Kupu-Kupu Bertelur Dolar

Seorang mantan karyawan Pemerintah Daerah Jawa Timur berhasil menangkarkan kupu-kupu langka. Satu cara mencegah kupu-kupu punah.Kupu-kupu yang lucu
Ke mana engkau terbang …
(Ibu Sud)

ANDAI pengarang lagu kupu-kupu itu Hariyanto, staf Dinas Pengairan Pemerintah Daerah Jawa Timur, jawabnya jelas: “Ke hutan Argopuro, aku terbang.” Lima tahun lalu, Hariyanto yang sedang mengawasi saluran irigasi di kawasan kaki Gunung Argopuro tertegun. Untuk pertama kalinya, ia melihat kupu-kupu yang sungguh cantik warna sayapnya. “Itu jenis yang belum pernah saya lihat,” tutur karyawan yang telah belasan tahun naik-turun dan mengitari lereng Argopuro di kawasan Purbolinggo itu. Singkat kata, saat itu juga Hariyanto jatuh cinta kepada kupu-kupu: ia berniat memelihara.

Kini, kisah cinta itu berbuah sudah. Bapak dari tiga anak yang telah pensiun dari pemerintah daerah itu sukses memelihara kupu-kupu dengan cara menangkarkan. Dan, itu juga berarti bisnis bernilai puluhan juta rupiah. Seekor kupu-kupu langka ia jual antara Rp 900.000 dan Rp 950.000.

Semua itu berkat kerja keras Hariyanto yang tak kenal putus asa. Ketika pertama kali mengikuti kupu-kupu ke sarangnya dan membawa pulang empat telur, percobaannya gagal total: hanya dua telur menetas, itu pun kupu-kupunya mati tiga hari kemudian. Merasa kurang ilmunya, waktu luangnya ia gunakan bertekun di perpustakaan, membaca buku apa saja tentang kupu-kupu, antara lain buku terbitan Time-Life Book.

Akhirnya, lelaki yang hanya berpendidikan sekolah menengah atas ini kemudian tahu, misalnya, setiap kupu-kupu ternyata punya tanaman tertentu untuk menu ulatnya, kupu-kupu juga tidak boleh telat makan. Sebagian besar kupu-kupu menyukai bunga berwarnajingga, kuning, oranye, atau merah merekah. Jenis tanaman yang paling disukai kupu-kupu biasanya beraroma menyengat, seperti soka, kenikir, kembang kertas, kamboja jepang, kacapiring, cempaka, mawar, melati, sedap malam, dan kemuning. Kupukupu jenis Papilio, yang kebanyakan bersayap indah, umumnya menyukai bunga beraroma lemon.

Dari buku pula ia tahu “cinta pertama”nya temyata tergolong kupu-kupu langka dan ‘oernama Troides corivera. Dan kini ia tak cuma menangkarkan cinta pertamanya itu. Ada enam jenis kupu-kupu lain yang juga tergolong langka yang juga ia tangkarkan: tonos, Atopoera luxti, Papilio paris, Papilio memmum, Fineres, dan Crapium sarpedon.

Maka, secara tak langsung, Hariyanto di satu sisi ikut menyelamatkan kelahiran sejumlah kupu-kupu langka yang sebagian indah sayapnya, yaag sebagian lagi biasa-biasa saja. Di alam bebas belum tentu kupu-kupu yang menetas dari kepompong selamat — bisa dimakan burung, serangga lain, dan sebagainya. Tapi, karena yang lahir di kandanya Hariyanto tak dikembalikan ke hutan dan ia pun tak menangkapkan dalam arti kata sebenarnya–kupu-kupu dipelihara sampai bertelur di kandang–bisa juga dikatakan Hariyanto tak menambah apa pun bagi populasi kupu-kupu di Hutan Argopuro.

Juga belum jelas, adakah pembeli kupu-kupu langka Hariyanto juga menangkapnya atau sekadar dijadikan koleksi dan bahan penelitian sampai kupu-kupu itu mati. Para pembeli kebanyakan memang pakar serangga atau pencinta lingkungan hidup, khusunya serangga.

Sebenarnya, menangkarkan kupu-kupu langka yang hidup di dataran tinggi takmenyita waktu sepanjang tahun. Masa berkembang biak kupu-kupu jenis ini hanya sekitar dua bulan dan masa penetasan ada di awal musim hujaul. Ditambah sekitar sebulan menyiapkan kandang berukuran 3 x 2,5 x 2,5 meter, yang diisi berbagai tanarnan perdu dan bunga untuk makanan ulat dan kupu-kupunya, praktis Hariyanto, istri, dan tiga anaknya hanya bekerja tiga bulan untuk menangkarkan kupu-kupu itu. lga bulan selanjutnya adalah masa menanti pembeli. Hariyanto mengaku, rata-rata ia bisa memperoleh untung Rp 10 juta dalam dua kali penangkaran.

* Disuntik Mati

Bila Anda sempat menengok kandang penangkaran itu, jangan kaget bila di antara pepohonan perdu yang kebanyakan pohon kembang soka tampak batu-batu. Kata sang penangkar, kupu-kupu suka hinggap di batu dan berjemur di panas matahari. Dan selain mengisap nektar (cairan gula yang ada pada mahkota bunga), ada juga kupu-kupu yang minum dan mengekstraksi garam dari tanah yang lembap.

Seperti sudah disebutkan, sejauh ini sebenarnya Hariyanto hanya “memindahkan” penetasan telur atau pemeliharaan ulat dari hutan ke kandang di halaman rumahnya. Bila dipelihara mulai dari telur, telur itu ditempelkan pada daun. Agar telur aman dari predator bisa disimpan dalam plastik bekas air kemasan dan ditempatkan dalam lemari yang diberi kelambu–kalau menetas, ulatnya tidak merayap ke mana-mana. Bila dipelihara dari kepompong, setiap pagi kepompong itu harus disemprot agar kelembapan kulitnya yang biasanya selalu terkena embun di alam bebas terjaga. Kalau kulit kepompong kering, kupu-kupu muda sulit keluar dari “selimut”.

Sudah juga disinggung, kupu-kupu di kandang Hariyanto tak lamakeberadaannya sehingga tak sampai bertelur. Bila kupu-kupu itu tak laku dibeli orang, oleh Hariyanto-ah, ini agak kejam juga–disuntik mati. Jasadnya, yang tetap indah, dijadikan isi berbagai hiasan dari resin.

Itulah bila keluarga ini tampak hidup sukses: di luar kupu-kupu hidup, ia juga menjual kupu-kupu mati. Adajuga usahanya yang lain: usaha jati emas. Dari multiusaha itu, ia mengaku punya penghasilan total Rp 250 juta setahun.

Bagaimana Hariyanto memasarkan kupu-kupunya? Ia memotret kupu-kupu yang diawetkannya, mencetaknya sejumlah yang diperlukan, lalu di tiap belakang foto itu ada pemberitahuan: barangsiapa ingin beli kupukupu hidup atau mati, silakan datng ke rumahnya; di bawahnya ada narna dan alamatnya. Foto ini ia titipkan ke para pemandu wisata di Jawa Timur. Yang berhasil membawa pembeli dapat komisi sepuluh persen.

Ada kabar, beberapa lama lalu, populasi kupu-kupu di pedalaman Lembah Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan, berkurang. Bantimurung, kita tahu, dikenal sebagai kerajaan kupu-kupu sejak entah kapan. Bila ternyata kupu-kupu langka bisa ditangkarkan seperti dibuktikan Hariyanto, para pencinta lingkungan hidup tentulah tak perlu capekcapek mencari cara baru–tinggal mengembangkan yang telah dilakukan orang Mojokerto itu–untuk mencegah punahnya kupukupu langka. Mungkin, orang kota tak begitu peduli–bukankah nyanyian karya Ibu Sud itu pun sudah mulai jarang terdengar, terdesak lagu-lagu pop Joshua dan lain-lain? Tapi, harap dimaklumi, kupu-kupu itulah penolong penyerbukan dan pembuahan berbagai bunga dan buah. siapa tahu, bila penurunan populasi di Bantimurung tak tercegah, ada sejumlah tanaman yang akan ikut punah karena tak ada yang membantu penyerbukannya. Lalu, kita terpaksa impor kupu-kupu dari Belgia dan Itali — yang moyangnya berasal dari sebuah rumah di Mojokerto. Wah!

Andreas Ambar Purmanto (Jakarta) Dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 990621-045/Hal. 44 Rubrik Lingkungan

8 Tanggapan to “Kupu-Kupu Bertelur Dolar”

  1. mas boleh tau kontaknya pak Hariyanto-nya… mungkin bisa diliput, terima kasih.

  2. Mas, om boleh tanya, saya pernah denger di Depok juga ada penangkar dan pengusaha serangga untuk di awrtkan dan di ekspor ke mancanegara, punya infonya ngga ya?

    makasih..
    Denny Irawan
    Biologi IPB’04

  3. Wahyu Widayat Says:

    boleh minta alamat Pak Hariyanto.. Terima Kasih..

  4. zalam obama Says:

    boleh donk minta alamat pak hariyanto… soalnya di daerah saya jg banyak habitat kupu2 cuman tdk ngerti pembudidaannya

  5. Pak Zalam,
    Tinggal dimana ? Munkin saya bisa kesana utk kolek kupu2.
    Trims

  6. halo mas, mungkin ada yg tau nomor bapak Hariyanto, yang bisa dihubungi untuk membeli kupu2 nya?!..

    terima kasih..😀

  7. Kalo tidak keberatan sy ingin tau nomor telpon atau alamat tempat tingal pak Harianto, ingin tau cara penagkaran sederhana sbgai langkah awal atu kalau bisa pak Harianto bs jadi penada jenis kupu-kupu yang kami punya. krna untuk sementara kami cuma nangkap trus dijual

    Terima kasih

    Mirdat

  8. apa bapak beli kupu peleng bangkep

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: