Berburu Sepanjang Zaman

CUKUP banyak tim dibentuk untuk memburu dan menumpas korupsi. Pada 1967, pemerintahan Soehartomembentuk Tim Pemberantasan Korupsi yang diketuai Jaksa Agung Sugiharto. Awal Januari 1970 ada omisi Empat, lalu Operasi Kartika yang dipelopori KSAD Jenderal Rudini.
Tim yang bertugas mengusut dana hasil korupsi di luar negeri juga tak kurang-kurang. Ada tim yang dipimpin Jenderal L.B. Moerdani untuk mengembalikan dana Pertamina di rekening Asisten DirekturUtama Pertamina, H.A. Thahir, yang diparkir di Singapura.

Pada 2000, Presiden Abdurrahman Wahid membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dipimpin Adi Andojo. Pada masa Megawati Soekarnoputri, berdiri Komisi Pemberantasan Korupsi.Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperkuatnya dengan Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yangdipimpin Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Hendarman Supandji.

Khusus untuk memburu aset koruptor di luar negeri, ada Tim Terpadu Pencari Terpidana dan Tersangka Perkara Tindak Pidana Korupsi, yang dipimpin Wakil Jaksa Agung Basyrief Arief. Target tim ini lebihbanyak: tujuh terpidana dan sebelas tersangka.

<> H.A. Thahir

<>Uang Komisi dari Rekanan Pertamina

<>Mulanya adalah rebutan warisan antara Kartika, janda Thahir, dan anak-anaknya soal uang di Bank Sumitomo, Singapura. Usut punya usut, dana itu ternyata uang komisi yang diterima Thahir dari beberapa perusahaan Jerman ketika menjadi kontraktor Pertamina. Pada awal 1977, Presiden Soeharto membentuk tim yang dipimpin Jenderal L.B. Moerdani. Pada 6 Mei 1977, pemerintah melalui Pertamina secara resmi menuntut agar pengadilan Singapura mengembalikanuang itu kepada pemerintah Indonesia. Sebab, komisi itu diberikan para kontraktor setelah nilaiproyek Pertamina dibengkakkan dua kali lipat. Hakim Lai Kew Chai, pada 3 Desember 1992, memenangkan Pertamina. Keputusannya, antara lain, Pertamina berhak atas uang deposito di Bank Sumitomo Singapura yang bernilai US$ 78 juta yang tersimpan dalam 17 rekening Deutsche Mark. Sedangkan rekening bernilai US$ 5,76 juta ditetapkan sebagai milik Kartika karena Pertamina tak mampu membuktikan uang tersebut termasuk uang komisi.

Hendra Rahardja

Komisaris Utama Bank Harapan Sentosa

HENDRA Rahardja alias Tan Tjoe Hing menjadi buron karena membawa lari uang nasabah Bank Harapan Sentosa (BHS) setelah bank itu dilikuidasi, 1 November 1997. Uang yang ditilap US$ 50 juta sampai US$ 200 juta. Setelah lama tak terdengar, muncul berita Hendra ditangkap polisi Australia, 1 Juni 1999, ketika mendarat di Sydney Kingsford Smith Airport dari penerbangan asal Hong Kong. Penangkapan ini memenuhi permohonan polisi Indonesia lewat Interpol. Pemerintah berusaha memulangkan Hendra ke Indonesia, tapi ia mengajukan perlawanan agar tidak diekstradisi. Akhirnya, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengadilinya secara in absentia. Pada Maret 2002, dia divonis penjara seumur hidup. Sebelum sempat diekstradisi ke Indonesia, Kejaksaan Agung Australia menyampaikan kabar Hendra meninggal pada 26 Januari 2003 di Sydney.

Dua tahun berselang, Tim Pemburu Aset Koruptor pimpinan Basyrief Arief mencium adanya aset Hendra di Hong Kong sebesar US$ 9,3 juta. Informasi soal rekening itu juga disampaikan pemerintah Australia, yang mengabarkan ada aset Hendra yang ditransfer ke Hong Kong atas nama anaknya. Pemerintah Indonesia meminta aset ini dibekukan dan dikembalikan kepada pemerintah Indonesia.

David Nusa Widjaja

Direktur Utama Bank Umum Servitia,

KASUS yang menjerat David Nusa Widjaja adalah dana BLBI sebesar Rp 1,3 triliun. Pada Juli 2001, jaksa melimpahkan kasusnya ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Jaksa menuntut empat tahun penjara, hakim mengganjarnya satu tahun. Ketika vonis dijatuhkan, hakim malah menangguhkan penahanannya. Jaksa mengajukan banding. Pada 21 Mei 2002, hakim Pengadilan Tinggi Jakarta mengabulkan permohonan jaksa dan menghukum David empat tahun penjara. Hakim juga menetapkan agar jaksa menahan kembali David. Tapi David keburu kabur. Mahkamah Agung, pada 23 Juli 2003, menguatkan putusan dengan hukuman
delapan tahun penjara dan denda Rp 30 juta serta uang pengganti Rp 1,29 triliun.

Namun, salinan putusan kasasi baru dikirimkan setahun kemudian. Ketika kejaksaan akan
mengeksekusinya, pada 2 Agustus 2004, David sudah kabur. Dia baru tertangkap pada 15 Januari 2006, oleh FBI, saat di Bandara San Francisco hendak ke Hong Kong. Tiga hari kemudian, David digelandang pulang ke Indonesia.
Irawan Salim

Direktur Utama Bank Global

PRESIDEN Direktur Bank Global ini terlibat kasus reksadana fiktif senilai Rp 600 miliar. Polisi
menetapkan Irawan bersama sejumlah pejabat Bank Global sebagai tersangka. Dari kantor Bank Global di Jalan Gatot Subroto, polisi menyita uang Rp 16,5 miliar. Tapi, sebelum hukum menyentuhnya, ia melarikan diri. Berdasarkan penyelidikan polisi, Irawan kabur menggunakan maskapai penerbangan Singapore Airlines, 11 Desember 2004. Setahun berselang, tim pimpinan Basyrief Arief mengendus uang Rp 500 miliar di sebuah bank di Swiss, yang diduga milik Irawan. Saat ini pemerintah sedang bernegosiasi dengan pemerintah Swiss untuk menarik dana itu kembali ke Indonesia.

Abdul Manan

Majalah Tempo, 7 Mei 2006 Halaman Ekonomi Bisnis

About these ads

Satu Tanggapan to “Berburu Sepanjang Zaman”

  1. phoenixblood Says:

    Ni©e Info! :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: