Filed under: Sosial
Filed under: Politics
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sekitar 300 massa yang tergabung dalam Solidaritas Masyarakat untuk Ambon menggelar aksi damai di bundaran Hotel Indonesia, Jumat (30/4). Massa dari berbagai kalangan itu menyampaikan keprihatinan atas konflik yang kembali pecah di Ambon serta menyesalkan sikap aparat keamanan yang tak bisa mencegahnya.
Massa membawa lilin dan karangan bunga. Setelah melakukan orasi sejenak, mereka mengelilingi bundaran HI. Setelah itu, massa berdiri mengelilingi lilin sambil menyanyikan lagu lagu “Ibu Pertiwi” dan menyampaikan uneg-unegnya atas tragedi yang menimpa saudara-saudaranya sebangsa di Ambon.
Dalam pernyataan sikapnya, Solidaritas Masyarakat menyampaikan duka sedalam-dalamnya atas kerusuhan yang pecah 25 April lalu. Akibat kerusuhan itu, puluhan orang meninggal, ratusan luka-luka dan puluhan rumah serta bangunan hangus terbakar.
Selain itu, mereka menyampaikan keprihatinan dan kekecewaan atas kegagalan aparat pemerintah dan aparat keamanan dalam menjaga keamanan dan ketentraman. Padahal, sebelumnya kondisi daerah ini sudah jauh lebih baik. Yang lebih mengecewakan, pejabat negara sama sekali tidak responsif menanggapi kasus Ambon dan lebih memprioritaskan strategi menghadapi pemilihan presiden.
Mereka juga meminta warga Ambon untuk menghentikan semua kekerasan, membuang prasangka, meredakan amarah dan dendam.
Abdul Manan - Tempo News Room
Filed under: Media
Filed under: Media
Filed under: Politik
Filed under: Politics
TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla akan menemui Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, Senin (19/4). Kalla kemungkinan akan menyampaikan pengunduran dirinya sebagai menteri Kabinet Gotong Royong.
Sebelumnya, Kalla juga menyatakan mundur dari keikutsertaannya dalam Konvensi Calon Presiden Partai Golkar, Minggu (19/4). Kalla memilih untuk menerima tawaran mantan Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai wakil presiden.
Abdul Manan - Tempo News Room
Filed under: Sosial
Filed under: Politics
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mendesak agar Partai Kebangkitan Bangsa dan Nahdlatul Ulama segera menyatukan sikap resmi mengenai pencalonan presiden. Organisasi yang dilahirkan Nahdlatul Ulama ini berharap agar PKB mendukung munculnya capres dari kalangan nahdliyin.
PMII menyayangkan munculnya wacana yang berkembang di masyarakat bahwa PKB akan mengusung capres dari kalangan non-NU jika K.H. Abdurrahman Wahid batal menjadi capres karena terganjal persyaratan kesehatan. “PKB adalah alat politik warga NU yang paling kuat dan kalangan nahdliyyin sendiri memiliki kader-kader pemimpin yang kapabel dan mumpuni,” kata A. Malik Haramain, Ketua Umum Pengurus Besar PMII di Jakarta, dalam siaran pers yang diterima Tempo News Room, Jum?at (15/4).
PMII mengusulkan tiga nama sebagai calon presiden, yaitu Solahudin Wahid, Hasyim Muzadi, dan Alwi Shihab, sebagai alternatif Gus Dur. “Leadership dan kecakapan tiga orang tersebut dapat dipertimbangkan oleh tim sembilan dalam Mukernas PKB yang akan datang,” lanjut Malik.
Dalam waktu dekat, PMII dan organisasi-organisasi di lingkungan NU akan mengundang ketiga orang tersebut berdialog dengan publik nahdlyyin. “Mudah-mudahan, dengan mendengar paparan misi dan visi ketiganya, warga NU bisa memastikan siapa calon yang pantas didukungnya,” tandas Malik.
Abdul Manan - Tempo News Room