu menjawab aspirasi yang meningkat itu,” ujar Hotman, yang disertasi doktoralnya berjudul “Pembangkangan Terselubung Petani dalam Program Tebu Rakyat Intenifikasi sebagai Upaya Mempertahankan Subsistensi” (Universitas Airlangga, 1996).

Dan kalau dalam kerusuhan itu massa selalu menjadikan simbol-simbol negara sebagai sasaran, hal itu karena negara selama ini sudah dianggap simbol dari seluruh penindasan, mengingat hegemoni negara yang sangat kuat pada era rezim Orde Baru.

“Simbol-simbol negara selalu menjadi persoalan besar. Dengan merusak simbol-simbol negara, mereka seolah telah merusak alat penindasan, termasuk di dalamnya militer, polisi, dan birokrasi, “kata Hotman. Dan boleh jadi kerusuhan akan terus berlangsung selama tidak ada klarifikasi dari negara, untuk lebih memberdayakan rakyat. Dengan kata lain, selama negara tidak mengurangi kadar hegemoninya, negara akan tetap mengalami konfrontasi dengan rakyat.

* “Kado Bom” di Jakarta

Jakarta sendiri, pusat hegemoni negara, tidak luput dari berbagai kerusuhan dan aksi kekerasan. Entah itu sekadar aksi kriminal biasa atau bermotivasi politik. Batas-batas di antara dua hal itu pun makin samar, seperti aksi-aksi pengeboman yang terjadi sebulan terakhir ini.

Rasa was-was menghantui warga Jakarta, pasca kerusuhan, karena ancaman “teror bom”. Dalam tiga pekan, di Jakarta telah terjadi tiga ledakan bom. Sebuah ledakan menghancurkan dua anjungan tunai mandiri (ATM) BCA di Atrium Senen, 11 Desember lalu. Sebuah ledakan kemudian terjadi di bekas galian di sebelah Markas Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, 29 Desember. Pada 2 Januari, sebuah ledakan kembali terjadi di Jalan Agus Salim 22 (Sabang). Selain itu Kamis, 7 Januari, ditemukan bahan peledak di Lantai I Wisma BNI 46.

Ledakan bom pada Sabtu dini hari di Jalan Agus Salim itu memorakporandakan lantai satu gedung yang sejak Juni lalu tidak digunakan lagi sebagai Toko Serba-ada Ramayana. Ledakan meninggalkan lubang cekung sedalam setengah meter di tanah, dengan diameter 50 sentimeter, juga menghancurkan kaca-kaca beberapa toko di seberangnya. Sebuah boks telepon umum dan gerobak penjual haso yang diletakkan di sebidang tanah kosong di samping kanan serta sebuah mobil Mitsubishi T 120 SS yang diparkir di depan toko itu hancur berantakan.

Selain satu bom yang meledak, polisi juga menemukan dua bom lain yang tidak meledak. Masing-masing diletakkan di trotoar tepat di muka Galeri FS dan Restoran Hot Pot Gardena. Tidak meledaknya kedua bom berdiameter 20 sentimeter yang dibungkus tas plastik warna hitam itu diperkirakan karena sumbunya tidak menyala sempurna dan padam akibat terguyur hujan rintik-rintik, yang pagi itu memang membasahi sebagian Jakarta.

Kepala Polda Metro Jaya Mayor Jenderal Noegroho Djajusman menyimpulkan, bom itu adalah rakitan dari sejenis bahan baku mercon karena ditemukan beberapa bahan yang biasa digunakan dalam pembuatan mercon, seperti kalium klorat (potas) yang berfungsi sebagai oksidan keras, karbon dan belerang sebagai pembakar, serta bubuk aluminium sebagai penambah daya bakar.

Menurut Komandan Korps Reserse Kepolisian RI Mayor Jenderal Da’i Bachtiar, dilihat dari potas yang digunakan, bom itu biasa untuk bom ikan dan punya kesamaan dengap bom yang digunakan untuk merusak ATM BCA di kawasan Atrium Senen. “Kesimpulan kami, pelakunya jelas sangat menguasai bom. Sekurangnya sangat tahu soal bahan peledak,” kata Kepala Dinas Penerangan Polda Metro Jaya Letnan Kolonel Edward Aritonang.

Menurut Jonathan Alexander alias Johni, salah seorang anggota satuan pengaman di pertokoan Jalan Agus Salim, sebelum kejadian, ia melihat sebuah kendaraan jip Daihatsu Feroza diiringi enam orang yang mengendarai tiga sepeda motor, menuju ke arah Ramayana. Tidak lama setelah orang-orang itu pergi terjadi ledakan. Dari tiga sepeda motor yars digunakan pelaku, salah satunya sudah sering mondar-mondir di sana.

Kejadian yang sama juga disaksikan Ade Surachman, seorang juru parkir yang ketika ledakan terjadi ada di lokasi kejadian. Menurut Ade, ketiga pembonceng sepeda motor itulah yang meletakkan bom-bom itu. Mereka terlihat tengah merokok dan menyulut benda itu dengan bara rokoknya, lalu buru-buru pergi.

* Teror dan Teror

Warga setempat mengatakan, sebelumnya mereka sudah dua kali diteror oleh orang tak dikenal yang berusaha membakar kawasan tersebut. Agustus 1998, percobaan pembakaran pertama dilakukan di belakang toko. Sebuah jeriken dilengkapi sumbu kompor cukup panjang yang sudah basah oleh bensin kemudian disulut. Pembakaran gagal karena api keburu padam. Peristiwa kedua terjadi pada November 1998 di sisi kanan Ramayana, tepat di samping lubang ledakan bom kemarin. Jelaga hitam bekas jilatan api akibat pembakaran itu masih terlihat hingga kini.

Teror-teror itu diperkirakan berhubungan dengan kasus sengketa tanah yang memang masih berlangsung di antara para pemilik tanah di Jalan Agus Salim. Menurut Direktur Pelaksana Sri Vishnu’s Tailor, K.T. Adnani, sejak 1993 di wilayah itu terjadi sengketa tanah yang belum terselesaikan. Sengketa berawal ketika Bank Dagang Negara hendak membeli tanah di sepanjang jalan itu, termasuk di antaranya Ramayana dan toko miliknya serta tanah lahl yang dimiliki sembilan orang. Namun, tidak teljadi kesepakatan harga. “Tanah kami bersertilkat lengkap tapi hanya ditawar Rp 5 juta per meter persegi, sementara kami meminta Rp 15 juta,” katanya. Meskipun begitu, negosiasi terus bergulir. Akhirnya terjadi kesepakatan, para pemilik toko bersedia pindah jika tanahnya diganti di tempat lain yang strategis.

Dalam negosiasi ini, menurut Adnani, perusahaan itu diwakili sebuah perusahaan sekuritas yang berkantor di Pusat Perdagangan Roxi Mas. Namun kemudian sengketa itu berlarut dan masuk ke meja hijau.

* Surabaya dan Ponorogo

Gara-gara iu eorang penjarah, Suwandi tewas di tahanan kepolisian, ratusan warga mengamuk dan membakar Kantor Kepolisian Sektor Kota Lakarsantri, Suralaya, 2 Januari malam. Akibatnya, empat tahahan kabur serta empat mohil dan sepeda motor petugas dibakar massa. Amuk massa lalu meluas ke kawasan
Perumahan Citra Raya. Di lokasi itu, tiga rumah-toko dirusak serta sebuah sedan Timor dan sepeda motor dibakar. Petugas menangkap sedikitnya 84 orang yang diduga terlibat kerusuhan; dan menyelidiki penggerak yang membawa massa dengan truk dalam penyerbuan ke pos polisi itu.

Suwandi, yang ditahan bersama Slamet sebetulnya meninggal akibat dikeroyok massa setelah tertangkap basah mencuri di Citra Raya, 1 Januari. Tersangka Suwandi bersama Slamet yang babak belur dihajar mass diserahkan warga Citra Raya ke petugas jag Markas Kepolisian Sektor Kota Lakarsantri Karena kondisi kesehatan Suwandi yan sudah parah, ia oleh polisi dibawa ke pusat kesehatan masyarakat setempat, tapi nyawanya tak tertolong.

Di Ponorogo, Jawa Timur, ratusan warg Desa Prajegan, Kecamatan Sukorejo, pad 28 Desember mengamuk dan merusak kantor camat, gedung perwakilan Badan Koor dinasi Keluarga Berencana Nasional, panti pembinaan kesejahteraan keluarga, dan Kantor Kredit untuk Rakyat Kecil. Aksi ini disebabkan warga mencurigai Camat Rachmat Winardi telah merekayasa hasil pemilihan kepala Desa Prajegan.

* Sukabumi dan Cilegon

Suasana malam Tahun Baru diwarna amuk massa yang merusak puluhan toko dar fasilitas umum. Sedikitnya 15 pemuda yang dicurigai sebagai provokator diringkus petugas Kepolisian Resort Sukabumi, Jawa Barat Kerusuhan dimulai dari berkumpulnya ratusan pemuda di sekitar Lapangan Merdeka.

Dua jam kemudian, mereka bergabung dengan massa lain yang lebih besar dan datang secara tiba-tiba, lalu bergerak ke jalan utama di kota. Di sepanjang jalan, merek, memecahkan pot-pot bunga dan menjadikan pecahan pot itu sebagai senjata untuk melempari toko-toko. Massa bergerak ke aral Pasar Marema, tapi berhasil dihalang petugas.

Kerusuhan juga hampir pecah di Cilegon, Banten, juga di Jawa Barat, akibat ulah ribuan massa yang melemparkan petasan di jalan raya. Massa menutup jalan dengan bangku dan tong sampah sehingga banyak pengguna jalan yang terkurung. Para pengemudi dan penumpang menjadi panik setelah mereka dilempari petasan oleh massa yang seolah-olah mau membuat kerusuhan.

* Bandung dan Garut

Malam Tahun Baru di Bandung diwarnai dengan tindak kekerasan, seperti pelemparan, perusakan pot bunga, dan pemukulan mobil. Aksi pelemparan, antara lain, terjadi di Jalan Asia-Afrika. Warga dari pinggir kota berduyun-duyun melalui jalan tersebut dan melempari pos satuan pengamanan sejumlah kantor, di antaranya pos yang ada di Bank Panin, Auto 2000, Bank Industri, Bank Danamon, Bank Tamara, Bank Pacific, dan Rumah Makan Simpang Raya. Sejumlah mobil juga menjadi sasaran.

Massa juga menggulingkan sedikitnya 30 pot bunga di Jalan Asia-Afrika dan Jalan Ahmad Yani. Sementara itu, masyarakat yang berkerumun di Jalan Merdeka, depan Plaza Bandung Indah, memukuli dan menggoncang-goncang sejumlah mobil yang lewat. Setiap mobil dipukuli dengan tangan kosong. Bahkan, sebagian dari kerumunan nekat naik ke atas mobil sambil “menari-nari”.

Di Garut, Jawa Barat, aksi pelemparan pada Tahun Baru terjadi juga. Sasarannya adalah Nusantara Pasaraya, Toko Serba-ada Asia, Pasar Swalayan Hero, Bank Bumi Daya, BCA, dan toko-toko lain. Kaca-kaca toko dan perkantoran pecah, bahkan barang yang dipajang di Nusantara Pasar,aya dijarah massa. Aksi pelemparan ini dimulai dengan “perang petasan” di depan Pasar Swalayan Hero. Karena ribut, pelaym toko menyiram penyulut petasan dengan air. Akibatnya: timbul aksi perusakan.

* Waytenong

Kematian Sanim, seorang tahanan polisi di Desa Fajarbulan, yang mencungakan pada 28 Desember lalu berkembang menjadi amuk massa yang merusak dua pos polisi serta pembakaran empat rumah dan tiga mobil. Akibatnya, sembilan anggota polisi luka kena lemparan batu. Sanim bersama dua rekannya ditangkap gara-gara pengaduan Hasan Saburi, seorang pedagang kopi, dengan tuduhan mencuri uang Rp 600 juta miliknya. Setelah diperiksa sehari oleh polisi, Sanim disebutkan tewas akibat “bunuh diri”.

Amuk terjadi di ibu Kola Kecamatan Waytenong, 185 kilometer utara Bandarlampung, dipicu oleh kecurigaan warga atas tewasnya Sanim. Keluarga Sanim curiga kematian itu tak wajar karena dari mulut dan hidungnya mengeluarkan cairan mirip minyak pelumas. Beberapa bagian tubuhnya terlihat lebam seperti bekas penganiayaan. Padahal, kondisi Sanim sangat sehat ketika ditangkap. Beberapa polisi lalu diperiksa Provos Kepolisian Resor Lampung Barat untuk menyingkap kasus ini.

* Poso

Kerusuhan pecah menjelang Tahun Baru di Poso, 220 kilometer selatan Palu, melibatkan ribuan massa dari luar kota sebelh timur dan barat, termasuk massa dari Tentena yang memicu kerusuhan. Kerusuhan sebenarnya berinti pada ketidak puasan warga atas pemilihan bupati yang dicurigai tercemar kasus suap. Entah bagaimana, hal itu “diselewengkan” kearah isu suku, agama,
ras, dan antar golongan.

Kerusuhan meledak lagi pada 28 Desember, dipicu kedatangan tiga truk massa dari Tentena yang dipimpin Herman Parimo, salah satu tokoh Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah. Padahal, sehari sebelumnya ada kesepakatan antara tokoh lslam, Kristen, dan tokoh pemuda untuk saling menahan diri.

Dalam kerusuhan yang terjadi sejak 26 Desember, sedikitnya sepuluh mobil, 130 rumah, dan tujuh toko musnah terbakar. Puluhan bangunan lain dirusak massa. Kerusakan terburuk terjadi di Kelurahan Lombogia, Sayo, dan Bonesampe. Dalam kerusuhan ini, 79 orang mengalami luka akibat benda tumpul dan senjata tajam, tujuh di antaranya luka berat. Namun, tidak satu pun rumah ibadah, baik gereja ataupun masjid, yang dirusak massa.

* Bitung Timur

Gara-gara isu menjual sajadah sebagai keset, Toko Sangrila milik Tommy Silas di Desa Buntulis Selatan menjadi sasaran amuk massa dan pembakaran. Padahal, yang dijual memang betul-betul keset biasa, bukan sajadah. Bermula dari transaksi dagang pada 31 Desember lalu, pemilik toko menawarkan keset dari bahan karpet mirip beludru, bergambar, dan berjumbai-jumbai kepada seorang pembeli.

Secara kebetulan, tawar-menawar itu didengar Rahman Kalo, warga Marisa. Tanpa mengecek lebih dulu, Rahman langsung menyebarkan isu, yang kemudian berkembang dari mulut ke mulut. Esoknya, 1 Januari, sekitar pukul 15.00 waktu setempat, 400 orang mengamuk dan membakar Toko Sangrila. Rahman ditahan polisi karena kerusuhan ini.

Sementara itu, di Kecamatan Bitung Timur, Sulawesi Utara, sejumlah kios dilempari batu oleh massa pada 1-2 Januari malam. Akibatnya, sejumlah warga luka-luka. Kerusuhan bermula dari tindakan sewenang-wenang seorang polisi yang memukul warga setempat. Warga yang dipukul itu memangil rekan-rekannya di kampung dan menyerbu petugas keamanan yang bersembunyi di kios, sehingga jadi sasaran amuk massa.

* Banjar

Bentrokan di antara massa dua desa terjadi lagi di Kecamatan Banjar sesudah bentrokan pada 10-12 Desember 1998. Dua warga Desa Sidetapa yang baru pulang dari Denpasar, Nyoman Kariada dan Putu Santika, ditemukan tewas akibat luka bacokan dan pukulan benda tumpul, 4 Januari.

Walau belum diketahui siapa pembunuhnya, esok harinya, massa Desa Sidetapa membalas. Ratusan massa menyerbu rumah warga Dusun Ingsakan, Desa Pedawa, di perbatasan. memhakar delapan rumah dan menewaskan I Ngetis yang sedang menyabit di tegalannya. Serangan balasan itu juga disertai penjarahan. Puluhan warga dari berbagai pihak yang bertikai jadi mengungsi karena bentrokan itu; dan sampai kini belum berani pulang. Mahasiswa dan aktivis Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan setempat menduga ada provokator dan “proyek politik” di balik kerusuhan itu.

* Ainaro

Bentrokan antara massa anti-inteasi dan pro-integrasi pecah lagi di Kabupaten Ainaro, 160 kilometer selatan Dili, 3 Januari. Kala itu sekitar pukul 08.00 pagi, kelompok pro-intregrasi bersama dengan anggota Mati Hidup demi Integrasi (Mahidi)–semacam rakyat terlatih yang dipersenjatai–tengah membersihkan pos ronda di Desa Manutasi, Ainaro. Tiba-tiba, mereka dikepung sekitar seratus massa anti-integrasi yang bersenjata tombak, parang, dan panah.

Merasa terdesak, anggota Mahidi melepaskan tembakan peringatan. Tapi, kalangan penyerbu malah makin beringas, bahkan berusaha merebut senjata. Maka, salah satu anggota Mahidi mengarahkan tembakan ke arah kaki kelompok anti-integrasi dan kemudian ke tuhuh para penyerang. Akibatnya, dua orang–Julio dari Desa Maulo dan Rainaldo dari Desa Soro–tewas. Sementara itu, lima korban lain dari pihak anti-integrasi luka serius dan dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Ainaro.

Tawuran itu berbuntut panjang. Sekitar pukul 15.00 waktu setempat, kelompok anti-integrasi yang datang dengan massa lebih banyak melancarkan aksi protes ke Markas Komando Distrik Militer 1633 Ainaro. Massa menuntut agar organisasi Mahidi dibubarkan serta penarikan kembali senjata yang sudah dihagikan ke anggota Mahidi.

* Wamena

Tujuh anggota Angkatan Darat masuk tiba-tiba ke perayaan Natal yang diselenggarakan Paguyuban Masyarakat Jawa di Wamena, Trianjaya, Desember lalu. Padahal, saat itu, ibadah sedang berlangsung dipimpin Pendeta Titiheru. Aparat Komandan Distrik Militer 1702 Wamena yang diduga sedang mabuk itu masuk ke gereja dan memukul dua anggota aparat Kepolisian Resor Wamena yang sedang beribadah.

Tampaknya, di antara mereka sudah ada perselisihan sebelumnya. Jemaat yang terganggu langsung menegur dan menyuruh tujuh aparat militer itu keluar, tapi tak digubris. Seorang jemaat mendorong mereka. Anggota Angkatan Darat itu mengeluarkan senjata tajam. Massa jemaat kabur dan mengambil parang dan balik mengejar anggota Angkatan Darat itu yang lari ke Markas Komando Distrik Militer Wamena. Pendeta setempat telah mengirim laporan ke panglima komando daerah dan Panglima ABRI atas kasus itu.

Satrio/Laporan Imam Wahjoe L. Andreas Ambar, Purwanto (jakarta), Abdul Manan (Surabaya), Aendra H. Medita (Bandung), Gebeh Paramarta (Denpasar), H.A. Ondi (Jayapura), Patria Pombengi (Ujungpandang), dan Alex Assis Pangma (Dili)

D&R, Edisi 990111-022/Hal. 50 Rubrik Liputan Khusus



Tak Lekang Diterpa Krisis
January 11, 1999, 11:09 pm
Filed under: Other
Krisis yang makin mengimpit tak meminggirkan warung-warung makan pinggir jalan di kota-kota besar. Mereka masih bisa menikmati sisa-sisa rezeki.

MUNGKIN benar kata orang, bisnis makanan tak mengenal krisis. Soalnya, setiap orang–kendati penganggur-tetap membutuhkan makan. Karena itu, tak heran jika di aman krisis yang makin mengimpit ini, penjuai makanan kaki lima masih mampu bertahan, sebagian malah tambah penghasilannya.

Tengok saja dari Kota Medan sampai Ujungpandang dan dari Jakarta sampai Surabaya, penjual makanan dengan berbagai ukuran tenda memenuhi tempat-tempat strategis baik siang maupun malam, dari skala kecil hingga skala besar. Dari pelanggan tukang becak sampai pelanggan tukang insinyur. Menunya sangat beragam begitupun harganya.

Di Yogyakarta bahkan ada menu “nasi kucing” seharga Rp 300. Jangan kaget, menu ini bukan nasi dengan lauk kucing goreng, namun menu belisi nasi sekitar lima sendok nasi dengan lauk teri, sambal pedas, atau oseng-oseng tempe. Disebut “nasi kucing” karena persis menu kucing. Menurut Parmin, yang menekuni usaha ini empat thun lalu, harga sebelum krisis jangan kaget hanya Rp 100. Begitu pula nasi goreng ala Parrnin yang berdagang di Jalan Wates, sebelum krisis harganya hanya Rp 250, kini Rp 500.

Kalau soal adu murah memang Yogya tempatnya (lihat Boks). Tapi, kondisi ini tidak berlaku di Jalan Malioboro, sentra utama warung lesehan. Kalau tidak hati-hati dan menanyakan tarif lebih dulu, bisa-bisa makan nasi gudeg dan paha ayam harus membayar Rp 10 ribu. Kecuali pendatang yang masih tertarik makan sambil duduk-duduk di jalan utama Kota Yogya, mahasiswa dan penduduk tetap cenderung mengerumuni warung “nasi kucing” atau “warung hik”, hidangan istimewa kampung. Dari berjualan “nasi kucing” itu, Parmin mampu mengantungi keuntungan Rp 15 ribu per malamnya.

Di Surabaya, para penjual makanan yang banyak berjajar di sepanjang Jalan Kedungdoro, Kertajaya, Semolowan atau Embong Blimbing, misalnya. tak surut dilanda krisis. Walau rata-rata keuntungannya mengalami penurunan, mereka masih mampu bertahan dan menikmati keuntungan. Bu Pari yang membuka warung di sekitar Kertajaya dan berjualan nasi pecel mengaku omzetnya mengalami penurunan. Dulu Bu Pari menghabiskan 15 kilogram beras, namun kini hanya bisa menanak beras sebanyak 10 kilogram. “Tetap ada untung. Sebab, meski krisis, orang kan masih butuh makan,” ujarnya.

* Modal Sendiri

Di Jakarta bisnis makanan malah lebih bagus peruntungannya. Warung-warung makan yang tersebar hampir di seluruh penjuru ibu kota ini rata-rata tetap menikmati keuntungan walau berkurang. Contohnya Emiwati, 38 tahun, yang membuka warung makan warisan orang tuanya di depan Bioskop Grand Senen, Jakarta Pusat. Emi yang berjualan nasi dengan aneka lauk masih bisa untung kotor Rp 200 ribu per hari. Memang dulu, keuntungannya bisa lebih bebas lagi.

Nasib pedagang makanan kaki lima ini masih lebih baik dibanding pemilik warung tegal (warteg). enurut Ketua Umum Koperasi Warteg, Sastoro, para pedagang warteg yang kini masih bertahan sebenarnya sekadar bertahan, tanpa ada keuntungan samasekali. Menurut dia, dulu keuntungan pedagang warteg bisa meneapai Rp 300–Rp 400 ribu per hari. Kini bisa mencapai untung Rp 100 ribu saja termasuk lumayan. Menurut Sastoro, dari 26 ribu unggota, yang bangkrut mencapai 35 persen dan kembang kempis 25 persen. “Yang masih bertahan adalah yang memiliki tempat berdagang sendiri, tidak ngontrak sedangkan pedagang makanan kaki lima tidak dibebani dengan mengontrak tempat,” ujarnya.

Kendati begitu, toh, sebagian besar warteg masih jalan. Menurut Anggito Abimanyu, ekonom dari Universitas Gadjah Mada pemerhati warung makan kaki lima ini menilai, eksisnya warung makan kaki lima di saat krisis ekonomi saat ini karena adanya limpahan dari level di atasnya. Maksudnya, ketika orang tidak mampu lagi makan di level atas (misalnya di hotel, restoran, fastfood), ia akan makan di level warung makan pinggir jalan atau kaki lima itu.

Orang berusaha membagi duit yang sudah mepet sekarang ini untuk makan sebagai upaya bertahan hidup. Akhirnya tak ada pilihan lain kecuali di warung makan kaki lima. Di samping itu, menurut Mubyarto, Asisten Menteri Koordinator Ekonomi dan Industri Bidang Ekonomi, daya tahan warung makan atau usaha kecil lain cukup kuat karena usaha kecil mengandalkn kekuatan sendiri, tidak mengandalkan modal pinjaman atau utang.

Fadjar Hariyanto/Laporan Eko Yulistyo A,.E, Reko Alum, Silvester Keda (Jakarta), Abdul Manan (Surabaya), Prasetya (Yogya)

D&R, Edisi 990111-022/Hal. 56 Rubrik Bisnis & Ekonomi



Satu Lagi Obat Bikin Greng
January 11, 1999, 10:08 am
Filed under: Other
Obat baru pemulih keperkasaan lelaki diuji-coba. Bukan diminum, melainkan dimasukkan ke saluran kencing.

OBAT baru penambah keperkasaan lelki terus bermunculan. Belum lagi Viagra mendapa izin pemasaran dari Deartemen Kesehatan (Depkes), kini muncul pesaing baru. Namanya: medical uretral systemfor erection (MUSE), yaitu cara pengobatan impotensi dengan memasukkan obat cair Alprostadil (sintetis dari senyawa prostaglandin E) ke dalam saluran kencing.

Teknik baru ini, beberapa pekan silam, telah diuji-cobakan pada sejumlah pasien lemah syahwat di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Hasilnya, menurut dr. Sunaryo Hardjowijoto, peneliti yang juga koordinator bedah central rumah sakit terbesar itu, sangat memuaskan. Dari 10 penderita berat yang menjalani terapi dengan teknik MUSE, semuanya bisa greng. “Hanya, dosisnya sedikit lebih besar,” katanya.

Menurut literatur kesehatan, angka keberhasilan teknik MUSE berkisar antara 80 dan 90 persen. Ukuran keberhasilannya: setelah menjalani terapi, penis yang semula loyo dapat kembali ereksi hingga mampu melakukan hubungan seks seperti halnya seorang pria normal.

Teknik MUSE, yang kerap disebut teknik transurethral itu, sebenarnya hanya pengembangan dari teknik intracalernosal. yaitu penyuntikan Alprostadil pada penis. Pada teknik pengembangan itu, obat tidak disuntikkan, meainkan dimasukkan ke dalam saluran kencing dengan alat aplikator serupa pipet.

Caranya: tarik batang penis ke atas, buka lubang saluran kencing. Masukkan ujung aplikator perlahan-lahan ke dalam uretra (saluran kencing) sampai batas leher aplikator. Selanjutnya, tekan tombol untuk mengeluarkan obat, lalu gulung batang penis selama 10 detik.

Sunaryo menyarankan, sebaiknya cara tersebut dilakukan 15 s.d. 30 menit sebelum siap tempur. “Teknik ini mudah dan bisa dilakukan penderita sendiri,” ujarnya. Karena itu, dokter yang pernah mengambil brevet di Academische Ziekenhuis di Groningen, Belanda, itu yakin, terapi MUSE bakal digemari para penderita lemah syahwat, menandingi popularitas Viagra. Dibanding Viagra, kelebihan terapi itu adalah efek saminnya yang jauh lebih ringan: terkadang timbul rasa panas pada penis. Tapi yang jelas, selain mudah terapi ini juga aman.

Adapun pengguna Viagra sangat terbatas, antara lain: tidak boleh buat penderita jantung koroner dan penderita yang memakai obat nitrat. Juga tidak boleh dipakai bersama beberapa obat lain, seperti maag dan hipertensi. Tekanan darah bisa turun drastis, dan pemakainya bisa shock tak tertolong-sebagaimana telah dilaporkan ke Depkes Amerika Serikat (AS). Selama kurun waktu Maret-Juli 199, dari 3,6 juta pemakai Viagra, 123 orang di antaranya tewas.

* Melindungi Fungsi Jantung

Penelitian serupa, beberapa waktu lalu, dilakukan Prof. Dr. Alfred P. Spivack, M.D. dari Universitas Stanford, AS. Penelitian itu melibatkan 1.156 penderita lemah syahwat berat, lebih dari 50 persen di antaranya menderita gangguan penyakit pembuluh darah, penyakit gula, atau penyakit jantung.

Setelah tiga bulan menjalani terapi MUSE, dari 2.875 hubungan seks yang dilakukan dan dilaporkan para relawan, ternyata tak ditemukan korban tewas. Dan hanya lima pasien yang menunjukkan sedikit gangguan jantung. Artinya, aktivitas seks dengan menggunakan MUSE tidak meningkatkan risiko serangan jantung, bahkan melindungi fungsi jantung.

Sementara itu, sejumlah kematian yang dilaporkan akihat pemakaian Viagra di AS menurut Spivack, berdampak besar buat terapi lain. “Karena itu, demi keselamatan penggunaan terapi oral, seperti Viagra, harus dilakukan secara hati-hati sekali,” saran Direktur Klinik Hypertensi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Harvard, AS, itu.

Lain Spivack, lain pula Akmal Taher. Dokter ahli urologi RSCM itu menganggap, penelitian Sunaryo masih terlalu dini. Untuk mengetahui keampuhan obat pemulih keperkasaan, menurut Dosen FK Universitas Indonesia itu, tidak bisa hanya dengan melihat persentase pasien yang bisa dibikin ereksi.

Tapi, juga harus diketahui seberapa besar penerimaan si pasien terhadap cara seperti itu. Dalam tiga bulan pertama, misalnya, pasien masih memakai, tapi bulan berikutnya tidak. “Apa pun alasannya, ini mengurangi kinerja obat itu sendiri.” kata Akmal. Hingga kini, menurut Akmal, ada berbagai cara untuk memulihkan keperkasaan. Selain MUSE, ada terapi lain, seperti terapi psikologis, oral medication, terai suntik, implantasi, dan bantuan alat vacuum. Mana yang terbaik? Menurut pakar impotensi RSCM itu, sulit untuk menentukan mana yang mujarab. “Yang terbaik adalah pengobatan yang sesuai dengan indikasi kasus dan bisa diterima pasien.” katanya lagi.

Apa yang dikemukakan para pakar itu tentu ada benarnya Boleh saja MUSE memenuhi syarat teknik (ampuh, aman, dan muda, tapi mungkin tak memadai syarat administratif, karena harganya mahal. Perkiraan Sunaryo, untuk sekali pakai, biayanya sekitar Rp 200 ribu. Bisa dipastikan, konsumennya bakal sangat terbatas: hanya para penderita lemah syahwat yang berkantung tebal. Ya, memang, begitulah harga keperkasaan.

AS/Laporan Mlta Firdaus (Jakarta) dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 990111-022/Hal. 46 Rubrik Kesehatan



Berburu Malam Seribu Bulan
January 11, 1999, 8:34 am
Filed under: Other
Pertengahan Ramadhan diliputi “perburuan” keutamaan lailatul kadar. Apakah malam yang lebih baik dari 1.000 bulan itu?

PERJALANAN Ramadan yang telah merangkak lebih separo ini ditandai dengan meningkatnya- aktivitas kesalehan masyarakat. Di masjid-masjid ditandai dengan pembacaan qunut dalam witir salat tarawihnya. Di masjid-masjid mulai ramai dengan orang-orang yang mencari lailatulkadar, yang dalam Alquran disebutkan sebagai malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Orang-orang datang, bagai memburunya dengan cara memperkaya ibadah. Dengan cara iktikaftinggal di masjid) atau membaca Alquran. salat sunah. Mereka kini memadati tempat peribadatan itu.

Forum Santri Jakarta, Ahad, 10 Januari, ikut memburunya dengan cara menyelenggarakan Zikir Malam Seribu Bulan Menyambut Lailatulkadar. Lebih seribu santri memadati lapangan tenis indoor Senayan, sejak pukul 22.000 hingga pukul 01.00 dini hari. Mereka berfikir dengan dipandu Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf; membaca selawat, serta mendengarkan siraman rohani dari K.H. Noer Muhammad Iskandar, K.H. Said Aqiel Siraj, Dr. Nurcholish Madjid, K.H. Zainuddin M.Z., K.H. Ma’ruf Amin, dan sejumlah ulama lain.

Perburuan lailatulkadar dimulai sejak 4 Januari dini hari lalu, tepat pertengahan Ramadan. Ini bisa dilihat semakin banyaknya pengunjung masjid-masjid, terutama Masjidil Haram, Makkah, Masjid Nawabi, Madinah, dan Masjidil Aqsha, Jerusalem. “Tempat duduk sepertinya sudah di-booking dengan meletakkan sajadah sejak awal Ramadan,” kata seorang pengusaha ONH Plus. Tayangan tarawih di Masjidil Haram yang ditayangkan RCTI menunjukkan semakin banyaknya jumlah jamaah di masjid yang mampu menampung setengah juta jiwa itu.

Tarif akomodasi di kota suci itu pun naik berkali-kali lipat. Hotel-hotel di Makkah dan Madinah mematok tarif tiga kali lipat dari tarif biasa. Tarif itu hanya bisa diimbangi dengan tarif akomodasi saat musim haji. Ini bisa dilihat dari tarif yang dikenakan beberapa pengusaha ONH Plus. Untuk umrah biasa sebelum Ramadan PT Tiga Utama, misalnya, hanya menetapkan tarif US$ 2.050. Tapi, ketika Ramadan tiba, tarif lalu menjadi US$ 2.650. Semakin tua usia Ramadan semakin mahal tarifnya. Lebaran di Saudi, misalnya, tarifnya mencapai US$ 4.150. “ltu pun sudah penuh, tidak bisa menerima jamaah lagi,” kata Ijah Khatijah, dari PT Tiga Utama.

Hal serupa terjadi di masjid-masjid tua di Indonesia. Di Masjid Menara Kudus, Demak, Ampel, Banten, Cirebon, bahkan hingga Masjid Istiqlal di Jakarta menjadi tumpuan perburuan malam seribu bulan. Wahyu, pria berumur 30 tahun ini, mengaku secara khusus datang dari Malang untuk mencari lailatulkadar di Masjid Ampel Surabaya. “Kalau kita beribadah pada malam itu, sama dengan kita beribadah selama 73 tahun lebih. Padahal, umur kita belum tentu sampai sepanjang itu,” katanya. Ketenangan juga ia dapatkan ketika melakukan iktikaf.

Di Istiqlal, selepas tarawih 23 rakaat ini, orang masih asyik bercengkerama dengan Tuhan. Membaca wirid, membaca Alquran, dan sebagainya. Para “pemburu” ini bisa dilihat ciri-cirinya: membawa tas besar berisi pakaian. Jumlah mereka pada tahun ini mencapai sekitar 500 orang. Bahkan, sebuah elevisi swasta menayangkan laporan jamaah asal Pontianak yang mengkhususkan diri selama sebulan penuh di Istiqlal. “Saya bekerja 11 bulan dan satu bulan untuk ibadah,” kata laki-laki yang mengaku bernama Samsuddin itu. Mereka di sini dijamu oleh uluran para dermawan. Tiap hari tak kurang dari 3.000 nasi kotak masuk ke Istiqlal. “Ini akan meningkatjumlahnya pada sepuluh hari terakhir Ramadan,” kata Supanto, satpam Istiqlal. Jumlah “pemburu” ini bisa ribuan.

Kenikmatan berburu ini diakui Ny. Huzaimah, 50 tahun, asal Jember, Jawa Timur, yang membiasakan beriktikaf di Istiqlal sejak tahun 1989. “Kalau habis selesai iktikaf selama satu tahun itu rasanya jadi tenang, enggak grungsang, istilahnya orang Jawa. Seolah-olah di hati ada ketenangan. Terhadap orang lain, kita pengertian. Enggak tahu saya dapat lailatulkadar atau tidak, tapi rasanya tenang.” Begitu juga pengakuan Ny. Nur Halimah, 40 tahun; asal Sukolilo; Surabaya. Baik Halimah maupun Huzaimah tidak dibebani keluarga karena suami sudah meninggal, sementara anak-anaknya sudah berumah tangga. Syamsuddin sendiri telah menyisakan penghasilan selama 11 bulan untuk nafkah keluarga.

Perburuan secara khususjuga dilakukan sekelompok orang. Misalnya, di Sepanjang, Glenmore, Banyuwangi, Jember, dan Pasuruan, yang dilakukan dengan menyalenggarakan salat dua rakaat tengah malam dengan membaca surah-surah panjang Alquran. Setelah itu diikuti wirid-wirid Asmaul Husna, zikir, dan selawat hingga subuh. Di Jakarta, Jam’iyyah Alwashliyah juga acap menyelenggarakan “perburuan” ini dengan menampilkan pembacaan ayat suci dari qari-qari kenamaan nasional. “Kita mengharap rida Allah untuk bisa bersama menyelesaikan persoalan bangsa ini” kata KH Noer Muhammad Iskandar, pemimpin Pesantren Ashiddiqiyah, Kedoya, Kebonjeruk, Jakarta Barat ini.

* Bonus dari Allah

“Lailatulkadar itu ibarat bonus dari Allah. Dan mereka yang mendapatkannya hanya diketahui di akhirat nanti,” kata Ketua Takmir Masjid Agung Sunan Ampel, K.H. Azrny Nawawi. Tuhan sepertinya menjadikan misteri agar hambanya selalu mencarinya tanpa henti. Sengaja dibuat misted agar kita memburunya dengan ibadah, kata Aljurjawi dalam Hikmatut Tasyri’wa Falsafatuh. Nabi bersabda: “Jika tiba lailatulkadar, Malaikat Jibril memanjatkan rahmat dan kesentausaan kepada setiap hamba yang tengah berzikir kepada Allah.” Dalam catatan Abu Hurairah, pada lailatulkadar itu akan turun malaikat yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah pasir di Bumi. Langit terbuka untuk menurunkan mereka. Timbullah cahaya terang dan seolah membentangkan kebesaran Tuhan. Tirai-tirai yang menutupi kemuliaan para malaikat disingkap. Siapa pun seperti bisa melihat wajah asli para malaikat. Keindahan surga, kemegahannya; tempat para nabi, para syahid, juga akan diperlihatkan kebengisan neraka jahanam.

Nabi bersabda: “Barangsiapa beribadah pada malam ke-27 Ramadan hingga subuh, maka ia lebih kusukai daripada beribadah sepanjang malam-malam bulan Ramadan.”

Lantas Fathimah, sang putri, bertanya. “Lalu bagaimana dengan wanita dan orang-orang lemah yang tak mampu beribadah sepanjang malam itu?” Nabi menjawab: “Usahakan jangan tidur. Cobalah ambil barang satu jam untuk berzikir kepada Allah. Itu lebih baik daripada ibadah sepanjang bulan Ramadan.” Aisyah juga medwayatkan sebuah hadis, “Barangsiapa yang menghidupkan malam qadar dengan salat dua rakaat serta memohon ampun kepada Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosanya. la akan berenang dalam rahmat kasih sayang Allah. Jibril akan mengusap dengan sayapnya. Barangsiapa yang diusap sayap Jibril, ia akan masuk surga.”

Menarik pendapat Sayyid Ali Al Khawwash yang dikutip Abdul Wahhab Assya’rani dalam Almizan Alkubra. “Lailatulkadar adalah semua malam yang dipakai untuk mendekatkan dia kepada Allah. Syaikh Afdaluddin pernah menyaksikan turunnya malam qadar pada bulan Rabi’ul Awwal (Maulid) dan Rajab. Namun, pendapat yang utama tetap menyatakan bahwa malam qadar hanya turun pada malam-malam di bulan Ramadan. Ada yang mengatakan sepuluh hari akhir, malam ke-27, malam-malam ganjil bahkan keseluruhan malam Ramadan.”

Untuk mencad malam qadar dilakukan orang dengan banyak berzikir, membaca Alquran serta beriktikaf di masjid-masjid. Iktikaf inilah yang banyak dilakukan nabi pada hari kesepuluh terakhir bulan Ramadan. Bahkan menjelang wafat, Nabi melipat dua kali. Allah berfirman dalam hadis Qudsi: “Sesungguhnya rumahku di Bumi adalah masjid. Dan orang-orang yang mengunjungiku adalah orang-orang yang meramaikan masjid. Maka, bahagialah seorang hamba yang membersihkan did di rumahnya lalu mengunjungi-Ku di rumah-Ku (masjid). Dan adalah hak yang dikunjungi untuk memuliakan orang yang mengunjungi.”

Karena nabi melakukan iktikaf pada Ramadan, sebagian pendapat mensyaratkan puasa dalam iktikaf. “Tiada iktikaf tanpa puasa,” kata Aisyah, istri Nabi. Ibnul Qayyim Al Jauzi dalam Zadul Ma’ad fi hadyi Khayril ‘Ibad mernperkuatnya. “Tak didapatkan riwayat dari Nabi yang menyatakan beliau beriktikaf di luar Ramadan.” Karena itu, dalam tarjih Imam Ibnu Taymiyah, syarat iktikaf adalah puasa. Dalam dwayat Imam Bukhari, nabi pernah menggantinya iktikaf Ramadan pada bulari Syawal. Nabi melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Hanya, Asya’rani menyatakan kebolehan iktikaf kapan saja. Persyaratan puasa hanya menunjukkan keutamaan.

Tentu iktikaf hanya bisa dilakukan di masjid. Seperti dikutip Assya’rani, Imam Syafi’i, dan Imam Malik mensyaratkan di musala (al masjid) dan masjid (al Jami’). Imam Abu Hanifah mengharuskan pada masjid yang dilakukan salat jamgah. Imam Ahmad bin Hanbal mensyaratkan masjid yang dilakukan salat Jumat. Sementara itu, Imam Khudaifah lebih mempersempit hanya tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha di Jerusalem. Sebagian pendapat memperbolehkan wanita beriktikaf di musala rumahnya.

M.H./Laporan Budi Nugroho (Jakarta) dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 990111-022/Hal. 68 Rubrik Agama



Hotman Siahaan: “Satu-satunya Pilihan Memang Pemilu”
January 4, 1999, 7:24 pm
Filed under: Other
KEADAAN mendatang sangat mengkhawatirkan,” bagi kata Dr. Hotman Siahaan, dosen Fakultas Ilmu Sosial-Ilmu Politik dan Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya, tentang realitas sosial-politik Indonesia. Berikut petikan wawancara reporter D&R, Abdul Manan dengan sosiolog itu.

Kerusuhan makin gampang saja terjadi di Indonesia belakangan ini. Ada apa sebenarnya?

Kerusuhan sekarang ini, amuk massa sekarang ini, sebenarnya lahir alibat banyak variabel. Sesudah terjadi reformasi, ketika ada tuntutan moral yang baru, orang lalu meragukan semua legitimasi yang datang dari negara. Di sisi lain, kemudian legitimasi negara yang sangat lemah itu juga membuat suasana orang bisa sangat rawan amuk.

Perkelahian pelajar juga semakin marak. Apakah itu bisa dilihat dalam perspektif yang sama?

Betul. Institusi-institusi pendidikan kita juga terhegemoni sehingga seolah kehilangan kiprah sebagai proses berpikir, lebih menjadi birokrasi pendidikan. Itulah yang terjadi dalam pendidikan dari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Dan, pelajar-pelajar itu lahir dari suatu generasi yang apolitis. Nah, luapan-luapan ekspresi mereka terwujud di jalan, semacam itu, karena memang kurikulum kita sama sekali tidak memberi peluang. Kurikulum itu membelenggu orang untuk belajar, belajar, dan belajar terus. Tidak ada luapan ekspresi yang bisa dipakai.

Apakah keadaan terhegemoni seperti itu merupakan suatu proses alami?

Dari perspektif mana? Kita mengalami ini karena proses politik kita selama ini berjalan tidak benar. Yang kita sebut demokratisasi itu hanya performa. Karena yang kita sebut proses suksesi itu hampir tidak pernah terjadi. Penyebabnya: dominasi negara yang sangat kuat, yang menghegemoni semua kekuatan politik. Dan, yang terjadi sekarang ini adalah semua tindakan ekstra konstitusional.

Kalau melihat kecenderungan sekarang, apakah kerusuhan atau situasi kacau seperti ini akan terus berlanjut?

Saya sangat sedih karena itulah yang terjadi. Selama kita tidak punya proses politik yang betul-betul mampu meredam seluruh potensi konflik, gesekan-gesekan ini makin keras. Boleh dikata, situasi kita mendatang ini sangat menakutkan. Karena apa?

Misalnya, bisa dibayangkan kalau Mei nanti kita muLai melakukan kampanye. Sekarang saja–enggak sedang kampanye dua organisasi peserta pemilu bertemu saja sudah seperti itu, bentrok. Itu kasus Blora dan Buleleng. Sekarang, jumlah partai ada ratusan. sistemnya proporsional lagi, yang kemungkinan terjadi reli-reli dalam kampanye. Ini tidak menutup kemungkinan berpapasan. Bukan main!

Jadi, bisa terjadi revolusi sosial…?

Revolusi sosial seperti apa dulu? Kalau yang dibayangkan adalah revolusi sosial yang dipicu oleh sebuah chaos, ya, memang sangat mengerikan. Tapi, kalau revolusi sosial itu terjadi sebagai bentuk perubahan total dari sebuah sistem, berjalan dalam sebuah bingkai moral politik dan etika politik, saya kira tidak terlalu mahal harganya. Yang saya, khawatir kalau terjadi revolusi sosial yang didorong oleh chaos semacam itu. Harga yang kita bayar akan sangat mahal.

Maksudnya?

Pertama, akan tejadi bentrok fisik yang memakan korban luar biasa. Suasana itu akan memancing munculnya tangan besi, militerisme. Kalau itu yang terjadi, akan sangat setback. Atau, yang kedua, revolusi sosial itu akan memicu disintegrasi. Bisa saja nanti orang dari pulau lain ingin merdeka dan keluar dari republik. Suara-suara itu sudah kencang. Di beberapa tempat orang sudah merasa “apa pengikat kami dengan republik; historis juga enggak.” Itu yang dikatakan orang-orang Irianjaya dan Timor Timur. “Kalaupun kita dianggap punya keterikatan historis, yang mana?” Mungkin, secara historis punya keterikatan. Tapi, kalau secara ekonomi dan politik tidak merasa? Itu kemungkinan terjadi pada Aceh dan Bali. Dan, itu problem yang kita hadapi sekarang. Celakanya, Orde Baru membangun nasionalismenya di atas kekuasaan dan kekerasan. Itu susahnya. Seluruh proses integrasi kita pada dasarnya byforce.

Apakah kekerasan yang berlangsung belakangan ini tidak bisa dicegah?

Seharusnya bisa dicegah. Tapi, bagaimana membuatnya kalau seluruh legitimasi dari struktur politik kita itu dipertanyakan? Di sanalah dilema kita. Karena itu, saya setuju, satu-satunya pilihan memang pemilu. Pertanyaannya kemudian, bisakah kita menciptakan pemilu yang betul-betul jujur dan adil. Itu pertanyaan besar sekarang.

D&R, Edisi 990104-021/Hal. 27 Rubrik Peristiwa & Analisa