Konspirasi Menggoyang NU?

SEJAK isu pembantaiaan di Banyuwagi marak, banyak pihak membentuk tim pencari fakta untuk mengusut perkara ini. Berbagai kesimpulan dan temuan pun dikemukakan: Namun, tak satu pun yang berhasil mengungkap jelas duduk perkaranya. Malah, berseliwerannya berbagai pernyataan tim pencari fakta itu makin membingungkan khalayak.

Namun, ada yang disepakati mereka: gerakan gerombolan” pembantai itu terlatih dan terorganisasi. Yang paling gencar mengusut soal pembantaian tentunya Tim Investigasi Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Tim itu dibentuk setelah banyak kaum nahdliyin menjadi sasaran pembantaian.

Sampai saat ini, tim yang dipimpin Timbul Wijaya, Wakil. Ketua Pagar Nusa NU Jawa Timur, itu mencatat 132 kasus pembantaian. Sebagian korban penganiayaan itu adalah kaum nahdliyin.Apa saja hasil temuan tim tersebut? Kepada koresnonden D&R, Timbul menuturkan cerita berikut.

Semula, aksi pembantaian hanya menimpa orang-orang yang dicurigai berpraktik dukun santet. Pelakunya juga umumnya massa, yang berasal dari desa setempat. Ketika beberapa pelaku ditangkap polisi, warga biasanya tak mau terima. Mereka lalu menyerbu kantor polisi setempat, menuntut teman-temannya dibebaskan. Dan polisi, entah karena takut atau apa, biasanya melepaskan para tersangka yang ditahan.

Akibatnya, massa menganggap membunuh dukun santet itu tak apa-apa tidak bakal dihukum. Maka, pembantaian terus berlanjut. Anehnya, aparat keamanan selalu datang terlambat, sekitar tiga sampai empat jam setelah pembunuhan. Begitu datang, petugas hanya menemukan mayat korban dalam keadaan mengenaskan: “Setelah diperiksa, mayat-mayat itu langsung dikubur di halaman rumah korban,” kata Timbul Wijaya. Tak ada visum, tak ada laporan kejadian sama sekali.

Di tengah maraknya aksi pembantaian muncul selebaran dari kelompok yang menamakan diri Gerakan Anti tenung (Gantung). Dalam selebaran itu, Gantung mengultimatum: siapa saja agar tak melindungi tukang santet kalau tidak ingin berhadapan dengan pasukan Gantung.

Menurut perkiraan Timbul, kelompok Gantunglah yang melakukan pembunuhan ala ninja. Mereka sangat terlatih sehingga sulit ditangkap. Misalnya, sebelum menjalankan aksinya, “gerombolan ninja’ itu mematikan listrik di sekitar rumah korban. Lalu, di tengah kegelapan, mereka menculik korbannya.

Jika di lokasi sasaran ada warga yang berjaga-jaga, tindakan itu sering, digunakan untuk mengecoh. Setelah lampu dimatikan, biasanya warga mendatangi tempat itu,, tapi gerombolan beraksi di tempat lain: Setiap melakukan aksi, biasanya gerombolan ninja itu berkelompok, lima orang. Kadang, mereka membawa massa.

Tapi, tak semua operasi berjalan minus. Ada juga sasaran yang melawan. Kiai Burhan dari Kecamatan during, misalnya, melayani sergapan lima penyerangnya. Maka; terjadilah perang tanding. Malah, Kiai Burhan behasil meringkus seorang penyerangnya. Lalu; ketika diperiksa kartu tanda penduduknya ternyata berasal, dari Kecamatan Puger, Jember: Saat ditanya siapa yang menyuruh, penyerang itu menjawab bekas aktivis PKI.

Umumnya, anggota gerombolan pembantai itu pintar memainkap’jarus silat dan mengenal seluk-beluk wilayah sasarannya. Pokoknya, kata Timbul Wijaya, mereka tampak dipersiapkan betul secara fisik dan mental.

* Dilatih di Bogor

Dalam perternuan dengan ratusan ulama di Langitan, Tuban, 15 Oktober lalu; Kepala KepolWan Daerah Jawa Timur Mayor Jenderal M. Dayat sempat keceplosan omong bahwa gerombolan ninja itu dilatih di Bogor, Jawa Barat. Tapi, saat dikonfurmasi Tim Investigasi NU Jawa Timur. Dayat tak mengungkapkan lebih jauh. “Ini jadi tanda tanya mengapa kok disimpan,”kata Timbul.

Sejak Oktober, kata Timbul; Gantung telah berganti kulit menjadi Ganti alias Gerakan Anti kiai. Gerakan ini agak berbeda dari sebelumnya. Modus operandi-nya lebih “halus”. Misalnya, pelakunya menyamar sebagai santri dan beroperasi selepas magrib sampai menjelang salat isya, bahkan siang’hari.

Pasukan Ganti sudah pula menelan korban, seorang kiai di Kecamatan Rogo Jampi. Suatu siang ada, seorang yang berpura-pura ingin membantu kiai memugar makam. Tiba-tiba, orang itu langsung membunuh sang kiai di pemakaman tersebut. ,

Lalu, apa motif di balik pembahtaian para ulama itu? “Masih kami selidiki,” kata Timbul. Namun, seorang aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, M. Adnan Anwar, punya beberapa hipotesis. Pertama, pembantaian itu merupakan wujad pertentangan antara kelompok santri dn abangan. Hanya, Anwar Meragukan bila kelompok abangan itu adalah anak-cucu para:aktivis PKI. Sebab, sejarah politik di Banyuwangi tak pernah mencatat konflik organisatoris antara PKI dan NU. Yang ada adalah konflik antara PKI dan militer.

Karena itu, Anwar lebih cenderung ke hipotesis “aksi pembunuhan massal itu merupakan bagian konspirasi menggoyang NU. Seperti diketahui, Banyuwangi dan sejumlah kabupaten lain di Jawa Timur merupakan basis massa NU. Apalagi, besar kemungkinan dalam pemilihan umum nanti, NU lewat Partai Kebangkitan Bangsa akan berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pimpinan Megawati Soekamoputri. Nah,.”Kalau itu terjadi, kan bisa mengggyahkan status quo,” kata Anwar.

I.H./Laporan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 981024-010/Hal. 59 Rubrik Kriminalitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: