Filed under: Peristiwa
Filed under: Politics
PERCAKAPAN di radio komunikasi pasukan Tentara Nasional Indonesia itu memecah keheningan pagi. Bangau Satu (pasukan di lapangan) saat itu melapor kepada Rajawali (komandan di pusat operasi). Pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) melihat canpoi alias personel Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sedang beroperasi. Rupanya, Bangau Satu berhasil memantau pergerakan kelompok GAM lewat pelacakan sinyal komunikasi. Pelacakan pelbagai jalur komunikasi kini menjadi kunci untuk mengungkap jaringan dan wilayah operasi pasukan GAM.
Secara teknis, yang paling mudah dan kerap dilakukan oleh TNI adalah pelacakan frekuensi radio komunikasi. Soalnya, koordinasi antarpasukan GAM selama pertempuran umumnya menggunakan handy talkie. Medan tempur Aceh yang berbukit-bukit banyak yang berupa blank spot area atau wilayah yang tak terjangkau bagi sistem komunikasi lainnya. Tak mengherankan, handy talkie (HT)–bekerja pada rentang frekuensi 500 kiloherzt-2 megahertz–menjadi perangkat komunikasi favorit bagi pasukan GAM.
Roy Suryo, pakar multimedia dari Universitas Gadjah Mada, mengungkap pelacakan posisi GAM lewat sinyal HT merupakan metode yang paling “sederhana”. Dalam dunia radio amatir, pelacakan yang disebut “fox hunting” (berburu musang) itu kerap dipakai untuk merazia perangkat radio komunikasi ilegal. Caranya, tiga pemburu yang juga membawa HT memantau komunikasi radio. Para pemburu ini harus dilengkapi dengan “transceiver signal” dan peta wilayah yang disisir. Agar didapat hasil yang akurat, pemburu mengejar dari posisi koordinat yang berbeda. Mereka, dengan panduan sinyal transceiver, mendekati dan mengepung posisi “sang Musang”. Agar memperoleh jarak aman, ketiga tim pemburu membuat perkiraan posisi lawan dengan menarik garis pada peta. “Akurasi teknik ini sangat tinggi,” tutur Roy.
Tentu saja, selain operasi penangkapan anggota GAM, TNI juga dapat menyadap isi komunikasi lawan lewat handy talkie. Untuk memecahkan kode dan sandi perang GAM, TNI meminta bantuan orang-orang lokal. “Kami menggunakan seorang tawanan untuk menerjemahkan isi komunikasi GAM,” ujar Kolonel (Inf.) Andogo Wiradi, Komandan Satgas Mobil 1. Satgas ini membawahkan wilayah operasi Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang.
Untuk memudahkan pelacakan komunikasi GAM, Penguasa Darurat Militer Aceh meminta pengguna radio amatir di Aceh menyerahkan perangkat radio mereka. Tujuannya sederhana: mengurangi penggunaan frekuensi radio oleh orang-orang non-GAM. Artinya, bila masih terpantau sinyal komunikasi handy talkie, bisa dipastikan mereka adalah pasukan GAM yang tengah berkoordinasi.
Tapi, cara ini justru ditentang Roy. “Ini justru membuat ’sang Musang’ semakin berhati-hati,” katanya.
Cara lain yang bisa dilakukan adalah memantau komunikasi telepon seluler. Inilah yang dulu dilakukan oleh polisi saat membekuk Tommy Soeharto di kawasan Jakarta Selatan. Saat itu pihak Polri telah menggunakan peralatan monitor yang disebut cellular digital intercept buatan Amerika Serikat. Peralatan canggih yang hanya bisa dibeli dengan pola “G to G” (antar-pemerintah) ini mampu langsung mendeteksi posisi telepon seluler tertentu. Posisi pengguna masih berpatokan pada letak base transceiver station (BTS) yang memiliki radius dua kilometer.
Pelacakan telepon seluler di wilayah perang Aceh terbilang mudah. Soalnya, operator yang benar-benar eksis di Aceh hanyalah Telkomsel. TNI pun telah meminta bantuan Telkomsel supaya membantu melacak beberapa nomor yang menjadi TO alias target operasi. Lagi-lagi, ujar Roy, Penguasa Darurat Militer Aceh melakukan kesalahan strategi. Beberapa waktu lalu penjualan kartu perdana prabayar sempat dipersulit dengan pelbagai persyaratan administrasi. Akibatnya, kata Roy, “GAM membeli kartu dari luar Aceh.”
GAM bukannya tak tahu pelacakan jalur komunikasi mereka. Tak aneh, petinggi GAM Sofyan Daud, misalnya, kini tak lagi bisa dihubungi lewat telepon selulernya. Sofyan hanya menggunakan telepon satelit Byru (dengan nomor prefiks 086
keluaran Pasifik Satelit Nusantara untuk berkomunikasi. Secara teknis, pelacakan posisi pengguna telepon satelit seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Soalnya, footprint sinyal satelit mencakup area seluas 200 kilometer persegi. Sedangkan coverage area Pasifik Satelit Nusantara meliputi hampir seluruh Asia Pasifik.
Peluang pelacakan telepon satelit bukannya tertutup sama sekali. TNI bisa melakukan penyadapan langsung pembicaraan via telepon satelit. Selain dapat mengungkap rencana serangan, langkah ini juga untuk membongkar jaringan pendukung GAM. Cara ini bisa dilakukan langsung karena sinyal uplink dan downlink satelit masih berbentuk sinyal analog (sinyal listrik). Hal ini berbeda dengan penyadapan komunikasi digital, yang harus mentransfer kode-kode biner digital ke sinyal analog.
Seperti tak mau kalah, pasukan GAM memutar strategi. Menghadapi pelacakan jalur komunikasi oleh TNI, pasukan GAM melakukan aksi gerilya dengan mobilisasi yang cepat. Akibatnya, meski sinyal komunikasi sempat terpantau, bisa jadi GAM segera meninggalkan lokasi itu. Sofyan Daud, Panglima Perang GAM Wilayah Pase, mengungkapkan bahwa mereka masih tak tersentuh oleh TNI. “Dalam perang ini, kamilah yang menentukan kapan dan di mana perang berlangsung,” katanya.
Setiyardi (Jakarta) dan Abdul Manan (Aceh)
***
TAHAPAN PELACAKAN GAM DENGAN ‘HANDY TALKIE’:
1. TNI memindai rentang frekuensi untuk komunikasi handy talkie (500 kilohertz-2 megahertz). Setelah ditemukan ,TNI harus membentuk tiga “Tim Pemburu”.
2. Tiap tim berangkat dari posisi koordinat yang berbeda, harus dilengkapi dengan : handy talkie, transceiver signal, peta wilayah tempur, dan persenjataan lengkap.
3. Tiap tim bergerak mendekati arah sinyal dari GAM, dengan berpatokan pada transceiver signal.
4. Tim harus saling berkoordinasi dan dapat menarik garis pada peta untuk menentukan posisi GAM dengan akurasi hingga 10 meter.
TEMPO Edisi 030629-017/Hal. 96 Rubrik Ilmu & Teknologi
Filed under: Peristiwa
Filed under: Politics
Filed under: Politics
DUSK swept over Sudan Hill, Matang Kumbang, Bireuen. The sea breeze cut to the bone, while the cloud over the hills continued to thicken. From behind an areca pinang palm, indistinct moaning was just audible. Second Lt. Karno immediately headed towards the sound. He was extremely shocked to see one of his men lying covered in blood. Hurriedly, he helped the heavy-set soldier.
Unknown to him, though, a fighter from the Free Aceh Movement (GAM), was hiding close by, and suddenly let loose a burst of shots. Karno died on the spot. Apparently, the GAM fighter had been caught in the clash and had failed to escape. He had then hidden in a small foxhole, close to the fallen Indonesian soldier. The man was then himself also killed in a hail of bullets from the comrades of the fallen Indonesian soldier.
On the south side of the hill, located in the northern part of Nanggroe Aceh Darussalam province, the fighting was more savage. Dozens of Indonesian troops had launched an attack at the heart of their enemy’s position. It was a determined move. Because, in the blur of twilight, the opponents were only meters apart. And as expected, a series of shots barked out from the top of the hill. Three Indonesian soldiers fell after being hit. Death claimed them all. The exchange continued until far into the night.
Early the following day, two Tuesdays ago, TNI (Indonesian Military) troops swept through the hills. As widely reported, the bodies of five GAM members were found, including that of a woman fighter, termed an Inong Balee in GAM’s military parlance. The TNI itself acknowledged the deaths of seven personnel with another seven badly wounded (see Inong Balee: Lust for Revenge).
This has been the bloodiest exchange to date. “The most heroic and the most valuable of the war so far,” Maj. Gen. Bambang Dharmono, TNI’s Military Operations Commander told reporters shortly after the evacuation of the bodies of his troops from the hell hill. An honest statement that at the same time proved that GAM’s military will not easily fold. Since the military emergency came into effect on May 19, the fight at Sudan Hills has certainly been the largest. The seven soldiers killed were the most ever suffered on the Indonesian side in the war.
For GAM, this was their first success, after earlier continually getting a drumming from TNI. When contacted by TEMPO last Friday, GAM spokesperson, Sofyan Daud, did not mince his words. “The clash at Sudan Hill is proof that in the hills and mountains we are superior,” he said by satellite telephone. He even threatened that the coming clashes will be even more awesome. “Make a note of that,” he snarled savagely.
Since this war broke out, the leaders of the movement have boasted that the elite units in the body of GAM would dictate where and when the fights would happen. Sofyan Daud said that the GAM top echelons have ordered its special military units to intercept the TNI in mountainous, hilly and other difficult areas.
GAM’s special units? The force that fought all out against the TNI at Sudan Hills was the Singa Mate troop, the elite unit of GAM’s army, led by Darwis Jeneib. Sofyan claims that Darwis is a regional commander–as in the TNI–for the Bireuen area. “Darwis escaped the fight unscathed, and is now ready to carry on the battle,” asserted Sofyan.
In its structure, GAM does have a number of special units. Its elite Singa Mate unit, for instance, is also often termed the green berets, because its men wear these to identify themselves as being from that unit. In their navy they have a special unit called Singa Metareng, which is also called the red berets.
These top special force troops received a special education. They were toughened up at Tanjura, Libya. In the land of Muammar Qaddafi hundreds of young Acehnese have had their military training. Hasan Tiro–GAM’s leader whom TEMPO met in Stockholm, Sweden, some time ago–proudly played a recording of his speech to GAM troops in Tripoli, Libya, in 1985.
Hasan spoke in Arabic, French, English, and Acehnese. What he said was laden with exhortations to heroism and was full of thunder. From that it could clearly be heard that Tiro placed more hope in his troops to liberate Aceh, rather than reaping this from following a diplomatic route. Although split into various factions, it is Hasan Tiro’s camp which has been most influential on the troops and members of GAM.
All its soldiers, especially its elite troops, are almost all fully armed. Apart from carrying AK-47s, they have grenade launchers, and walkie-talkies as their means of communication. The fight at Sudan Hills began with a thundering attack from grenade launchers atop a hill in the direction of the TNI’s trucks passing on patrol. As soon as the TNI soldiers were lured to the top of the hill, the bark of Kalashnikovs from above greeted them.
In the midst of the fierce exchanges of fire, the TNI’s communication system managed to tap into the communication of the GAM heads. They could be heard asking for assistance from their troops in the several nearest areas. At the end of the fight, their soldiers were urged to hightail it into the dense jungle behind the hill. Safe.
As they entered the fourth week of the war, it would be fair to say TNI’s troops were riding high. The data released by TNI states that, as of last week, 172 GAM personnel had been shot dead, 111 more captured and 144 had surrendered. Although GAM’s heads claim the casualties are generally civilians, the facts in the field show that their forces are being pushed in almost all areas. GAM’s elite units have now moved out to the hills, mountains, and swamps.
Apart from the Sudan Hill area, GAM’s forces have also retreated to the areas of Mount Leuser and Mampree jungle, Mount Patisah, and Pidie Regency. The Mampree jungle holds the story of the heroism in the history of this movement’s struggle. It was there at end of the 1970s, that Hasan Tiro, who now resides in and has become a citizen of Sweden, was a guerilla before finally fleeing to a neighboring country.
Apart from retreating to the mountains, GAM’s forces will also slip back into a number of swampy areas if they are being squeezed by their enemies. GAM spokesperson, Sofyan Daud, for instance, is thought to be in Jambo Aye, Panton Labu, North Aceh. That area is often said to be a favorite of Sofyan’s troops. Because, if they are under pressure from their enemy, they can slip back into the wide swamps there (see Running the GAM Gauntlet).
It is not surprising then that the TNI’s concentration is on this problematic area. Two weeks ago, TNI’s Cakra troops and Mobile One Task Force had it completely surrounded for three days. Volleys of shots were exchanged. Commander of the military operations command, Brig. Gen. Bambang Dharmono, who supervised the encirclement, said: “We have intensified this operation to get to the points where they are concentrated. We come, and then we wipe them out.”
But then at the end of the siege, Sofyan seemed to just vanish. Did the GAM propaganda expert, who is also its commander for the Pase area, escape? He admits that GAM’s network intelligence had already sniffed out that preparations were under way for a large-scale entrapment in the area. That was why, “I had already slipped out into the swamps,” he said, laughing.
The swamps have unquestionably become the safest areas for GAM’s military to flee to. In East Aceh, for instance, the Matang Ibong swamp, Peurlak, is a haven for GAM members in which to save themselves. It is there that their forces like to practice their hit and run tactic. They head off outside to attack their opponents, slipping back into the swamps if their enemy counterattacks, then attack again if the enemy gets careless, and so on indefinitely.
That was the tactic they adopted when TNI soldiers from Baladika Strike Detachment, led by Capt. Riyanto, transited through Peurlak, two weeks ago. They were suddenly strafed by dozens of GAM. The whiz of bullets going both ways broke the still of the
quiet little village. Three GAM troops were killed there. Feeling they were being penned in left and right, dozens of the armed separatists fled into the swamps. The rest scattered by river using speedboats. “They weren’t pursued, and escaped,” said Riyanto.
Another escape route has also been readied. Some have vanished into other towns and cities in Sumatra in the last three weeks. Police in Aceh had already detected there was such an escape plan. That is why they have posted a number of personnel at a number of ports and routes out of Aceh. The police have to check everyone leaving the port. If anyone appears suspicious, they are then arrested.
Apart from guarding the ports, police are also making ID card raids along roads. Certainly, police in Aceh have not yet caught anyone at all throughout these checks on roads. “But at least we have already closed off the exit routes,” said Adj. Chief Comr. Sayed Husaini, spokesperson for Aceh regional police command. “If we don’t comb them out now, after six months of this military emergency, they could exist again,” commented Bambang Dharmono.
With such a close watch being kept, GAM should be kept penned up in Aceh, so they can then be crushed by Indonesia’s armed forces. But a number of GAM members have also slipped out of Aceh. Last Thursday, for instance, Riau police caught seven who had fled there. The seven, say police, are active GAM fighters from the Pidie area. They were picked up in Pekanbaru. In Medan, two weeks ago, police succeeded in pinning down Mustafa Ibrahim, Sagoe Commander–of the same standing as a Military District Commander in the TNI–of GAM’s Panggoi area, North Aceh.
How could they escape from under the TNI’s noses in Aceh? According to National Police chief Gen. Da’i Bachtiar, the GAM fighters who have fled did not travel on public routes, but used so-called “rat routes”. That is how they managed to slip out of Aceh and live in a number of small cities in Sumatra, after changing their identities.
The tactic of changing identity has also been used in a number of regencies in Aceh. If they get into an increasingly tight position, the guerillas, who also use military camouflage similar to the TNI will quickly take off their uniforms and get into civilian clothes. They then lead normal lives and skillfully blend in with the general public. They bury their weapons, ready to be used again at some time.
This GAM tactic poses many difficulties for the TNI. Because, if these disguised youths are shot, GAM can lightly claim that Indonesian troops have mistargeted again, and that civilians have been shot dead. “In fact,” said a high-ranking TNI source, “these disguised guys are very dangerous, because they have their own weapons.”
This is why recently the TNI in Aceh has been actively combing a number of areas which are suspected to hold buried weapons. These locations are thought to be in swamps and hilly areas. The small depression where 2nd Lt. Karno was shot on Sudan Hill, is suspected of being a burial place for a number of GAM’s weapons. There are many such spots on the slopes of this hill.
After that fight, the men in charge are busily changing their battle tactics. “If the enemy keeps changing his strategy, we, too, have to match that with all sorts of strategies of our own,” Army Chief of Staff, Gen. Ryamizard Ryacudu, told reporters in Lhokseumawe, Aceh last Wednesday. But Sofyan Daud did not want to be outdone. “We will serve up lots of surprises in this war.”
Mutual snapping, threats, all while victims continue to fall throughout the land, as well as on Sudan Hills. This bitterness will be lifelong.
Wenselaus Manggut, Abdul Manan, Yuswardi (Banda Aceh) Zainal Bakri (Lhokseumawe)
TEMPO, JUNE 23, 2003-041/P. 14 Heading Cover Story
Filed under: Politics
The most damaging (from the TNI perspective) ambush to date was staged by GAM as darkness fell on Tuesday, June 10. A group of approximately 60 TNI troops were attacked by GAM fighters using heavy weapons from the slopes of Sudan Hill as the soldiers were traveling along a road at Matang Kumbang Village, Peusangan District, North Aceh. The battle, which was fought in the dark, left seven TNI soldiers and five GAM fighters dead. Among the dead guerillas was a member of the GAM women’s wing, the Inong Balee.
Filed under: Politik
Setelah pertempuran di Bukit Sudan, TNI menyusun siasat baru. Mengapa GAM susah ditekuk?
Filed under: Politik
Filed under: Politik
Filed under: Politics
Setelah pertempuran di Bukit Sudan, TNI menyusun siasat baru. Mengapa GAM susah ditekuk?
Tak disangka, di dekat tubuh sang prajurit itu bersembunyi seorang tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang tiba-tiba melepas tembakan beruntun. Tretetet.., braak, Karno langsung roboh. Ia tewas seketika. Rupanya serdadu GAM itu terjebak di arena pertempuran dan gagal menyelamatkan diri. Ia lalu bersembunyi di sebuah lubang kecil, dekat tentara Indonesia yang tersungkur. Si GAM juga kemudian mati dihantam pelor tentara Republik lainnya.
Di sisi selatan bukit yang terletak di belahan utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam itu, pertempuran lebih sengit. Puluhan pasukan Indonesia berusaha merangsek ke jantung musuh. Langkah ini tergolong nekat. Sebab, di keremangan petang itu jarak pandang cuma dalam hitungan meter. Dan benar saja, rentetan tembakan menyalak dari atas bukit. Tiga tentara Indonesia tersambar peluru. Maut langsung menjemput. Perang ini baru berhenti tengah malam.
Esoknya, Selasa dini hari pekan lalu, pasukan TNI menyapu kawasan perbukitan itu. Sebagaimana luas diberitakan, lima orang GAM ditemukan tewas, termasuk seorang serdadu wanita, disebut Inong Balee dalam struktur militer GAM. Di pihak TNI sendiri tercatat tujuh tentara yang tewas dan tujuh orang lainnya luka parah (lihat boks Inong Balee, Dibakar Dendam).
Inilah pertempuran yang paling berdarah-darah. “Paling heroik dan bernilai tinggi selama perang ini,” kata Brigadir Jenderal Bambang Dharmono, Panglima Komando Operasi Militer TNI, kepada wartawan sesaat setelah evakuasi mayat pasukannya dari bukit jahanam itu. Sebuah pernyataan yang jujur sekaligus menjadi bukti bahwa militer GAM ternyata tak gampang ditekuk. Sejak berlakunya darurat militer 19 Mei lalu, pertempuran di Bukit Sudan, Bireuen, itu memang yang terbesar. Tujuh tentara yang tewas itu adalah korban terbesar di pihak Indonesia selama perang ini.
Bagi GAM, inilah keberhasilan pertama mereka, setelah sebelumnya terus-terusan dihajar TNI. Ketika dihubungi TEMPO Jumat pekan lalu, Sofyan Daud, juru bicara GAM, mengumbar kata. “Perang di Bukit Sudan itu adalah bukti bahwa di bukit-bukit dan di gunung-gunung, kami lebih unggul,” tuturnya melalui sambungan telepon satelit. Ia pun mengancam bahwa pertempuran berikutnya akan lebih dahsyat. “Catat itu,” sergahnya dengan nada garang.
Sejak awal perang ini meletus, para petinggi gerakan itu telah sesumbar bahwa satuan elite dalam tubuh GAM yang akan mendikte ihwal di mana dan kapan perang akan berlangsung. Sofyan Daud menyebut bahwa petinggi GAM telah memerintahkan satuan-satuan khusus militer gerakan itu untuk mencegat tentara Indonesia di wilayah pegunungan, bukit, dan daerah rawan lainnya.
Satuan khusus GAM? Yang habis-habisan bertempur melawan TNI di Bukit Sudan itu adalah Pasukan Singa Mate, satuan elite Angkatan Darat GAM, pimpinan Darwis Jeneib. Menurut Sofyan, Darwis adalah panglima regional–semacam Pangdam–untuk daerah Bireuen. “Darwis luput dari baku tembak itu, dan kini siap melanjutkan pertempuran,” kata Sofyan.
Dalam strukturnya, GAM memang memiliki sejumlah satuan khusus. Satuan elite angkatan darat bernama Singa Mate itu, misalnya, juga kerap disebut pasukan baret hijau, karena menggunakan topi berwarna hijau sebagai baret kesatuannya. Di angkatan laut mereka memiliki satuan khusus bernama Singa Metareng, yang juga disebut pasukan baret merah.
Para pentolan pasukan khusus itu mendapat pendidikan istimewa. Mereka lama digembleng di Tanjura, Libya. Di Negeri Muammar Qadhafi inilah ratusan pemuda Aceh pernah dilatih secara militer. Kepada TEMPO yang menemuinya di Stockholm, Swedia, beberapa waktu lalu, Hasan Tiro–Presiden GAM–dengan bangga memperdengarkan rekaman pidatonya di hadapan pasukan GAM di Tripoli, Libya, pada 1985.
Pidato Hasan disampaikan dalam bahasa Arab, Prancis, Inggris, dan Aceh. Isinya heroik dan penuh gelegar. Di situ jelas terdengar bahwa Tiro lebih menaruh harapan pada para serdadu itu untuk memerdekakan Aceh, ketimbang menuainya dari jalur diplomasi. Meski terbelah dalam pelbagai faksi, kubu Hasan Tirolah yang sangat berpengaruh bagi para serdadu dan anggota GAM.
Para serdadu itu, terutama pasukan elitenya, hampir semuanya bersenjata lengkap. Selain menenteng AK-47, mereka punya pelontar granat, juga handy talkie sebagai alat berkomunikasi. Pertempuran di Bukit Sudan, Senin pekan lalu itu, dibuka dengan gelegar serangan pelontar granat dari atas bukit ke arah truk-truk militer Indonesia yang sedang berpatroli. Begitu tentara Indonesia terumpan ke atas bukit, salakan Kalashnikov dari atas bukit langsung menyambut.
Di tengah serunya baku tembak itu, sistem komunikasi TNI berhasil menyadap lalu lintas pembicaraan para petinggi GAM. Di situ terdengar, mereka meminta bantuan pasukan dari beberapa wilayah terdekat. Pada akhir pertempuran itu, pasukan mereka terdesak lalu mengambil langkah seribu ke balik bukit yang dirimbuni belukar. Selamat.
Memasuki pekan keempat dalam perang ini, boleh dibilang pasukan Indonesia berada di atas angin. Data yang dilansir TNI menyebutkan, hingga pekan lalu, 172 GAM tewas ditembak, 111 ditangkap, dan 144 menyerah. Walau petinggi GAM mengklaim bahwa korban umumnya warga sipil, fakta di lapangan terlihat bahwa tentara mereka terdesak hampir di semua wilayah. Satuan-satuan elite GAM itu kini menyingkir ke perbukitan, ke gunung, juga ke rawa-rawa.
Selain di kawasan Bukit Sudan, pasukan GAM juga menyingkir ke kawasan Gunung Leuser dan di belantara Mampree, Gunung Patisah, Kabupaten Pidie. Hutan Mampree itu menyimpan heroisme dalam sejarah perjuangan gerakan ini. Di situlah, dulu, akhir tahun 1970-an, Hasan Tiro, sang Wali Nanggroe, yang kini menetap dan menjadi warga negara Swedia, bergerilya sebelum akhirnya hengkang ke negeri seberang.
Selain ke gunung-gunung, tentara GAM juga menyingkir ke sejumlah daerah rawa-rawa jika dijepit musuh. Juru bicara GAM, Sofyan Daud, misalnya, diduga berada di daerah Jambo Aye, Panton Labu, Aceh Utara. Kawasan ini disebut-sebut amat dicintai oleh pasukan Sofyan. Sebab, jika terdesak musuh, mereka bisa menyelinap ke rawa-rawa yang cukup luas (lihat Jalur Maut GAM).
Tak mengherankan jika konsentrasi TNI mengarah ke kawasan rawan itu. Dua pekan lalu, Pasukan Cakra dan Satgas Mobil Satu dari TNI mengurung ketat selama tiga hari. Salakan peluru bersahut-sahutan. Panglima Komando Operasi Militer, Brigadir Jenderal Bambang Dharmono, yang ikut mengawasi jalannya pengepungan itu, bilang, “Kami mengintensifkan operasi ini sampai titik di mana konsentrasi mereka berada. Kami datang, lalu kami hancurkan.”
Tapi hingga akhir pengepungan itu, Sofyan seperti raib. Loloskah juru propaganda yang juga Panglima GAM Wilayah Pase ini? Sofyan mengaku bahwa jaringan intel mereka sudah mencium adanya persiapan besar-besaran untuk mengurung kawasan ini. Itu sebabnya, “Saya sudah meloloskan diri ke daerah rawa-rawa sesaat sebelum dikepung,” katanya sembari tertawa.
Daerah rawa-rawa memang menjadi kawasan paling nyaman bagi tentara GAM untuk kabur. Di Aceh Timur, misalnya, kawasan rawa-rawa Matang Ibong, Peurlak, adalah surga bagi anggota GAM untuk menyelamatkan diri. Di sini tentara mereka gemar menggunakan siasat hit and run. Melesat keluar menyerang lawan, menyelinap ke rawa-rawa jika musuh balik merangsek, lalu menyerang lagi kalau musuh sedang lengah, dan begitu seterusnya.
Siasat itulah yang mereka lakukan ketika anggota TNI dari Detasemen Pemukul Baladika, pimpinan Kapten Riyanto, melintas di Peurlak, dua pekan lalu. Mereka mendadak diberondong oleh puluhan tentara GAM. Desingan peluru bersahut-sahutan memecah keheningan kampung kecil itu. Tiga GAM tewas di situ. Merasa dijepit kiri-kanan, puluhan gerakan separatis bersenjata lainnya kabur ke rawa-rawa. Sisanya ngacir menggunakan speedboat lewat sungai. “Mereka tak terkejar dan lolos,” kata Riyanto.
Rute lolos lainnya juga disiapkan. Mereka kabur ke kota-kota lain di kawasan Sumatera dalam tiga pekan terakhir ini. Aparat kepolisian di Aceh sudah mencium adanya rencana melarikan diri itu. Dan itu sebabnya, kepolisian menem-patkan sejumlah personel di sejumlah pelabuhan laut dan jalur-jalur keluar di seantero Aceh. Tugas para polisi adalah memelototi setiap orang yang
keluar melewati pelabuhan. Bila mencurigakan, tangkap.
Di samping menjaga pelabuhan, aparat kepolisian juga melakukan razia KTP di jalan-jalan. Memang, hingga sekarang pihak kepolisian Aceh belum menangkap seorang pun selama pemeriksaan di jalan-jalan itu. “Tapi paling tidak kita sudah menutup jalur-jalur keluar itu,” kata Ajun Komisaris Besar Polisi Sayed Husaini, juru bicara Polda Aceh. “Jika tidak disisir sekarang, setelah enam bulan masa darurat militer ini, mereka bisa eksis lagi,” kata Bambang Dharmono.
Dengan pengawalan ketat seperti itu, diharapkan GAM akan terkurung terus di Aceh, hingga bisa ditekuk oleh tentara Indonesia. Tapi sejumlah anggota GAM lolos juga ke luar Aceh. Kamis pekan lalu, misalnya, polisi Riau menangkap tujuh anggota yang kabur ke wilayah itu. Ketujuh orang itu, kata polisi, adalah tentara aktif GAM di wilayah Pidie. Mereka juga terciduk di Pekanbaru. Di Medan, dua pekan lalu, polisi sukses mencokok Mustafa Ibrahim, Panglima Sagoe–setingkat Komandan Rayon Militer dalam TNI–GAM Wilayah Panggoi, Aceh Utara.
Bagaimana mereka bisa lolos dari intaian aparat di Aceh? Menurut Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar, pasukan GAM yang kabur itu tidak melewati jalur-jalur umum sebagaimana masyarakat biasa, tetapi melalui “jalan tikus”. Dengan cara inilah mereka menyusup keluar perbatasan Aceh dan menetap di sejumlah kota kecil di kawasan Sumatera–setelah menukar identitasnya.
Siasat ganti identitas itu juga dilakukan di sejumlah kabupaten di Aceh. Jika posisi mereka kian terjepit, para gerilyawan yang juga mengenakan seragam loreng mirip tentara Indonesia itu akan segera melepas busana perang itu dan berganti pakaian biasa. Mereka lalu hidup normal dan luwes membaur di tengah masyarakat. Senjata-senjata dikuburkan di tanah, untuk sewaktu-waktu digunakan lagi.
Taktik GAM itu cukup menyulitkan tentara Indonesia. Sebab, bila para pemuda yang menyaru itu ditembak, GAM dengan enteng mengklaim bahwa pasukan Indonesia salah sasar, warga sipil ditembak mati. “Padahal,” kata sumber yang merupakan petinggi TNI ini, “para penyamar itu amat berbahaya, karena mereka sendiri memiliki senjata.”
Sebab itu, belakangan ini TNI di Aceh aktif menyisir sejumlah kawasan yang diduga sebagai tempat penguburan senjata. Lokasinya diduga ada di rawa-rawa dan wilayah perbukitan. Lubang kecil, tempat Letnan Dua Karno tertembak di Bukit Sudan itu, termasuk dicurigai sebagai tempat penguburan sejumlah senjata milik GAM. Lubang seperti itu banyak ditemukan di lereng bukit tersebut.
Setelah pertempuran itu, pekan-pekan ini para petinggi sibuk mengubah taktik perang. “Kalau musuh mengubah-ubah strategi, kita pun harus menangkalnya dengan bermacam-macam strategi,” kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Ryamizard Ryacudu, kepada wartawan di Lhokseumawe, Aceh, Rabu pekan lalu. Tapi Sofyan Daud tak mau kalah. “Kami akan menyajikan banyak kejutan dalam perang ini.”
Saling gertak, saling ancam, lalu korban berjatuhan di seantero negeri, juga di Bukit Sudan. Kepedihan ini akan terpendam sepanjang hayat.
Wenselaus Manggut, Abdul Manan, Yuswardi ( Banda Aceh) Zainal Bakri (Lhokseumawe)
TEMPO Edisi 030622-016/Hal. 26 Rubrik Laporan Utama
Filed under: Politics
Tiarap atau membaur bersama masyarakat sipil keluar dari Aceh. Itulah yang ditengarai Panglima Komando Operasi TNI Brigjen Bambang Darmono. “Saya pikir selama darurat militer mereka tiarap atau membaur di tengah masyarakat sipil,” katanya. Kenyataannya memang banyak anggota GAM yang ditangkap di luar Aceh, mulai dari Medan, Riau, Pekanbaru, hingga Jakarta, setelah pemerintah memberlakukan status darurat militer di Tanah Rencong. Inilah jalur dan tujuan pelarian gerilyawan anggota GAM.
+++
Sumatera Utara
MEDAN : Ini daerah tujuan favorit, karena itulah paling banyak pejabat GAM ditangkap di sini. Panglima Sagoe GAM Wilayah Pase untuk kawasan Ponggui, Aceh Utara, Mustafa Ibrahim (27 tahun), Isnandar (27), sekretaris GAM wilayah Medan, dan Nurdin (32), anggota tentara GAM, ditangkap polisi 27 Mei 2003
LANGKAT : Untuk masuk kawasan Sumatera Utara, ada dua jalur: darat dan laut.
Jalur darat ditembus dengan memasuki kawasan pegunungan Bukit Barisan, juga kawasan Taman Nasional Gunung Leuser serta perkebunan kelapa sawit di perbatasan Kabupaten Langkat dan Aceh Timur serta Aceh Tamiang. Jalur ini sering disebut “jalur pasokan ganja”.
Jalur laut umumnya menggunakan kapal nelayan. Sebelum masuk kawasan Pangkalan Susu, Pangkalan Brandan, mereka singgah di Pulau Kampai. Pulau ini pernah menjadi sarang GAM dan membuat kawasan ini pernah diserbu satuan Brimob. Kini di pulau itu ditempatkan satuan Brimob.
KARO : Kini jalur ini berbatasan dengan Kabupaten Dairi-Aceh Tenggara. Di sini Panglima Sagoe GAM Wilayah Liang Pange dan Bunbun Alas, Aceh Tenggara, M. Amin, ditangkap Batalion 122/Tombak Sakti setelah sebelumnya anak buahnya tertangkap saat menyusup dari lintas perbatasan wilayah itu.
DELI SERDANG : Polisi menangkap 10 pejabat GAM, antara lain Yahya bin Hanafiyah, Wakil Panglima GAM Wilayah Deli Serdang.
Palembang, Sumatera Selatan : Tengku Ali alias Yanto bin Marli. Tertangkap 5 Juni 2003. Ali mengaku melarikan diri melalui jalur darat bersama seorang kawannya, Amri (30) karena ketakutan.
Bengkulu : Polisi menangkap 9 pejabat GAM, antara lain Moh. Jamil bin Abdul Rahman, penasihat GAM wilayah Bengkulu, Said bin Said Syah, A.N. Nasru Alias Ayah Kumis, Darwin, Zukifli bin Alamsyah, Musa bin Jamil, Edi Junaidi bin Alamsyah, Mansyur bin Wahab, dan Asri M. Saleh.
Jonggol, Jawa Barat : Nurdin Apadin diduga pemasok amunisi GAM dari Jakarta di bawah komando langsung Panglima Tinggi GAM, Muzakir Manaf.
Riau : Pada 12 Juni, polisi menangkap tujuh anggota GAM yang melarikan diri lewat jalur laut.
Jakarta : Irwandi Yusuf alias Isnandar alias Faseh, juru propaganda GAM, ditangkap di Cipinang, Jakarta Timur, pada 23 Mei.
Batam : Terdapat 42 titik yang dinilai menjadi pintu masuk pelarian mereka. Titik itu meliputi pelabuhan-pelabuhan liar yang ada di Batam.
Pulau Phuket, Thailand : Diduga anggota GAM keluar-masuk Aceh-Pulau Phuket untuk berbelanja senjata. Di Thailand inilah mereka bertemu pembantu utama Hasan Tiro, Zakaria Zaman alias Karim Bangkok. Akhir April lalu, tim gabungan Cakra Tujuh Marinir menangkap tiga anggota GAM di wilayah laut Pantai Kreung Geugeua, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Mereka bersenjata AK-47, pistol Colt standar kepolisian, dan FN-16.
+++
Jalur Utama : Tujuan utamanya Medan. Jalur ini meliputi kota Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang. Beberapa anggota GAM disinyalir melewati jalur ini bersama pengungsi.
Jalur Barat Sumatera : Jalurnya berawal dari Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Barat, hingga Aceh Singkil. Namun, melihat intensitas konflik yang tinggi di daerah barat Aceh, jalur ini tak lagi diminati.
Jalur Udara : Peluang terbesar lewat Bandara Iskandar Muda di Banda Aceh. Umumnya mereka menempuh jalan darat dulu hingga ke Medan dan baru terbang dari Bandara Polonia ke kota-kota lain di Jawa.
Jalur Laut : Jalur ini memanfaatkan Pelabuhan Malahayati. Tapi saat ini Malahayati sudah “ditutup” rapat, sehingga kecil kemungkinan jalur ini dipakai. Trennya kini menyusup ke Medan dengan menyamar sebagai nelayan dan tinggal di rumah kerabat mereka di pantai Timur Selat Malaka hingga Tanjung Balai Asahan. Di kawasan Tanjung Tiram Asahan pernah terjadi baku tembak aparat dengan GAM.
Jalur Tikus : Jalur ini menjadi primadona karena kemungkinan lolos lebih besar. Caranya, anggota GAM menyelinap dan kabur melalui rawa-rawa yang terdapat di sepanjang pantai timur dan sebagian barat Aceh. Salah satu contoh adalah saat kontak senjata di Matang Nibong, Peureulak, Aceh Timur, 22 Mei lalu. Saat itu 11 anggota Detasemen Pemukul Baladika yang dipimpin Kapten Riyanto melintas di daerah tersebut. Tiba-tiba dia diserang oleh sekitar 100 anggota GAM. Kontak senjata pun pecah, tapi GAM bisa lolos lewat rawa-rawa ini. “Mereka kabur dengan speedboat dan sebagian dengan perahu biasa ke laut,” kata Riyanto.
Adi Prasetya, Abdul Manan (NAD), Bambang Soed (Medan)
TEMPO Edisi 030622-016/Hal. 30 Rubrik Laporan Utama
Filed under: Politics
TAK salah bila pasukan Gerakan Aceh Merdeka menasbihkan diri sebagai penentu lokasi pertempuran. “Kamilah yang menentukan kapan dan di mana perang akan berlangsung,” kata juru bicara GAM, Teungku Sofyan Daud. Taktik gerilya membuat pasukan GAM, yang telah raib dari kota dan kampung, bisa muncul di mana saja.
Sofyan Daud sendiri sampai kini tak tentu rimbanya. Ia hanya bisa dihubungi lewat telepon bergerak satelit yang selalu ditentengnya selama bergerilya. Menurut data Satuan Tugas Mobil 1 TNI, posisi Panglima GAM Wilayah Pase ini di sekitar Rantau Seulamat, Aceh Timur. Sebelumnya ia dan pasukannya dikabarkan berada di sekitar rawa-rawa dekat Desa Meunasah Raya di kawasan Jambo Aye, Aceh Utara. Sepekan lalu, TNI mengepung dan menyiram rawa-rawa itu dengan peluru. Tapi dia lolos.
Ke mana Sofyan dan pasukannya? Tak seorang pun tahu. Sofyan pun enggan ditanya soal posisinya.
Di seantero Aceh, ada empat daerah yang ditandai sebagai daerah hitam–daerah basis GAM–yaitu Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie. Di daerah-daerah inilah sebagian besar dari 5.000 anggota GAM tersebar. Patut dicatat, keempatnya terletak di sepanjang jalur darat dari Banda Aceh menuju Medan. Tidak mengherankan jika di jalur ini kerap terjadi sweeping dan penghadangan oleh GAM. Korbannya tak hanya aparat TNI, tapi juga warga sipil yang tengah melintas.
Pada 3 Juni lalu, misalnya, GAM menghadang konvoi truk TNI di Desa Simpang Tiga Beracan, Kecamatan Trieng Gading, Pidie. Dua anggota TNI luka ringan dalam peristiwa ini. Dua hari kemudian, GAM menghadang 21 anggota pasukan Cakra 21 yang tengah menuju Alue Bate, Peureulak, Aceh Timur, dari Panton Labu, yang melukai anggota Tim Cakra, Prajurit Kepala Junaidi.
Penghadangan besar dilakukan pasukan khusus GAM pada Selasa, 10 Juni, menjelang petang di jalan Desa Matang Kumbang, Kecamatan Peusangan, Aceh Utara. Sekitar 60 anggota TNI dihujani tembakan senjata berat dari punggung bukit Sudan di seberang jalan. Pertempuran besar sampai hari gelap ini menewaskan tujuh prajurit TNI dan lima anggota GAM, satu di antaranya anggota pasukan khusus wanita GAM, Inong Balee.
Gerilya GAM tampaknya membuat pasukan TNI harus senantiasa waspada, terutama tatkala melewati jalur maut tersebut.
Tomi Lebang, Abdul Manan (Aceh)
+++
Posisi Strategis
- Kawasan Paya Meuligoe, Aceh Timur
- Keude Geurubak, Idi Rayeuk, Aceh Timur
- Kuala Simpang Ulim, Simpang Ulim, Aceh Timur
- Leupen Sireun, Aceh Utara.
Tempat Latihan
- Sungai Leu’i, Aceh Tamiang : Daerah ini merupakan tempat latihan bagi tentara baru GAM.
- Paya Meuligoe, Aceh Timur : Pendidikan lanjutan setelah dari Sungai Leu’i.
- Keude Geurubak, Idi Rayeuk, Aceh Timur : Pendidikan tingkat perwira untuk tentara GAM. Banyak panglima GAM di berbagai daerah lulusan kamp pelatihan ini.
Penyebaran Kekuatan
DESA TANJUNG KERAMAT, KABUPATEN ACEH TAMIANG
Panglima: Syamsuddin
Kapolda: Rajali
Gubernur: Teungku Dun alias Abu Tapa
Pasukan: 300 personel
Senjata: 10 pucuk
IDI RAYEUK, ACEH TIMUR
Panglima: Ishak Daud
Pasukan: 400 personel
Senjata: 217 pucuk
DESA MATANG ULIN, KECAMATAN LHOKSUKON, ACEH UTARA
Panglima: Muzakkir Manaf
Wakil Panglima Wilayah Pase: Sofyan Daud
Panglima Muda Daerah I Wilayah Pase: Ramli Basam
Gubernur Wilayah Pase: Said Abnan
Pasukan: 100 personel
Senjata: 80 pucuk
KECAMATAN RANTAU SEULAMAT, ACEH TIMUR
Panglima Wilayah Peureulak: Teungku Sanusi bin Malih
Pasukan: 827 personel Senjata: 344 pucuk
PAYA MEULIGOE, ACEH TIMUR
Panglima Wilayah Peureulak: Teungku Sanusi bin Malih
Pasukan: 217 personel
Senjata: tidak diketahui pasti
KUALA SIMPANG, ACEH TIMUR
Panglima Sagoe: Bahrom
Pasukan: 18 personel
Senjata: 8 pucuk
ACEH UTARA
Panglima Wilayah Batee Iliek: Teungku Darwis Jeunib
Wakil Panglima Wilayah Batee Iliek: Cut Manyak
Pasukan: 1.318 personel
Senjata: standar 815, rakitan 75
DESA JAMBO MEURITI, KECAMATAN JAMBO AYE, ACEH UTARA
Panglima Sagoe: Apacik
Kapolres: Saefuddin
Pasukan: 100 personel
Senjata: 80 pucuk
TEMPO Edisi 030622-016/Hal. 32 Rubrik Laporan Utama
Filed under: Politics
Filed under: Politics
Their accounts were confirmed by the suspects in the trial presided over by chief judge Maj. Hulwani S.H assisted by Maj. Adil Karo-Karo S.H. and Maj. Trias Kowara S.H.
Filed under: Politik
Filed under: Politik
Filed under: Politics
RUANG sidang Pengadilan Negeri Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, penuh sesak oleh tentara berbaju loreng pada Selasa pekan lalu. Mereka bukan menyerbu gedung di Jalan Iskandar Muda itu, melainkan menjadi pengunjung kasus yang menimpa rekan-rekan sesama anggota Batalion Infanteri 144 Jaya Yudha, Bengkulu. Siang itu, tiga kolega mereka sedang diadili Mahkamah Militer Banda Aceh di Lhokseumawe.
Prajurit Satu Saiful Bahri, Prajurit Dua Tony Haryanto, dan Prajurit Dua Agus Widayat, yang juga berseragam loreng, duduk di kursi terdakwa. Mereka dituduh sebagai pelaku penganiayaan warga Dusun Meunasah Raya, Desa Lawang, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, pada 27 Mei lalu dan tak menaati perintah atasan. Status terdakwa juga terpasang pada empat anggota lain dari batalion ini, yang menunggu giliran persidangan berikutnya.
Inilah pengadilan pertama bagi anggota TNI setelah darurat militer berlaku di Aceh. Para petinggi TNI seperti sedang membuktikan janji mereka sebelumnya untuk menangani pelanggaran yang dilakukan anak buahnya di lapangan dengan serius. Panglima Komando Operasi TNI, Brigjen Bambang Darmono, memang sudah menyatakan akan menggelar pengadilan lapangan dalam upaya
penegakan hukum, tak lama setelah menduduki jabatannya.
Pengadilan lapangan ini adalah pengadilan singkat, berbeda dengan pengadilan sipil yang berbelit-belit dan memakan waktu lama. Prosesnya, jika ada pelanggaran yang dilakukan prajurit, baik dalam disiplin maupun tindak pidana, kasusnya akan terlebih dahulu ditangani oleh Satuan Tugas Polisi Militer. Setelah pemeriksaan selesai dan bukti pelanggaran telah didapat, kasusnya akan dilimpahkan ke Satgas Hukum Koops dan proses pengadilan militer pun di gelar.
“Saya rasa, dalam sejarah proses pemeriksaan, penyelidikan, sampai peradilan, ini yang tercepat,” kata Bambang Darmono. Pernyataan Bambang memang terbukti di ruang sidang. Pada pengadilan pertama Selasa lalu, Hakim Mayor CHK Hulwani, S.H. hanya memberi waktu satu hari kepada penasihat hukum untuk memberikan tanggapan atas dakwaan yang disampaikan oditur militer. Padahal waktu itu penasihat terdakwa, Mayor Weni Okianto dan Kapten Kurniadi, meminta waktu tiga hari untuk membuat tanggapan atas dakwaan oditur.
Serba kilat juga terasa ketika oditur militer meminta waktu tiga hari untuk memberikan tanggapan atas tanggapan penasihat hukum dan hakim memutuskan waktu satu jam. Bahkan, untuk membuat putusan sela, majelis hakim hanya butuh jeda setengah jam guna memberi putusan, yakni menolak eksepsi terdakwa dan meminta sidang dilanjutkan.
Kisah pelanggaran pidana oleh tujuh prajurit pelaksana operasi keamanan di Aceh itu memang tak rumit. Para pelaku mengakui perbuatan mereka dan kesaksian korban pun cukup lengkap. Para prajurit itu diberi kesempatan oleh mahkamah militer untuk menjelaskan mengapa pelanggaran itu mereka lakukan.
Tekanan mental selama operasi rupanya membuat mereka tak mampu mengendalikan emosi. Di depan sidang, ketiganya mengaku tak mampu menahan amarah. Menurut pengakuan mereka, korban dinilai berbohong saat ditanya soal posisi dan nama-nama anggota GAM yang ada di daerah tersebut.
Menurut cerita salah satu saksi korban, Hamdani, pada Selasa pagi 27 Mei lalu, warga desa kedatangan aparat Batalion Jaya Yudha. Hamdani mengaku baru saja selesai salat subuh ketika pintu rumahnya digedor tentara.
Setelah pintu terbuka, dia mendapati tiga prajurit menunggu di depan pintu. Mereka sempat bertanya, “Apakah benar kamu Pak Keciek (kepala desa)? Dijawab oleh Hamdani, “Saya bukan Pak Keciek. Saya hanya pejabat sementara selama tiga bulan.” Saat itu dia diminta mengumpulkan warga di meunasah.
Hamdani kemudian digelandang ke perbatasan desa. Di tengah perjalanan, Hamdani mengaku dipukul mukanya oleh tentara. Pukulan itu sebagai ganjaran lantaran ia mengaku tidak tahu saat ditanya di mana letak markas GAM. Jawaban “tidak tahu” juga membuatnya dihadiahi tendangan.
Setibanya di rawa-rawa perbatasan desa, didapati ada gubuk. Tentara kemudian melakukan pengepungan ke arah gubuk. Penggerebekan pun sukses karena tak ada anggota GAM di sana. Namun, tentara menemukan ratusan kartu tanda penduduk yang dimasukkan dalam satu plastik.
Menurut Hamdani, KTP itu milik masyarakat sekitar yang diambil seseorang beberapa hari sebelumnya. Pada saat itu, aparat TNI juga menemukan baterai air–biasanya dijadikan sebagai sumber listrik untuk pemantik dalam meledakkan bom.
Setelah sekitar 30 menit di daerah itu, Hamdani bersama puluhan anggota TNI menuju meunasah. Di sana sudah berkumpul warga yang menunggu. Sekitar 20 meter sebelum tiba di lokasi, kembali ia dihadiahi bogem mentah mengenai muka. Pukulan itu rupanya membuat lelaki setengah baya itu oleng. Di meunasah, ia jatuh pingsan. Oleh keluarganya, ia dibawa berobat ke puskesmas di koramil setempat.
Rupanya, luka-lukanya serius. Hamdani pun harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit Dr. Fauziah, Bireuen, selama sekitar empat hari. Hasil visum dokter menyatakan dia luka pada kelopak mata hingga mengeluarkan darah. Tendangan ke arah muka itu yang membuatnya tak sadarkan diri.
Hamdani bukan satu-satunya saksi korban dalam persidangan tersebut. Ada Maimun dan Rajali bin Abdurrahman yang senasib dengan Hamdani dan dihadirkan dalam persidangan.
Kesaksian mereka diakui kebenarannya oleh para terdakwa dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Mayor CHK Hulwani, S.H., dengan anggota Mayor CHK Adil Karo-Karo, S.H., dan Mayor CHK Trias Kowara, S.H.
Pratu Saiful Bahri saat diperiksa hakim mengungkapkan dirinya mendapat perintah dari komandan peletonnya, Letda Fuad, agar melakukan penyisiran dan pembersihan terhadap GAM yang berada di Desa Meunasah Lawang, Peudada, Bireuen. Perintah diberikan pada 26 Mei, sekitar pukul 20.00 WIB. Saiful masuk dalam tim satu dari empat tim yang diturunkan.
Menjelang pagi, dua tim bergerak ke Desa Meunasah Lawang. Tim Saiful bergerak melambung untuk menutup jalan bila GAM melarikan diri. Karena itu, dia bergerak masuk lewat belakang kampung. Sedangkan Tim III dan IV masuk dari depan. Setelah dirinya masuk sekitar 400 meter, anggota timnya melihat ada anggota GAM mandi. Setelah itu terjadilah kontak selama lebih-kurang 30 menit.
Lalu, ia mendapat kabar dari tim yang bergerak dari depan kampung, menyatakan keadaan aman. Maka semua tim menuju kampung. Sesampainya di meunasah, sekitar pukul tujuh pagi masyarakat sudah berkumpul. Setelah itu Komandan Peleton memberikan pengarahan. Ketika itulah ia melihat Pratu Alfian (juga tersangka) membawa keluar Hamdani.
Saat itu Alfian dilihatnya sempat bertanya pada Hamdani, apakah ada orang GAM di sini. Hamdani menjawab tidak tahu. Tak lama kemudian, saksi Maimun keluar sendiri dari meunasah. Sesampainya di luar, dia sempat ditanya anggota, mana warga desa yang anggota GAM. Dia pun menjawab, “Tidak tahu. Tidak ada.”
Pada saat itulah keluar Abu Bakar dari meunasah diam-diam. Tak lama berselang, terdengar dua kali tembakan. Tembakan itu yang ternyata menewaskan Abu Bakar. Menurut Alfian, seperti ditirukan Saiful, Abu Bakar adalah anggota GAM. Informasi A1 (informasinya valid). “Saya merasa dibohongi. Berarti omongan Maimun bohong, dia melindungi GAM, maka saya pukul,” katanya.
Cerita yang sama disampaikan Prada Tony Haryanto. Dia mengaku bertemu dengan Hamdani di tengah jalan. Hidung dan bibirnya berdarah. Tony pun mendekati Hamdani. Salah seorang dari temannya mengatakan, Hamdani tak mengakui sebagai Pak Keciek. “Saya emosi dan ikut memukul,” katanya.
Masih menurut Tony, pada saat pengarahan berlangsung, ia melihat Maimun keluar dari meunasah. Dia bilang mau keluar sebentar. Menurut Tony, sikap Maimun itu keterlaluan, tidak menghargai komandannya yang sedang memberikan pengarahan. “Saya emosi. Saya pukul dia. Saya emosi, Komandan,” katanya kepada hakim yang menanyainya.
Agus Widayat pun memberikan keterangan yang sama, ia mengaku kesal dengan Hamdani, yang telah memberikan keterangan palsu. Ketika diminta sebagai petunjuk jalan malah menyesatkan, kata Agus Widayat.
Atas perbuatan tersebut, oditur militer Mayor Laut Maryanto, S.H. dan Kapten CHK B. Siregar, S.H. menjerat ketiga terdakwa ini dengan dua dakwaan. Pertama, terdakwa dianggap bersalah telah melakukan tindak pidana secara bersama-sama karena ketidaktaatan yang disengaja. Dan kedua, secara bersama-sama melakukan penganiayaan. Karenanya, oditur pada sidang Jumat lalu membacakan tuntutan agar para terdakwa diganjar delapan bulan penjara. Sidang-sidang berikutnya masih akan berlanjut pada pekan ini.
Kasus Lawang adalah kasus pertama yang sampai ke meja hijau. Menurut pengamat militer Dr. Salim Said, proses peradilan kasus ini, yang dilakukan secara terbuka, memang menunjukkan keseriusan TNI dalam menegakkan aturan. Dalam percakapannya dengan para petinggi TNI, ia merasa mereka betul-betul ingin menunjukkan bukti bahwa tentara sudah mengalami reformasi
mental, katanya. Hanya, Salim mengingatkan, “Jangan sampai terlalu banyak pengadilan militer. Bisa menurunkan moril pasukan,” katanya.
Memang tak semua laporan pelanggaran oleh anggota TNI bermuara di pengadilan. Dua kasus sebelum peristiwa Lawang yang sempat masuk meja pemeriksaan Polisi Militer, yaitu laporan adanya pemerasan anggota TNI terhadap warga sebesar Rp 2 juta dan perhiasan warga, juga kasus penembakan di Peusangan, Bireuen, tak akan disidangkan. Pihak Satgas Polisi Militer menyatakan tak terdapat bukti pelanggaran yang memadai pada kedua peristiwa itu.
Soal penembakan di Peusangan, yang sempat menimbulkan kontroversi lantaran korban diduga warga sipil, dianggap selesai karena pihak TNI yakin semua korban adalah anggota GAM. Menurut Salim, GAM memang telah memakai anak-anak sebagai mata-mata dan umpan peluru TNI. Seharusnya anak-anak yang tidak bersenjata tidak perlu ditembak. “TNI bisa masuk jebakan GAM, yang akan mengeksploitasi penembakan itu lewat media internasional,” ujarnya. Hal yang sama pernah dilakukan Fretilin dalam kasus Timor Timur.
GAM tahu betul, berperang dengan TNI tak akan menang. Karena itu, ia akan membuat banyak jebakan untuk memperpanjang perang. Jika itu terjadi, prajurit TNI akan mengalami kelelahan dan bisa tak terkontrol. Saat itulah mereka memakai jaringan internasional untuk mendiskreditkan tentara yang membabi-buta. “Inilah tugas petinggi TNI. Mereka harus mencari langkah yang
lebih cerdas, karena merekalah yang tahu medan pertempuran sesungguhnya,” ujar Salim Said.
Seorang pejabat senior sebuah kedutaan negara Barat malah punya usulan yang lebih tegas. “Orang tak bersenjata tak boleh ditembak,” tuturnya. Diplomat yang dikenal banyak membantu TNI dalam menjalankan reformasi ini mengingatkan, “Jangan lupa, setiap kali jatuh korban salah tembak, sedikitnya sepuluh gerilya separatis baru akan lahir.”
Edy Budiyarso, Abdul Manan (Lhokseumawe)
TEMPO Edisi 030615-015/Hal. 36 Rubrik Laporan Utama
Filed under: Politics