Setelah Saling Bantai Itu: Ditolak di Mana-Mana

Soal baru dalam sejarah konflik antar etnis di Kal-Bar: migran Madura ditolak di mana-mana.

DIBURU di kampung, ditampung di pengungsian, tapi ditolak di mana-mapa bila hendak bermukim. Begitulah nasib sekitar 80.000 migran Madura di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kal-Bar). Inilah kasus bare dalam sejarah pertikaian antaretnis di Kal-Bar. Lazimnya, setelah saling bunuh dan upacara perdamaian dilakukan, migran Madura balik ke kampung migrasinya semula. Untuk beberapa lama, persoalan beres, hubungan antaremis pulih kembali.

Tapi hingga pekan ini, konflik antara etn& Madura dan koalisi etnik Melayu, Dayak, Bugis, dan Cina Masih berlangsung. Kekuatan, pasukan ABRI (2,5, batalyon atau sekitar 2.000 lebih personel di Pontianak dan 2 satuan setingkat kompi di setiap kepolisian sektor) tampaknya belum mampu meredakan situasi. Alhasil, serangan-serangan sporadis terhadap orang-orang Madura yang meletus, di berbagai lokasi, sulit dibendung.

“Suasana Kota Sambas masih mencekam bak kota hantu. Toko-toko tutup rapat, jalanan sepi, rumah-rumah kosong ditinggal penghuninya, dan terlihat kepulan asap di tengah puing-puing rumah yang terbakar. Pasukan tentara berseliweran di setiap pojok kota sementara itu di sepanjang jalan keluar kota, mayat-mayat tanpa kepala bergelimpangan,” demikian koresponden D&R, Jaya Putera, melaporkan.

Menurut data Pemerintah Daerah Kal-Bar, sejauh ini 265 orang telah tewas (252 Madura, 12 Melayu, seorang Dayak), 38 luka berat, 9 orang luka ringan. Harta yang musnah: lebih dari 2.330 rumah hangus terbakar dan 164 dirusak massa, 4 mobil dibakar dan 6 dirusak, 9 sepeda motor dibakar dan 1 dirusak.

Kepala Dinas Penerangan Kepolisian Daerah Kal-Bar Kapten Suhadi S.W. mengakui, aparat keamanan mempunyai sejumlah kendala di lapangan. Lokasi kerusuhan yang terpericar-pencar menyulitkan mobilitas pasukan. Kurangnya sarana komunikasi dan transportasi juga menyulitkan aparat. Tak jarang, untuk berpatroli keliling saja, mereka menggunakan mobil pikap milik orang lain. Toh, aparat keamanan berhasil menyita tak kurang 630 pucuk senjata api rakitan seperti jenis bomen dan lantak, pistol, dan senjata laras panjang; lalu bom molotov 13 buah, amunisi 355 butir, peluru gotri 79 butir, peluru dari potongan besi 101 butir, peluru bomen 18 butir, mesiu 4 stoples besar, 9 stoples kecil, 4 botol, 4 kantung plastik, ketapel 66 buah, dan anak panah lima karung.

* Bugis pun Terlibat

Dan sampai Kamis, 25 Maret pekan lulu, aparat keamanan telah menangkap 16 orang dengan tuduhan berbeda-beda. Ada yang karena membawa senjata tajam dan senjata api, ada juga yang dituduh melakukan penyerangan. Tapi hanya 16 orang? “Tidak mungkin kami asal taqgkap orang begitu saja karena ada hak asasi manusia,” kata Kepala Pusat Penerangan ABRI Mayor Jenderal Syamsul Ma’arif.

Toh demikian, aparat keamanan masih diprotes juga. Juru bicara pemuda Melayu (Saumardin), juru bicara pemuda Dayak (Param), dan juru bicara pemuda Bugis (Hermansyah) menyatakan kedatangan prajurit A$RI dari luar Kal-Bar tidak menyelesaikan masalah. Mereka mengkritik sikap represif yang dipertontonkan aparat keamanan yang mengakibatkan seorang tewas remuk kepalanya terlindas mobil aparat keamanan dan sejumlah orang hilang.

Sejauh pelacakan koresponden D&R, meledaknya konflik antaretnis kesembilan ini (lihat Saling Bantai Sepanjang Zaman?) merupakan rentetan aksi yang dimulai dari pembalasan kasus penyerangan lebih, dari 100 orang warga Madura dari Desa Rambaian dan sekitarnya ke Desa Paritsetia, Kecamatan Jawai, 19 Januari lalu. Insiden itu menewaskan tiga orang dan tiga luka-luka berat warga suku Melayu. Anehnya, yang ditahan aparat keamanan justru seorang suku Melayu, bukan warga penyerang. Sebelumnya ada kasus pula. Rudi, pemuda asal Madura, menyerang Bujang Labik yang Melayu; dengan celurit, 7 Januari lulu. tiara-garanya, Rudi tersinggung dipelototi kernet angkutan kota itu lantaran tak membayar ongkos. Setelah itu, konflik pun meletus antara etnik Melayu dan Madura.

Sementara itu muncul pula kasus baru Ibrahim, seorang pemuda Madura, menenteng senjata api rakitan di Pasar Pemangkat. Dianggap petentengan, ia ditegur beberapa orang. Ibrahim tak senang dan terjadilah cekcok. Setelah itu, Ibrahim pulang ke rumah. Lalu, entah siapa pelakunya, tiba-tiba ditemukan empat warga Madura tewas; tiga di Desa Perapakan dan seorang di Desa Sinam.

Keterlibatan orang Dayak dalam konflik etnis ini dipicu oleh terbunuhnya Martinus Amat, pekerja perkebunan kelapa sawit asal Kalimantan oleh seorang pemuda. Mobil yang ditumpanginya pun dibakar.

Dan masih ada lagi: terlibatnya etnis Bugis. Ceritanya, pada 23 Januari lalu terjadi perang mulut antara pemuda asal. Madura dan Bugis, karena si Madura ingin menonton gratis road race di terminal induk Singkawang. la, konon, mengancam hendak menyerang Kualasingkawang: Maka, Bugis pun ikut angkat parang.

* Hanya Segelintir

Sejak dulu, Kal-Bar memang tak pemah sepi dengan konflik etnis: melibatkan imigran Cina, etnik Dayak, Melayu, Belanda, maupun Madura. Dan menurut Dr. Harlem Slahaan dari Universitas Gadjah Mada yang pernah melakukan penelitian di Kalimantan, kerusuhan di daerah itu selalu terjadi akibat perebutan kekuasaan sumber-sumber alam antar kelompok yang mempunyai kemampuan dan akses yang berbeda. Ada kelompok etnis menangkap peluang kesempatan lebih cepat daripada yang lain. Katanya, migran Madura bisa menguasai ekonomi di Kalimantan karma mereka umumnya pekerja keras di bidang apa pun.

K.H. Nurudin, Sekretaris Badan Silaturahmi Ulama se-Madura, membenarkan pendapat Harlem. “Masalah di sana soal kesenjangan sosial. Orang Madura di sana hidup enak dibandingkan masyarakat setempat,” katanya. Menurut Hambali yang tinggal di Pontianak, hanya segelintir prang Madura yang perangkainya jelek, seperti senang berjudi dan menyabung ayam, tapi orang menyamaratakan saja.

Jalan keluarnya? Sejumlah pejabat, pakar, dan Mama Madura tak setuju kebijakan Gubemur Kal-BarAsparAswin yang hendak memulangkan orang-orang Madura yang telah beranak-pinak di Kal-Bar ke kampung halamannya-meskipun dengan Maya pemerintah daerah. Karma, itu akan menimbulkan persoalan bare di Pulau Garam itu.

Menurut Harlem Siahaan yang pernah meneliti tentang kolonialisasi dan kongsi Cina di Kal-Bar pada tahun 1984 serta konflik dan perlawanan kongsi Cina di Kal-Bar pada tahun 1994, hubungan antarkelompok masyarakat di Kal-Bar bisa diperbaiki dengan cara menghilangkan perkampungan yang eksklusif, homogen, monolitik secara etnik. Selanjutnya dibuat perkampungan bare yang multietnik dan benar-benar berbaur, sehingga akan tercipta komunikasi antaretnik.

“Hidup dengan tiara mengelompok, emosi mudah terpancing dan mereka akan lebih militan,” katanya. Karena itu, model transmigran bedol desa, memindahkan secara utuh segala perangkatnya ke tempat perkampungan bare yang sering dilakukan semasa Orde Baru, harus dihentikan mulai saat ini.

Memang, semua usul harus dikaji, yang satu ini layak dicoba karma paling mungkin dilakukan dalam waktu relatif dekat, agar masalah pengungsian tak berlarut-larut. Sudah pasti ada kendalanya: bagaimana meyakinkan prang Dayak dan Madura, misalnya, agar mereka tak mengelompok’ sesamanya. Ingat saja rumah lamin Dayak, bukankah itu simbol etnosentrisme?

Imam Wahjoe/Laporan Jaya Putera (Pontianak), Akhmad Solikhan (Yogyakarta), Abdul Manan (Surabaya), dan Tiarma Siboro
(Jakarta)

D&R, Edisi 990329-033/Hal. 15 Rubrik Liputan Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: