Kekeringan dari Sabang sampai Merauke

Dampak kekeringan terasa di seluruh Nusantara. Ada warga yang harus bertahan hidup dengan makan bitule dan tiwul. Apa dampak sosial-politiknya?

panas nian kemarau ini
rumput-rumput pun merintih sedih
rebah tak berdaya, di terik sang surya
bagaikan dalam neraka….

(Kemarau, The Rollies )

SEPANJANG musim kemarau ini tak cuma rumput yang merintih sedih dan rebah tak berdaya. Di Irianjaya, korban akibat kemarau panjang itu telah jatuh. Sampai Rabu, 24 September lalu, pihak Departemen Sosial melaporkan 271 orang meninggal akibat bencana kelaparan di 22 desa dan sembilan kecamatan di Kabupaten Jayawijaya dan Merauke.

Dikhawatirkan korban akan terus bertambah karena sekitar 50 ribu penduduk kabupaten itu terancam rawan pangan, yang disebabkan oleh gagalnya panen akibat kemarau panjang. Kawasan yang terancam paling parah adalah Desa Mapenduma dan Desa Mbua di Kecamatan Tiom serta Desa Silimo, Pasema, Tangma, Siru, Soba, dan Kurupan di Kecamatan Kurima. Kebetulan, wilayah itu dikenal sebagai daerah operasi militer ABRI untuk menumpas apa yang disebut pemerintah sebagai gerakan pengacau keamanan (GPK). Di Desa Mapenduma itulah pada tahun lalu GPK pimpinan Kelly Kwalik menyandera tim peneliti gabungan Indonesia-Inggris, yang kemudian dibebaskan lewat operasi militer.

Ada sedikit kesimpangsiuran soal jumlah dan penyebab jatuhnya korban. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya dr. Zulfian Muslim menyebut jumlah korban meninggal adalah 253 jiwa, bukan 272 sebagaimana dilaporkan Menteri Sosial Inten Soeweno kepada Presiden Soeharto di Binagraha, Jakarta. Akan halnya penyebab jatuhnya korban itu, menurut pihak Mission Aviation Felowship (MAF)–yang menerbangkan bahan bantuan ke lokasi bencana–sebagaimana dikutip harian Cenderawasih Post, bukan karena kelaparan sebagaimana diberitakan, melainkan karena adanya wabah tertentu. Menurut MAF, kelaparan di daerah itu baru akan terjadi dua bulan mendatang.

Apa pun kontroversinya, yang jelas, sampai akhir pekan silam, bantuan pangan dan obat-obatan yang dikirimkan ke kawasan yang terpencil itu belum sepenuhnya mencapai sasaran, karena sulitnya medan dan gangguan asap tebal akibat kebakaran hutan. Bencana itu masih ditambah dengan adanya tanah longsor, hujan es, kurangnya air bersih, dan berkembangnya wabah malaria dan diare. Sementara itu, luas hutan yang terbakar ditaksir mencapai 736 hektare di Kabupaten Jayawijaya dan Nabire. Inten Soeweno berjanji pihaknya akan mengerahkan segala daya untuk meringankan penderitaan warga di Irianjaya itu.

Namun, jatuhnya korban di Irianjaya itu menandai betapa seriusnya dampak musim kemarau kali ini. Yang sudah kita rasakan dampaknya adalah kebakaran hutan yang menebarkan asap tebal menyelimuti Asia Tenggara dan menyebabkan serangkaian bencana. Tapi, meski kurang dramatis (karena tak berdimensi internasional), kemarau juga menyebabkan kekeringan, kegagalan panen, dan keadaan rawan pangan–untuk tidak menyebut kelaparan–di hampir seluruh pelosok Nusantara. Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara, yang selama ini dikenal sebagai lumbung beras kawasan itu, misalnya, kini terancam terkena rawan pangan. Dan, dari Sabang sampai Merauke, deretan panjang warga yang antre air nyaris menjadi pemandangan sehari-hari yang mengusik nurani. Celakanya pula, depresi tropis el nino yang diperkirakan sebagai penyebab terjadinya bencana global itu diperkirakan baru akan melemah pada bulan Oktober-November mendatang (lihat El Nino, si Biang Keladi).

Dan, sementara itu sejumlah analis politik-ekonomi mengkhawatirkan dampak kekeringan yang bersamaan dengan krisis rupiah itu terhadap kelompok paling miskin di pedesaan (lihat Paceklik dan Kemiskinan). “Sejarah membuktikan, kemiskinan mendorong rakyat melakukan gerakan protes fisik,” ujar Prof. Dr. Loekman Soetrisno, guru besar di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Senada dengan kekhawatiran Loekman, sekelompok mahasiswa di Yogyakarta yang menamakan diri Liga Aksi untuk Pemerataan dan Amanat Rakyat menggelar aksi solidaritas terhadap para korban kekeringan, terutama di Irianjaya. Mereka mendesak agar pemerintah segera mengambil tindakan komprehensif untuk mencegah agar bencana itu tak makin melipatgandakan penderitaan rakyat miskin di pedesaan.

Nah, agar Anda mendapat gambaran bagaimana dampak kekeringan itu mencekik puluhan ribu–mungkin juga jutaan–saudara kita di seluruh Nusantara, inilah liputan langsung wartawan D&R di berbagai daerah.

* Provinsi Riau

Enam kabupaten di Provinsi Riau seluruhnya terlanda kekeringan. Sungai dan lahan pertanian mengering, warga kekurangan air bersih, cadangan pangan menipis, dan tingkat kejahatan cenderung meningkat.

Tengoklah, misalnya, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu. Sungai Batang Kuantan, satu-satunya sungai yang mengaliri kawasan yang kini diselimuti asap tebal itu, yang biasanya delapan meter dalamnya, kini dialiri air keruh yang dalamnya tak sampai sedepa. Di sungai itulah warga dari berbagai desa datang–bahkan ada yang berjalan kaki sampai berkilo-kilometer jauhnya–untuk mengambil air. Biasanya, sungai yang kaya ikan itu menjadi sumber tambahan penghasilan bagi warga. “Kini jangankan ikan, airnya saja kadang tak bisa digunakan. Entah ini dosa siapa,” keluh Ongah Halimah, ibu rumah tangga di Desa Redang, salah satu dari tiga desa di kecamatan itu yang paling parah dicekik kekeringan. Untungnya, ada air bantuan dari Perusahaan Daerah Air Minum Daerah (PDAM) Rengat, yang harus dibeli seharga Rp 500 per drum.

Bila air sulit dicari, tentu sawah tak bisa diairi. Hampir seluruh lahan persawahan seluas 12 ribu hektare di wilayah itu mengalami kekeringan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagian besar warga hijrah mencari kerja sebagai buruh di kota. Dampak lain adalah puluhan siswa sekolah menengah pertama, sekolah lanjutan atas, dan bahkan beberapa mahasiswa terancam putus sekolah karena kurang biaya.

Tak mengherankan bila ketegangan sosial cenderung meningkat. Menurut Marzuki M.S., Kepala Desa Redang, dalam dua bulan terakhir ini kerap terjadi percekcokan antarwarga. Penyebab utama: soal utang-piutang. Padahal, dalam desa yang hampir seluruh penduduknya terikat tali kekerabatan itu, pertengkaran semacam itu jarang terjadi. Bahkan, belakangan, banyak warga yang mengaku kemalingan: mulai dari pisang dan pepaya sampai ayam dan kambing. “Kalau sampai Oktober nanti tak ada perubahan, saya tak dapat membayangkan apa jadinya,” kata Marzuki kepada D&R.

* Provinsi Jawa Tengah

“Lihat ini, Mas, bahu saya sampai menebal, kadang lecet gara-gara mikul jeriken buat ngangsu (menimba) air. Meskipun setiap tahun begini keadaannya, rasanya musim sekarang yang terberat,” cerita Tasmo, 35 tahun, warga Desa Pucung, Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Seperti warga desanya yang lain, setiap hari, ia harus pergi saat dini hari menempuh jarak sejauh 1,5 kilometer, yang berbukit dan berbatu, mencari air. Sore hari, ia baru bisa kembali dengan beberapa pikul air yang berwarna kecokelatan. Sawahnya yang seluas satu hektare sama sekali bera, tak bisa ditanami apa pun. “Sementara tak ada pekerjaan di ladang, ya, menganggur saja. Paling-paling, membuat gaplek atau tiwul untuk dimakan, lebih irit daripada beras,” ujarnya. Gaplek dan tiwul kini menjadi makanan pengganti bagi warga yang tak sanggup lagi membeli beras.

Di seluruh Wonogiri, antrean panjang warga desa–lelaki, perempuan, anak-anak–yang mencari atau menanti pasok air nyaris menjadi pemandangan sehari-hari. Bagi kabupaten berpenduduk 1,8 juta jiwa itu, kekeringan menjadi “agenda” setiap musim kemarau tiba. Kabupaten yang luasnya 182 kilometer persegi itu memiliki lahan kritis seluas 60 ribu hektare. Kawasan yang menjadi “langganan” kekeringan adalah Kecamatan Pracimantoro, Paranggupito, Eromoko, dan Giritontro. Untuk membantu warga, pemerintah daerah (pemda) memasok air ke desa-desa, yang dijual dengan harga Rp 6 ribu sampai Rp 17 ribu per tanki (berisi 5.000 liter) tergantung jarak yang harus ditempuh. Di masa depan, pemerintah daerah berencana mengoperasikan pompa tenaga surya untuk menggali air yang tersembunyi di 14 mata air potensial di wilayah itu.

Wonogiri cuma satu dari empat kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang paling parah tercekik musim kering panjang ini. Tiga yang lain adalah Demak, Grobogan, dan Boyolali. Kekeringan juga melanda lima kabupaten lain–Rembang, Jepara, Kudus, Tegal, dan Blora–meski belum separah keempat kabupaten tadi. Di beberapa wilayah di Demak, kota tua yang terletak di Pantai Utara Jawa Tengah, warga sudah mulai menjual ternak mereka untuk menebus mahalnya harga air yang dipasok oleh pemda. “Air sudah jauh lebih berharga daripada yang lain. Kami rela menjual ternak asalkan dapat air,” tutur Zaenab, salah seorang warga.

Di Tegal, harga kambing di pasar anjlok dari Rp 350 ribu menjadi Rp 175 ribu; dan kerbau yang biasanya laku seharga Rp 1 juta sampai Rp 2 juta kini cuma ditawar Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Bagi warga setempat, lebih baik ternak itu dijual ketimbang mereka mati kelaparan. Sementara itu, di Blora ada 41 desa yang terancam kekeringan karena Bengawan Solo yang legendaris itu kini ikut kering. Ratusan hektare tanaman jagung di tujuh kecamatan juga terancam puso. Celakanya, hujan untuk kawasan itu diperkirakan baru akan turun pada bulan Desember mendatang.

* Provinsi Jawa Timur

Pepatah bahwa setitik air adalah kehidupan terasa maknanya di Desa Jenggrong, Ranuyoso, Kabupaten Lumajang. Di desa yang terletak tujuh kilometer dari Jalan Raya Surabaya-Lumajang itu, 13 ribu orang warganya setiap hari harus memeras keringat untuk memperoleh setitik air. Dulu, saat musim kemarau tiba, warga masih mengais titik-titik air di curah, semacam cekungan tanah yang menyimpan air. Tapi kini, tak setetes air pun tersisa di curah-curah itu. Sejak setengah bulan lalu, warga sudah menjerit minta bantuan pasok air dari pemda, namun bantuan tak juga tiba.

Untuk menyambung hidup, warga terpaksa “menyerbu” desa lain untuk mencari air. Sebagian besar dari mereka terpaksa menghabiskan waktu sehari penuh untuk bolak-balik di jalan dan “berebut” air di sumber yang juga mulai kering. Bagi warga yang tak punya waktu–para pegawai misalnya–mereka terpaksa membeli air. Susiadi, seorang guru sekolah dasar, mengaku harus menyisihkan anggaran sebesar Rp 80 ribu dari gaji bulanannya yang sudah pas-pasan itu untuk membeli air. Toh, hari-hari ini kesibukan Susiadi mengajar agak berkurang. Karena, sejak terjadinya paceklik air hampir sepertiga murid sekolah dasar di desa itu memilih untuk “meliburkan” diri, demi membantu orang tua mereka mencari air.

Untungnya, warga belum sampai harus makan gaplek karena lahan jagung di Desa Jenggrong masih bisa menghasilkan. “Kecuali kalau satu bulan lagi hujan tidak turun, kami akan makan ketela,” tutur Lukito, Camat Ranuyoso, kepada D&R.

Di Desa Tawing, Munjungan, Kabupaten Trenggalek, warga sudah makan gaplek karena beras tak lagi terjangkau. Desa yang dikepung pegunungan dan terletak sekitar 35 kilometer dari Kota Trenggalek itu nyaris tak menyisakan sepetak tanah yang masih bisa ditanami. Warga mencoba bertahan dengan menanam ketela, ubi, dan kacang. “Terpaksa kami makan ketela karena beras kan mahal,” kata Antonius, seorang warga.

Di tengah cekikan musim kering itu, warga desa terpaksa mengembangkan bermacam cara untuk bertahan hidup. Di Desa Tretes, Temayang, Bojonegoro, warga desa menanami dasar Waduk Pacal yang mengering karena lahan pertanian mereka bera. Mereka menanam tembakau dan palawija di waduk seluas 300 hektare itu. Menurut warga, pihak dinas pengairan dan pemda setempat tak pernah melarang kegiatan itu. Namun, menurut Kepala Cabang Dinas Pengairan Bojonegoro Suyoto, kegiatan itu mestinya terlarang karena dikhawatirkan akan menimbulkan sedimentasi yang membahayakan keberadaan waduk, yang dalam keadaan normal sanggup mengairi sawah di tujuh kecamatan di Bojonegoro itu. “Tapi, kalau melihat petani di daerah sini yang miskin, ya, tak tega juga,” ujar Masjoeri, Kepala Seksi Pengairan Waduk Pacal. Mereka juga khawatir, bila dilarang, para petani itu akan beralih melakukan pencurian kayu jati di hutan yang tumbuh di sekitar desa.

* Provinsi Sulawesi Utara

Berbekal parang, pisau tajam, linggis, dan sekarung abu kayu, sebagian petani di Gorontalo pergi ke lereng gunung dan hutan-hutan. Mereka mencari bitule, sejenis ubi hutan, yang tumbuh di antara pepohonan. Itulah cara tradisional petani miskin di Gorontalo menyiasati musim kemarau bila persediaan makanan pokok–seperti beras, pisang, jagung, dan ubi–dan uang untuk membelinya tak ada. Tapi, bitule yang mengandung racun yang memabukkan itu harus diolah secara khusus terlebih dahulu sebelum bisa dimakan. “Kami makan bitule sampai sawah bisa dipanen,” kata Luta, petani di Bobode, Kecamatan Kwandang, Gorontalo. Diperkirakan ada 600 ribu petani miskin di kawasan Gorontalo yang bertahan hidup dengan makan bitule. Toh, hingga kini Pemda Gorontalo menampik adanya indikasi kurang pangan di wilayah itu.

Sementara itu, di Pulau Manado Tua, yang letaknya 10 mil laut dari Pelabuhan Manado, warga mulai antre air bersih siang dan malam. Di pulau yang berpenduduk 1.300 jiwa itu kadang terjadi percekcokan antarwarga yang berebut air.

Musim kemarau juga mengancam perkebunan kelapa dan vanili. Sedikitnya 475 ribu bibit kelapa hibrida terancam mati bila hujan tak juga turun. Sementara itu, tanaman vanili di Minahasa mulai layu akibat kemarau yang berkepanjangan. Tapi, tampaknya, warga Sulawesi Utara sudah bisa mulai tersenyum. Pada Jumat siang, 26 September lalu, selama satu jam, hujan deras mengguyur bumi Manado.

Provinsi Kalimatan Barat

Di Pontianak, yang acap dijuluki Kota Air, antrean panjang warga menyerbu keran-keran air yang disediakan PDAM di Jalan Imam Bonjol. Tak seperti rekan-rekan mereka di seantero Nusantara yang harus menjual ternak untuk membeli air, warga Pontianak mendapat air gratis. Syaratnya, mereka boleh menadah air itu dalam jeriken. Bagi mereka yang membawa gentong atau mobil tanki air akan dipungut bayaran. Pasok air gratis itu tersedia berkat upaya komandan pangkalan TNI Angkatan Laut di Pontianak Kolonel Uray Kabri, 47 tahun, yang mengontak Markas Besar TNI Angkatan Laut, yang kemudian mendatangkan tiga tanker air.

Toh, musim kering yang dibarengi dengan bencana kebakaran hutan itu telah terasa dampaknya. Di antaranya munculnya endemi diare. Sepanjang musim kemarau ini di Kalimantan Barat tercatat lebih dari 20 ribu kasus diare. Lalu, 760 hektare tanaman padi di sana mengalami kekeringan.

Dampak lain adalah keringnya Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu. Saking keringnya danau terbesar di Kalimantan Barat itu, sampai-sampai bisa dilewati kendaraan roda empat. “Mobil kami bisa lari kencang dengan kecepatan sampai 40 kilometer per jam,” ujar Bupati Kapuas Hulu Frans F. Layang kepada D&R. Padahal, Danau Sentarum punya populasi dan jenis ikan air tawar terbanyak di dunia, serta kaya flora dan fauna langka.

Laporan Puji Sumedi H. dan Rachmat H.C. (Jakarta), Bambang S. (Medan), Jupernalis Samosir (Pekanbaru), Prasetya (Semarang), Dwi Arjanto (Surakarta), Akhmad Solikhan (Yogyakarta), Abdul Manan (Surabaya), Suma Atmaja (Lumajang), Verrianto Madjowa (Manado), Jaya Putera (Pontianak), dan H.A. Ondi (Jayapura)

D&R, Edisi 971004-007/Hal. 26 Rubrik Liputan Utama

2 Tanggapan to “Kekeringan dari Sabang sampai Merauke”

  1. cleithrum cochlospermaceae unconstipated borg pestify whitewall redisseisor thermosynthesis
    DM Interiors
    http://www.spalygroup.com/

  2. menurut saya kekringan harus di tangani dengn penghijauan(reboisasi)karna kalau tidak Qta, sipa lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: