Menunggu”Big Bang”

Sesudah “menyantap” 69 kerusuhan di berbagai daerah pada Mei-Agustus 1998, situasi tetap rawan. Aparat keamanan tampaknya makin tak mampu mengatasi.

KERUSUHAN seolah-olah kini sudah menjadi santapan masyarakat Indonesia tiap hari. Berlebih lebihan? Tidak. Buktinya, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Letnan Jenderal Roesmanhadi sendiri mengakui dalam temu pers di Jakarta pekan lalu, 69 kasus kerusuhan terjadi pada Mei hingga Agustus 1998. Dalam kasus-kasus itu, aparat keamanan menangkap 4.828 orang.

Menurut Roesmanhadi, 23 kasus kerusuhan itu dipicu isu etnik, 16 oleh faktor politik, 15 karena motivasi ekonomi, enam akibat bentuk penegakan hukum yang tidak tepat, dan sisanya yang sembilan kasus masih harus diidentifikasi. Kerusuhan yang cukup besar terjadi di Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Dari 4.828 orang yang ditangkap, 867 dijadikan tersangka dan 267 di antaranya tengah diadili.

Dengan makin maraknya kerusuhan, penjarahan, perusakan, dan pembakaran, pemerintah sendiri tampak bingung mengatasinya. Menurut pengamatan D&R, pemicu kerusuhan ini beragam dan sering beranjak dari soal-soal sepele, seperti perselisihan lalu lintas atau seorang karyawan dimarahi majikannya. Namun, gelombang kerusuhan yang meluas kemudian sangat dahsyat. Aparat keamanan tampak kewalahan mengatasi kejadian-kejadian yang pecah secara sporadis tapi terus-menerus muncul itu.

Untuk menggambarkan makin mendesaknya penanganan situasi ini, berbekal laporan koresponden dan pemberitaan media massa, D&R coba mendata berbagai peristiwa yang sudah terjadi, khusus untuk September saja.

* Kerusuhan September 1998.
Berdasarkan tanggal. Iokasi, peristiwa dan dampaknya.

– 31 Agustus-1 September. Lhokseumawe, Aceh. Kerusuhan yang dilakukan puluhan ribu massa itu membakar rumah-toko dan menjarah isi pertokoan. Dua orang tewas ditembak aparat keamanall, 12 yang lain luka-luka.

– 1 September. Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sekitar 4,5 ton beras yang disimpan di penggi]ingan beras UD Sukoreno Makmurdi Desa Sukoreno disita ratusan massa. Massa juga membajak truk yang mengangku tujuh ton beras, lalu memaksa pengusaha menjual beras itu dengan harga murah.

– 1 September. Kecamatan Buaymadang, Kabupaten Ogankomering Ulu, Sumatra Selatan. Ratusan warga: Desa Wayhalom menyerbu Markas Kepolisian Sektor Buaymadang akibat tindakan .seorang polisi yang memukuli empat warga desa. Seorang polisi luka bacok, seorang warga tewas ditembak, dan beberapa yang lain luka-luka.

– 1 September. Desa Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, Kotamadya Bogor, Jawa Barat. Ratusan massa mengamuk dan merusak wisma Salak, yang disinyalir menjadi lokasi prostitusi. Mobil Mercy milik pengusaha tempat itu juga dirusak. Sejumlah pesawat
televisi dijarah.

– 2 September. Kecamatan Montong. Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Bentrokan 20 polisi melawan, ratusan warga Desa Munjun akibat polisi menangkap 30 ton warga tersangka pencuri kayu jati dan membawa barang bukti empat truk kayu jati. Dua mobil aparat keamanan dirusak.

– 4-5 September. Purwakarta, Jawa Barat. Di PT Indhorama Synteis dan PT Polymer, akibat kenaikan gaji pokok tak dikabulkan, 39 mobil, dua sepeda motor, dan bangunan sekolah dirusak dan dibakar massa.

– 5 September. Kelurahan Jatimulia. Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Sedikitnya 50 rumah terbakar habis, diduga sengaja dibakar menyusul bentrokan antar warga lain rukun warga di wilayah itu.

– 6 September. Kecamatan Pedes, Kai rawang, Jawa Barat. Kantor Kepala Desa Kendaljaya dirusak massa sesudah unjuk rasa ke kantor desa: dan kecamatan tidak di tanggapi. Warga marah karena kepala desa menjual jatah beras operasi pasar khusus sub-depot logistik ke kenalannya.

–7 September. Belawan, Sumatra Utara. Truk beras dijarah ketika keluar dari Pelabuhan Belawan dan ketika berada di Kampung Salam (Belawan) dan Tanjung Mulia (Medan, Deli). Maka, 8,5 ton beras lenyap-.

– 7-8 September. Kebumen, Jawa tengah. Massa menjarah serta membakar 69 toko, termasuk 4 toko besar, 24 kendaraan dan lima sepeda motor. Pemicunya,seorang pamilik toko yang keturunan Tionghoa memarahi karyawannya.

– 8 Desember. Kecamatan Medan Labuhan, Belawan, Sumatra utara. Ratusan orang menghadang dan menjarah truk bermuatan beras ketika melintas di Jalan Tol) Belmera. Akibatnya, 20 ton beras milik Badan Urusan Logistik itu ludes.

– 8 September. Karawang, Jawi Barat. Sekitar 500 warga desa menjarah tambak udang di Desa Pusakajaya, Kecamatan Pedes. Dua puluh dua orang ditahan. Kerugian sekitar Rp 30 juta.

– 7-9 September. Pontianak. Penjarahan bahan pokok berlangsung serentak dan tiba-tiba di Kecamatan Pontianak Timur, Utara, dan Barat. Sasaran utama adalah gudang-gudang beras. Penjarah mcnggunakan truk dan pikap. Dua tersangka tewas dalam kerusuhan.

– 9 September. Kelurahan Belawan Bahari, Medan. Sedikitnya 50 ton beras bantuan Jepang ke Sumatra Utara dijarah massa. Penjarahan di lakukan di ruas jalan masuk menuju ke pintu tol Belawan-Tanjungmorawa.

– 9 September. Kecamatan Karangampel, Indramayu, Jawa Barat. Tiga nyawa melayang, termasuk satu bayi yang terbakar, akibat tawuran massal antar pemuda yang akhirnya melibatkan ribuan warga Desa Mundu dan Segeran Kidul. Juga. 16 rumah dibakar.

– 11 September. Losari Timur (Kabupaten Brebes) dan Losari Barat (Kabupaten Cirebon), Jawa Barat-Jawa Tengal. Di Losari Timur dan Losari Barat, ribuan penduduk menjarah tanaman bawang merah siap panen. Empat hektare lahan bawang habis, kerugian Rp 300 juta.

– 11 September. Desa Penjalinan, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Massa menjarah 70 ton beras dan 30 ton terigu milik AHok, lalu gudang itu dibakar. Polisi menyita beras AHok sebanyak 240 ton, gula pasir 45 ton, dan terigu 77 ton di gudangnya di Pakis atas? dengan dugaan “menimbun pangan”.

– 12 September. Desa Sasak dan Desa Baebuntu, Kabupaten Luwu, 450 Kilometer Utara Ujungpandang. Kerusuhan berbuntut empat orang tewas, 230 rumah penduduk ter bakar, dan rusak diobrak-abrik. Sebuah gereja dan masjid rusak. Ini bermula dari perselisihan lalu lintas dan perkelahian antar pemuda dari dua desa (11 September)

– 12 September Kabupaten Batang hari, Jambi. Massa mengamuk dan membakar Base Camp PTP VI Nusantara dan tiga rumah dinas. Massa menuntut perkebunan inti milik PTP Vl dialihkan ke masyarakat, dengan sistem perkebunan plasma.

– 13 September. Kecamatan Gondanglegi dan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dua peternakan ayam dijarah massa, termasuk kandang dan isinya. Seorang tersangka pengerak aksi tewas ditembak petugas di Bondowoso. Semua tersangka, 40 orang, yang diperiksa adalah warga Bondowoso.

– 13 September. Kabupaten Batanghari, Jambi. Ratusan warga Kasangpudak, Kecamatan Jambi luar kota, menjarah gudang bihun milik Akau yang diduga tempat penimbunan beras dan minyak goreng.

– 13 September. Perbatasan Palembang,Kabupaten Musibanyu asin. Pabrik bihun dijarah puluhan massa. Dua” ton beras dan bahan baku pembuat bihun ludes.

– 14 September. Kabupaten Musibanyuasin, 30 Kilometer dari Palembang. Massa menggondol 60 karung beras, tiga drum minyak goreng, dan 100 karung tepung sagu dari toko bahan pokok.

– 14 September. Medan. Puluhan toko rusak dan dua pusat perbelanjaan dijarah ribuan massa. Sejumlah mobil pribadi dirusak dan dijungkirbalikkan. Aksi dipicu pemogokan 6.000 sopir angkutan kota, memprotes kenaikan harga suku cadang dan bahan pokok.

– 15 September. Belawan, Medan. cara pembagian 1.800 paket bahan pokok gratis dari PT S-3 bagi masyarakat tak mampu berkembang jadi kerusuhan. Mereka merampas bahan pokok dari panitia gara-gara melihal orang yang dianggap mampu ikut mengambil jatah bahan pokok.

– 15 September. Bagan siapi-api, Kabupaten Bengkalis, Riau. Ratusan warga Tionghoa mengungsi akibat 450 rumah dan toko dibakar. Tiga hotel dirusak. Sempat diterapkan jam malam. Ini dipicu isu meninggalnya warga setempat dalam perkelahian melawan seorang Tionghoa.

– 15 September. Pinrang, Sulawesi Selatan. Warga yang tertipu miliaran rupiah oleh praktik bank gelap melempari dan membakar toko dan rumah. Sejumlah petinggi polisi dan militer terlibat dalam praktik bank gelap ini dan dicopot dari jahatan.

– 16 September. Belawan, Medan. Ratusan nelayan mengamuk dan menghancurkan kaca kantor Koperasi Uni Desa Mina Makmur, gara-gara keterlibatan koperasi itu dalam pengoperasian alat tangkap ikan, yang seperti pukat harimau.

– 16 September. Kabupaten Batanghari, Jambi. Sekitar 500 massa menjarah gudang beras PD Sejahtera. Karena kesigapan polisi, 300 ton beras batal dijarah.

– 17 September. Belawan, Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara. Massa nelayan mengamuk dan membakar sebuah pukat harimau mini di gudang perikanan Boncuan

– 17 September. Desa Cibadak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Puluhan warga Desa Cibadak menyerbu dan merusak Vila Pondok Nirwana. Kantor pemasaran nyanyaris dibakar massa. Ini dipicu pertengkaran satuan pengamanan dengan warga desa.

– 18 September. Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. Sekitar 70 warga Desa Lautawar mengobrak-abrik kantor bupati. Sekretaris wilayah daerah nyaris dikeroyok. Warga kesal, isu kecurangan dalang pemilihan kepala desa kurang ditanggapi.

– 18 September. cianjur, Jawa Barat. Sekitar 70 warga cianjur menjarah dan merusak gudang beras swasta di Jalan Raya H.O. Sokroaminoto. Mereka mengangkut 60 karung beras dan 50 kilogram ikan kering.

– 19 September. Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sekitar 200 warga Desa Babakan mengamuk, setelah “jago” mereka kalah dan merasa dicurangi dalam pemilihan kepala desa. Mereka merusak tiga rumah warga.

– 20 September. Praya, Lombok Tengah. Dua sepeda motor, tiga rumah, dan mobil milik seorang pastor dibakar massa. Ini gara-gara seorang polisi nekat menggelar sabung ayam meski warga setempat sudah melarangnya.

– 21 September. Kecamatan Losari, Cirebon, Jawa Barat. Sejumlah 45 rumah dibakar, termasuk poliklinik, balai desa, sekolah dasar, dan penggilingan padi, dalam bentrokan antara warga Desa Pabedilan Kaler dan Pabedilan Wetan.

Data ini sebetulnya belum lengkap karena diyakini masih banyak peristiwa yang tidak termuat di media, mungkin karena dianggap berskala kecil. Namun, jika jumlahnya makin banyak dan makin sering teljadi. itu akan memuncak menjadi “ledakan besar” (big bang), yang dikhawatirkan suatu saat tak tertangani. Apakah memang itu yang kita tunggu?

Satrio Arismunandar/Laporan: Marlis Lubis (Jambi). Muhammad Toha (Ujungpandang). Jaya Putera (Pontianak). Abdul Manan (Surabaya). Jupernalis (Pekanbaru). Aendra H. Medita (Bandung), Suma Atmaja (Jember), Koresponden Mataram

D&R, Edisi 981003-007/Hal. 50 Rubrik Daerah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: