Berburu Malam Seribu Bulan

Pertengahan Ramadhan diliputi “perburuan” keutamaan lailatul kadar. Apakah malam yang lebih baik dari 1.000 bulan itu?

PERJALANAN Ramadan yang telah merangkak lebih separo ini ditandai dengan meningkatnya- aktivitas kesalehan masyarakat. Di masjid-masjid ditandai dengan pembacaan qunut dalam witir salat tarawihnya. Di masjid-masjid mulai ramai dengan orang-orang yang mencari lailatulkadar, yang dalam Alquran disebutkan sebagai malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Orang-orang datang, bagai memburunya dengan cara memperkaya ibadah. Dengan cara iktikaftinggal di masjid) atau membaca Alquran. salat sunah. Mereka kini memadati tempat peribadatan itu.

Forum Santri Jakarta, Ahad, 10 Januari, ikut memburunya dengan cara menyelenggarakan Zikir Malam Seribu Bulan Menyambut Lailatulkadar. Lebih seribu santri memadati lapangan tenis indoor Senayan, sejak pukul 22.000 hingga pukul 01.00 dini hari. Mereka berfikir dengan dipandu Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf; membaca selawat, serta mendengarkan siraman rohani dari K.H. Noer Muhammad Iskandar, K.H. Said Aqiel Siraj, Dr. Nurcholish Madjid, K.H. Zainuddin M.Z., K.H. Ma’ruf Amin, dan sejumlah ulama lain.

Perburuan lailatulkadar dimulai sejak 4 Januari dini hari lalu, tepat pertengahan Ramadan. Ini bisa dilihat semakin banyaknya pengunjung masjid-masjid, terutama Masjidil Haram, Makkah, Masjid Nawabi, Madinah, dan Masjidil Aqsha, Jerusalem. “Tempat duduk sepertinya sudah di-booking dengan meletakkan sajadah sejak awal Ramadan,” kata seorang pengusaha ONH Plus. Tayangan tarawih di Masjidil Haram yang ditayangkan RCTI menunjukkan semakin banyaknya jumlah jamaah di masjid yang mampu menampung setengah juta jiwa itu.

Tarif akomodasi di kota suci itu pun naik berkali-kali lipat. Hotel-hotel di Makkah dan Madinah mematok tarif tiga kali lipat dari tarif biasa. Tarif itu hanya bisa diimbangi dengan tarif akomodasi saat musim haji. Ini bisa dilihat dari tarif yang dikenakan beberapa pengusaha ONH Plus. Untuk umrah biasa sebelum Ramadan PT Tiga Utama, misalnya, hanya menetapkan tarif US$ 2.050. Tapi, ketika Ramadan tiba, tarif lalu menjadi US$ 2.650. Semakin tua usia Ramadan semakin mahal tarifnya. Lebaran di Saudi, misalnya, tarifnya mencapai US$ 4.150. “ltu pun sudah penuh, tidak bisa menerima jamaah lagi,” kata Ijah Khatijah, dari PT Tiga Utama.

Hal serupa terjadi di masjid-masjid tua di Indonesia. Di Masjid Menara Kudus, Demak, Ampel, Banten, Cirebon, bahkan hingga Masjid Istiqlal di Jakarta menjadi tumpuan perburuan malam seribu bulan. Wahyu, pria berumur 30 tahun ini, mengaku secara khusus datang dari Malang untuk mencari lailatulkadar di Masjid Ampel Surabaya. “Kalau kita beribadah pada malam itu, sama dengan kita beribadah selama 73 tahun lebih. Padahal, umur kita belum tentu sampai sepanjang itu,” katanya. Ketenangan juga ia dapatkan ketika melakukan iktikaf.

Di Istiqlal, selepas tarawih 23 rakaat ini, orang masih asyik bercengkerama dengan Tuhan. Membaca wirid, membaca Alquran, dan sebagainya. Para “pemburu” ini bisa dilihat ciri-cirinya: membawa tas besar berisi pakaian. Jumlah mereka pada tahun ini mencapai sekitar 500 orang. Bahkan, sebuah elevisi swasta menayangkan laporan jamaah asal Pontianak yang mengkhususkan diri selama sebulan penuh di Istiqlal. “Saya bekerja 11 bulan dan satu bulan untuk ibadah,” kata laki-laki yang mengaku bernama Samsuddin itu. Mereka di sini dijamu oleh uluran para dermawan. Tiap hari tak kurang dari 3.000 nasi kotak masuk ke Istiqlal. “Ini akan meningkatjumlahnya pada sepuluh hari terakhir Ramadan,” kata Supanto, satpam Istiqlal. Jumlah “pemburu” ini bisa ribuan.

Kenikmatan berburu ini diakui Ny. Huzaimah, 50 tahun, asal Jember, Jawa Timur, yang membiasakan beriktikaf di Istiqlal sejak tahun 1989. “Kalau habis selesai iktikaf selama satu tahun itu rasanya jadi tenang, enggak grungsang, istilahnya orang Jawa. Seolah-olah di hati ada ketenangan. Terhadap orang lain, kita pengertian. Enggak tahu saya dapat lailatulkadar atau tidak, tapi rasanya tenang.” Begitu juga pengakuan Ny. Nur Halimah, 40 tahun; asal Sukolilo; Surabaya. Baik Halimah maupun Huzaimah tidak dibebani keluarga karena suami sudah meninggal, sementara anak-anaknya sudah berumah tangga. Syamsuddin sendiri telah menyisakan penghasilan selama 11 bulan untuk nafkah keluarga.

Perburuan secara khususjuga dilakukan sekelompok orang. Misalnya, di Sepanjang, Glenmore, Banyuwangi, Jember, dan Pasuruan, yang dilakukan dengan menyalenggarakan salat dua rakaat tengah malam dengan membaca surah-surah panjang Alquran. Setelah itu diikuti wirid-wirid Asmaul Husna, zikir, dan selawat hingga subuh. Di Jakarta, Jam’iyyah Alwashliyah juga acap menyelenggarakan “perburuan” ini dengan menampilkan pembacaan ayat suci dari qari-qari kenamaan nasional. “Kita mengharap rida Allah untuk bisa bersama menyelesaikan persoalan bangsa ini” kata KH Noer Muhammad Iskandar, pemimpin Pesantren Ashiddiqiyah, Kedoya, Kebonjeruk, Jakarta Barat ini.

* Bonus dari Allah

“Lailatulkadar itu ibarat bonus dari Allah. Dan mereka yang mendapatkannya hanya diketahui di akhirat nanti,” kata Ketua Takmir Masjid Agung Sunan Ampel, K.H. Azrny Nawawi. Tuhan sepertinya menjadikan misteri agar hambanya selalu mencarinya tanpa henti. Sengaja dibuat misted agar kita memburunya dengan ibadah, kata Aljurjawi dalam Hikmatut Tasyri’wa Falsafatuh. Nabi bersabda: “Jika tiba lailatulkadar, Malaikat Jibril memanjatkan rahmat dan kesentausaan kepada setiap hamba yang tengah berzikir kepada Allah.” Dalam catatan Abu Hurairah, pada lailatulkadar itu akan turun malaikat yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah pasir di Bumi. Langit terbuka untuk menurunkan mereka. Timbullah cahaya terang dan seolah membentangkan kebesaran Tuhan. Tirai-tirai yang menutupi kemuliaan para malaikat disingkap. Siapa pun seperti bisa melihat wajah asli para malaikat. Keindahan surga, kemegahannya; tempat para nabi, para syahid, juga akan diperlihatkan kebengisan neraka jahanam.

Nabi bersabda: “Barangsiapa beribadah pada malam ke-27 Ramadan hingga subuh, maka ia lebih kusukai daripada beribadah sepanjang malam-malam bulan Ramadan.”

Lantas Fathimah, sang putri, bertanya. “Lalu bagaimana dengan wanita dan orang-orang lemah yang tak mampu beribadah sepanjang malam itu?” Nabi menjawab: “Usahakan jangan tidur. Cobalah ambil barang satu jam untuk berzikir kepada Allah. Itu lebih baik daripada ibadah sepanjang bulan Ramadan.” Aisyah juga medwayatkan sebuah hadis, “Barangsiapa yang menghidupkan malam qadar dengan salat dua rakaat serta memohon ampun kepada Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosanya. la akan berenang dalam rahmat kasih sayang Allah. Jibril akan mengusap dengan sayapnya. Barangsiapa yang diusap sayap Jibril, ia akan masuk surga.”

Menarik pendapat Sayyid Ali Al Khawwash yang dikutip Abdul Wahhab Assya’rani dalam Almizan Alkubra. “Lailatulkadar adalah semua malam yang dipakai untuk mendekatkan dia kepada Allah. Syaikh Afdaluddin pernah menyaksikan turunnya malam qadar pada bulan Rabi’ul Awwal (Maulid) dan Rajab. Namun, pendapat yang utama tetap menyatakan bahwa malam qadar hanya turun pada malam-malam di bulan Ramadan. Ada yang mengatakan sepuluh hari akhir, malam ke-27, malam-malam ganjil bahkan keseluruhan malam Ramadan.”

Untuk mencad malam qadar dilakukan orang dengan banyak berzikir, membaca Alquran serta beriktikaf di masjid-masjid. Iktikaf inilah yang banyak dilakukan nabi pada hari kesepuluh terakhir bulan Ramadan. Bahkan menjelang wafat, Nabi melipat dua kali. Allah berfirman dalam hadis Qudsi: “Sesungguhnya rumahku di Bumi adalah masjid. Dan orang-orang yang mengunjungiku adalah orang-orang yang meramaikan masjid. Maka, bahagialah seorang hamba yang membersihkan did di rumahnya lalu mengunjungi-Ku di rumah-Ku (masjid). Dan adalah hak yang dikunjungi untuk memuliakan orang yang mengunjungi.”

Karena nabi melakukan iktikaf pada Ramadan, sebagian pendapat mensyaratkan puasa dalam iktikaf. “Tiada iktikaf tanpa puasa,” kata Aisyah, istri Nabi. Ibnul Qayyim Al Jauzi dalam Zadul Ma’ad fi hadyi Khayril ‘Ibad mernperkuatnya. “Tak didapatkan riwayat dari Nabi yang menyatakan beliau beriktikaf di luar Ramadan.” Karena itu, dalam tarjih Imam Ibnu Taymiyah, syarat iktikaf adalah puasa. Dalam dwayat Imam Bukhari, nabi pernah menggantinya iktikaf Ramadan pada bulari Syawal. Nabi melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Hanya, Asya’rani menyatakan kebolehan iktikaf kapan saja. Persyaratan puasa hanya menunjukkan keutamaan.

Tentu iktikaf hanya bisa dilakukan di masjid. Seperti dikutip Assya’rani, Imam Syafi’i, dan Imam Malik mensyaratkan di musala (al masjid) dan masjid (al Jami’). Imam Abu Hanifah mengharuskan pada masjid yang dilakukan salat jamgah. Imam Ahmad bin Hanbal mensyaratkan masjid yang dilakukan salat Jumat. Sementara itu, Imam Khudaifah lebih mempersempit hanya tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha di Jerusalem. Sebagian pendapat memperbolehkan wanita beriktikaf di musala rumahnya.

M.H./Laporan Budi Nugroho (Jakarta) dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 990111-022/Hal. 68 Rubrik Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: