Pemberontakan di Medaeng

KERUSUHAN di lembaga pemasyarakatan (LP) adalah cerita biasa, tapi kerusuhan dengan pembakaran bukanlah kisah biasa. Itulah yang terjadi Rabu malam pekan lalu, 11 Juni, di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Medaeng yang terletak di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Menjelang tengah malam, rutan yang jadi hotel prodeo untuk tahanan-tahanan yang “punya nama”, seperti aktivis Dita Indah Sari, Coen Husein Pontoh, dan Astini, si penjagal tiga wanita, itu bergolak.

Kerusuhan dimulai dengan ributnya para tahanan dan narapidana (napi) menggebrak-gebrak jeruji besi tahanan. Bunyi dari Blok F–di sana ada Blok A sampai F dan ruang tahanan wanita–itu menyebar ke blok-blok lain dan memecahkan keheningan malam. Bayangkan saja, ada 575 tahanan dan napi di rutan yang luasnya 1,2 hektare itu. “Dari Blok F itulah awal kerusuhan itu, tepatnya dari sel asingan, sel untuk mereka yang bandel-bandel dan sering berkelahi,” kata Kepala Seksi Pelayanan Rutan Medaeng, Suhirno.

Sel asingan itu ada tiga kamar dan salah satu penghuninya adalah Abdul Azis, 36 tahun, komplotan perampok bank di Jawa Timur. Dari situlah tembok pertama jebol. Tampaknya, dijebol memakai besi tempat tidur, dari dalam. Para napi keluar dan membantu rekan napi lainnya meloloskan diri dari sel. Untuk memperlancar usahanya, mereka mematikan lampu sehingga bisa leluasa bergerak dalam kegelapan.

Mendengar suara gaduh itu, Agus Salim dan Rustam, sipir yang berjaga, segera berlari ke blok itu. Terlambat. Sekitar 100 tahanan di Blok F, yang terdiri dari 18 kamar, rupanya sudah berhasil membobol tembok sel. Mereka menghalau teman-temannya untuk keluar. Melihat kejadian yang tidak bisa dikendalikan tersebut, petugas jaga di Blok F segera ke depan, meminta bantuan. Suhirno sendiri ikut turun dan mencoba menenangkan di Blok B dan berhasil.

Namun, pada saat bersamaan, napi di Blok F sudah ke luar. Suhirno yang saat itu di Blok B segera ke pintu gerbang III–di Medaeng ada tiga lapis pintu gerbang. Di pintu gerbang III sebenarnya sudah ada empat polisi brigade mobil dengan anjing pelacaknya, tapi mereka mundur setelah dilempari batu dan botol oleh para napi yang baru keluar dari blok. Pintu gerbang III segera ditutup. Sementara itu, Rustam dan Agus Salim, petugas rutan, terjebak di dalam. Beruntung, keduanya selamat setelah disarankan oleh beberapa napi untuk menukar pakaian dengan pakaian napi.

Napi di Blok F segera saja berpencar ke blok lain untuk membantu mengeluarkan napi-napi lain dari bloknya. Bersamaan dengan itu, mereka mematikan sekering listrik sehingga keadaan gelap pekat. Dalam situasi itu, bakar-bakaran pun berlangsung. Bahan bakar minyak mereka comot dari dapur. Sasaran pertama mereka adalah ruang registrasi, tempat menyimpan data-data kriminal. Setelah itu, ruangan kunjungan–yang bersatu dengan kantin–dan dapur pun membara. Ratusan aparat keamanan yang memblokir rutan itu hanya bisa menyaksikan karena para napi melempari mereka dengan batu dan botol.

Di tengah bubungan asap, mereka mencoba membobol tembok luar rutan.Tembok lapis pertama di sebelah utara (belakang Blok E) dan selatan di belakang masjid (lihat denah) dijebol beramai-ramai oleh napi dengan menggunakan tiang bendera. Namun, mereka masih terhalang oleh tembok luar. Mereka juga mencoba meloloskan diri lewat pintu gerbang yang dibobol dengan menggunakan gerobak yang terdapat di dalam rutan.

Dalam kegelapan dan rintik hujan, pihak keamanan hanya bisa melepaskan tembakan peringatan berkali-kali untuk menenangkan napi yang mengamuk. Namun, sudah ada komando untuk mengamankan di luar dan menembak mereka yang coba-coba meloloskan diri. Letkol Chanafi, Komandan Satuan Brigade Mobil, berusaha menenangkan anggotanya yang ingin menyerbu ke dalam. Tapi, begitu ada napi yang mendekat ke tembok yang sudah dibobol, mereka langsung menembaknya dengan gas air mata. Kalau mereka masih nekat, semburan timah panas pasti akan menyergapnya. Menurut saksi mata, itulah yang menyebabkan Mustafa, salah seorang napi, ditembak petugas dan keesokan harinya dilarikan ke rumah sakit.

Ketika beraksi, para napi umumnya mengenakan tutup muka, mirip ninja. Tampaknya, itu dilakukan agar gerak-geriknya tidak dikenali di tengah kepekatan malam. Namun, petugas rutan masih bisa mengenali siapa-siapa saja yang paling aktif dalam kerusuhan itu. Suhirno mengaku, dia melihat Azis begitu aktif. Bahkan, Azis terlihat menantang petugas dengan kata-kata “sini kamu kalau berani, akan saya bunuh” sambil mengacungkan pisau yang diperoleh dari dapur. Kata-kata semacam itulah yang membuat aparat keamanan sangat jengkel.

Sampai pukul 04.00, kegaduhan masih menyelimuti rutan itu. Hujan batu dan botol pun masih terjadi. Petugas juga terus melakukan tembakan peringatan. Sementara itu, petugas pemadam kebakaran mencoba memadamkan api. Sampai di sana, para napi tampaknya sudah menguasai seluruh rutan; dan pintu gerbang III juga dibakar, tapi tidak menyala. Berarti hanya tinggal dua pintu gerbang yang mesti dijebol agar para napi itu bisa lolos. Namun, sampai pagi itu tetap tidak ada yang bisa ke luar. Mereka hanya membuat kegaduhan di dalam. Lagi pula, ratusan petugas keamanan bersenjata sudah membuat pagar betis di sekeliling rutan.

Pada saat itu sebenarnya sudah ada rencana dari aparat keamanan untuk melakukan penyerangan. Namun, belum sampai rencana itu dilaksanakan, lemparan dari dalam mulai berkurang. Tampaknya, para napi mulai kelelahan. Maka, tanpa susah-payah, pada pukul 05.30, brigade mobil masuk dan menggiring napi ke luar. Sekitar 400 napi diangkut truk brigade mobil ke LP Kalisosok, Mojokerto, Sidoarjo, dan Gresik. Wanita tahanan yang jumlahnya 17 orang dibawa ke Gresik. Akan halnya Astini (terpidana seumur hidup) dan Dita Indah Sari (terpidana enam tahun penjara) dipindahkan ke LP Lowokwaru, Malang.

Mengapa para napi memberontak? Menurut Suhirno, rencana bakal ada kerusuhan massal itu sebenarnya sudah disadari petugas sejak ada kerusuhan pada 25 Mei lalu. Waktu itu, para napi memprotes adanya perlakuan keras petugas karena, menurut sumber D&R, ada napi yang dipukul petugas. Namun, menurut sumber lain, penyebab kerusuhan adalah adanya larangan bagi seorang napi untuk mengantarkan keluarga yang menjenguknya sampai ke pintu gerbang II. Para napi mengamuk dan memecahkan kaca-kaca di rutan.

Sayangnya, kerusuhan itu tak ditanggapi dengan peningkatan keamanan. Memang, kondisi keuangan rutan, di mana-mana, yang tipis tak memungkinkan mereka menambah personel. Maka, tiap blok yang berisi 100 orang lebih itu hanya dijaga satu petugas. Pengamanan yang payah itu, ditambah kondisi bahwa Rutan Medaeng sebenarnya untuk lembaga pemasyarakatan anak, menurut Suhirno, adalah faktor yang mneyebabkan terjadinya kerusuhan besar tersebut.

Salah seorang petugas rutan itu yang sudah puluhan tahun bertugas dan tidak ingin disebut namanya mengakui, peristiwa kerusuhan 25 Mei dan 11 Juni itu terjadi akibat adanya perlakuan keras dari petugas. Dia menyebut Wahab Rajaguguk dan Amiruddin sebagai penyebabnya. Namun, Kepala Kanwil Kehakiman Jawa Timur Soegiantoro menolak jika kerusuhan 11 Juni berkaitan dengan kerusuhan 25 Mei. “Masalah yang dulu itu sudah kami selesaikan, pegawai arogan itu sudah diganti dan dipindahkan ke tempat lain,” kata Soegiantoro. Sayangnya, alasan Soegiantoro itu kurang tepat karena, ketika terjadi kerusuhan, yang bertugas sebagai kepala piket justru Wahab Rajaguguk. “Itulah yang kami sayangkan, mengapa tidak dari awal kedua petugas itu dipindahkan,” kata petugas itu.

Faktor adanya perselisihan antara penghuni dan petugas rutan sebagai penyebab kerusuhan dibenarkan oleh Arswendo Atmowiloto, wartawan senior yang pernah menghuni Rutan Salemba, Jakarta, selama tiga tahun karena kasus tabloid Monitor. “Pasti itu akibat perselisihan dengan petugas, apalagi kalau melihat status penghuni rutan, sebagian adalah napi politik, jadi mereka itu tidak berniat lari. Mereka itu hanya marah dengan perlakuan petugas, lalu melampiaskannya dengan menjebol tembok dan melakukan pembakaran,” kata Arswendo.

Selain masalah ketidakpuasan terhadap perlakuan petugas, kerusuhan itu juga dipicu oleh masalah klasik lainnya, seperti adanya bermacam-macam pungutan liar terhadap yang membesuk mereka. Kerusuhan bisa juga dipicu karena pertengkaran antartahanan di dalam bui sendiri, seperti yang terjadi LP Cipinang, Jakarta, akhir Mei lalu, atau di LP Kesambi, Cirebon, Jawa Barat, beberapa bulan lalu. Tapi, kerusuhan seperti itu–mungkin karena ada solidaritas–biasanya hanya di antara mereka dan tak jadi massal.

Namun, bila menyangkut petugas, ada kecenderungan berkembang menjadi besar, seperti yang terjadi di Rutan Salemba pada akhir Mei 1995, ketika 32 napi melarikan diri. Gara-garanya, seorang petugas rutan menampar napi bernama Bambang Heru karena ia menolak membersihkan bangsal yang dihuninya bersama napi lain. Heru yang ketika itu tidak bisa menerima perlakuan itu marah. Didukung para napi lainnya, ia memberontak melawan petugas jaga, sebelum mereka berhasil melarikan diri.

M.J., Gatot Prihanto (Jakarta), dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 970621-044/Hal. 30 Rubrik Peristiwa & Analisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: