Subuh Berdarah di Peusangan

“Kami orang miskin. Anak saya terpaksa kerja sebagai penjaga tambak untuk membiayai sekolahnya. Dia bukan GAM,” kata M. Nasir Abdurrahman, ayah Anas, 13 tahun, yang tewas tertembak.

SEPI menggelayut di tiga desa di Kecamatan Peusangan, Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam, Kamis pekan lalu. Rumah-rumah berdinding kayu berjajar, sunyi seperti tak berpenghuni. Pasar, warung kopi, dan tempat-tempat yang biasanya ramai mendadak senyap. Orang kampung memilih masuk rumah dan mengunci mulut jika ada wartawan atau orang asing yang datang. “Jangan wawancarai saya. Saya tak mau ada masalah,” kata seorang warga Desa Mata Maplam di Kecamatan Peusangan yang ditemui TEMPO siang itu.

Ada apa di Peusangan? Rupanya trauma masih mencekam warga setempat, meski insiden penembakan di Desa Cot Rabo Tunong, Mata Maplam, dan Alue Geulumpang di pelosok Aceh Utara itu telah lebih dari sepekan lewat. Ketika itu, Rabu subuh 21 Mei lalu, dalam sebuah penyergapan terhadap anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), TNI menembak mati tujuh warga desa yang diyakini aparat sebagai anggota gerakan separatis itu.

Tak banyak yang tahu tentang kejadian yang meletus saat subuh itu. Adalah kantor berita AFP yang menyiarkannya keesokan harinya–lalu dikutip Koran Tempo pada edisi Jumat 23 Mei 2003. Selain media Prancis tersebut, media asing yang juga menulis tentang insiden itu adalah BBC dan The Guardian, keduanya media asal Inggris.

Penuturan penduduk desa kepada media asing itu memang membuat berdiri bulu kuduk. Tentara, misalnya, dalam berita itu disebutkan begitu sadistis: membariskan penduduk yang mereka tuding anggota GAM, lalu menembaki mereka sampai tewas. Sejumlah anggota keluarga korban malahan membantah korban adalah anggota GAM. Dengan kata lain, TNI dituding membunuh penduduk sipil.

Tudingan ini bikin heboh Jakarta. Para jenderal di Markas Besar TNI di Cilangkap meradang. “TNI akan menuntut media yang memuat pemberitaan keliru tentang kasus penembakan ini,” kata Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Selasa lalu. Ia lalu memerintahkan anak buahnya segera membentuk tim investigasi untuk mengecek kebenaran kisah ini.

Apa yang sebenarnya terjadi di Peusangan? Kepada TEMPO, yang menyisir kawasan itu tiga hari setelah kejadian, Syamsuddin, 50 tahun, imam masjid Desa Cot Rabo Tunong, bercerita ihwal mula kejadian gawat yang meletus sekitar pukul 5.30 itu. “Saya baru tidur setelah salat subuh,” katanya. Tiba-tiba terdengar suara tembakan disusul teriakan, “Tiarap!” Syamsuddin sontak terjengkang dari tempat tidur dan menyuruh istri dan ketujuh anaknya tiarap di lantai.

Tak lama kemudian pintu rumahnya digedor orang. Prajurit TNI datang. “Ini kampung GAM, ya?” teriak seorang tentara. Syam menggeleng. Ia mengiba supaya tidak ditembak. Lalu terdengar lagi suara rentetan tembakan, tapi Syam mengaku tak melihat langsung apa yang terjadi ketika itu.

M. Nasir Abdurrahman, penduduk lainnya, bercerita. Subuh itu beberapa tentara menerobos masuk rumahnya dan membawanya keluar. Dia dibawa ke pasar kampung dan diperintahkan jongkok di pinggir jalan. Bersama beberapa penduduk lain, Nasir diminta menjelaskan di mana lokasi persembunyian anggota GAM. Ia mengaku tak tahu. Diselingi bentakan dan todongan senjata, Nasir diperiksa untuk kemudian diizinkan pulang satu jam kemudian.

Baru sekitar pukul 10, Syam dan Nasir tahu apa yang terjadi. Keduanya menemukan tujuh mayat tergeletak di dekat sawah dengan jarak satu sama lain sekitar 5-10 meter. Ketujuh korban itu adalah Anas Munajir, 13 tahun, dan Dedi Daud, 31 tahun (keduanya warga Cot Rabo Tunong), Tasran (27 tahun, warga Desa Pulo Naleungh), Nasrullah Yusuf (27 tahun, dari Alue Geulumpang), serta Efendi Marzuki, 25 tahun, Khaerul Hasballah, 27 tahun, dan Nurdin Ahmad, 55 tahun (ketiganya warga Desa Mata Maplam).

Keluarga korban membantah sanak mereka yang terbunuh masuk anggota GAM. “Dia (Anas) bukan GAM. Dia masih terlalu kecil untuk ikut kegiatan seperti itu,” kata M. Nasir Abdurrahman, ayah Anas. Syamsuddin, yang memandikan jenazah Anas, menemukan pada tubuh remaja itu empat lubang peluru, masing-masing di punggung tembus ke dada, betis, paha, dan kepala bagian kiri. Sebagian kepala Anas bahkan terkoyak.

Nasir nyaris pingsan ketika menemukan anaknya tewas. “Saya mengangkat sesosok tubuh anak kecil tertelungkup. Ketika saya balikkan, ternyata itu anak saya sendiri,” katanya sedih.

TNI tak mempercayai cerita versi penduduk ini. Dalam dua kali investigasi yang dilakukannya, Polisi Militer TNI turun langsung ke lokasi kejadian untuk mencari fakta. Investigasi dilakukan 24 Mei lalu dengan menyertakan lima orang wartawan dari TEMPO, The Jakarta Post, Kompas, dan RCTI.

Rombongan dikawal ketat menuju lokasi di tiga desa. Di sanalah para kuli tinta dipertemukan TNI dengan empat warga Peusangan yang diyakini aparat mengetahui insiden itu. Mereka adalah A. Halim (warga Desa Alue Julok), Muhammad Puteh (Alue Geulumpang), M. Ali Ahmad (Panti Cot), dan Ibrahim Hasim (Cot Rabo Tunong). Halim dan Ibrahim adalah penunjuk jalan TNI dalam penyerangan subuh hari itu.

Halim yakin mereka anggota GAM. Ia mengenali sebagian korban sebagai cantoi alias mata-mata yang bertugas memantau gerak pasukan TNI. Mereka bersembunyi di gubuk-gubuk sekitar tambak ketika aparat pagi itu datang memburu. “Merekalah yang berteriak ‘lari, ada pai’ (TNI–Red),” kata Halim. Ia makin yakin karena malam itu tak seorang pun penduduk desa yang berani berkeliaran di luar rumah. Apalagi pada enam mayat ditemukan handy talkie.

Tentara Republik juga punya versi lain. Kejadiannya berawal ketika 87 anggota pasukan Para Komando (Parako) tentara terlibat kontak senjata dengan GAM. Ketika itu, sekitar pukul 2.30 pagi, pasukan turun dari truk dan berjalan kaki menuju Kampung Krueng Dee. Mereka menghindari jembatan yang menghubungkan Kampung Krueng Dee dengan Kampung Cot Paseeh yang diduga telah dipasangi bom oleh GAM.

Setelah berjalan kaki sekitar 100 meter, terdengar ledakan bom dari arah jembatan. Pada saat itu terlihat ada dua anak berusia 13 tahun yang berlari menuju penggilingan padi, tak jauh dari jembatan.

TNI lalu mendekat. Sekitar pukul 5.00 mereka menemukan dua anggota GAM berjalan menuju arah pasukan. Dari jarak 100 meter dari posisi pasukan, dua orang itu berteriak, “Pai masuk. Lari…!” Pasukan berteriak memerintahkan kedua anggota GAM itu berhenti, tapi tak dihiraukan. Lalu terdengar ledakan senjata pelontar granat (GLM) dari arah lawan. Aparat melepaskan tembakan dan, bruk…, kedua orang itu roboh.

Anggota GAM lainnya berusaha melarikan diri. Dua di antaranya ada yang tertangkap oleh Ibrahim, saksi dalam investigasi TNI. Ibrahim bertanya dalam bahasa Aceh, “Sou dro keuh (siapa kamu)?” Dia menjawab, “Lon anggota marinir GAM (saya marinir GAM).” Dia juga kedapatan membawa handy talkie merek Kenwood. Saat ditanya siapa teman yang bersamanya, ia menjawab, “Nyan waki lon (dia wakil saya).” Tiba-tiba kedua orang itu lari. Saat diperintahkan berhenti, keduanya tetap ambil langkah seribu. Tembakan pun meletus dan keduanya tewas.

Korban tidak ditemukan di satu lokasi, tapi terserak di tiga desa. Ini versi Halim. Lokasi ditemukannya jenazah adalah pertemuan dari tiga desa di Kecamatan Peusangan. Kepada TEMPO, penduduk kampung juga mengaku tak melihat langsung insiden penembakan itu. Keterangan Halim dan Ibrahim ini diperkuat oleh saksi lain yang menyebutkan mengenali lima korban yang tewas itu anggota GAM. Mereka disebutkan pernah menarik pajak nanggroe, melakukan penembakan, dan membakar sekolah.

Saksi Ibrahim mengaku pernah dimintai pajak nanggroe oleh salah seorang korban. Halim pernah ditembak dengan senjata AK-47 dari jarak 3 meter. Tembakan tersebut melukai mulut, tangan, dan kakinya hingga cacat. Rumah Halim juga pernah dibakar GAM karena ia menolak membayar pajak nanggroe. Pemalakan berkedok pajak negara itu pernah pula dialami Ali Ahmad. Ibrahim Hasim bahkan pernah ditahan GAM selama lima hari di markas Alue Buya Pasee
karena dituduh sebagai mata-mata TNI.

Dalam paparannya kepada pers, TNI mengakui korban yang jatuh dalam penembakan itu berjumlah 10 orang. Lima di antaranya diakui saksi sebagai anggota GAM, sedangkan sisanya diduga hanya merupakan mata-mata (lihat infografik).

Panglima Komando Operasi TNI, Brigjen TNI Bambang Darmono, juga meragukan kesaksian penduduk bahwa sebagian korban keluar malam untuk menjaga tambak. “Tambak itu sudah tidak digunakan sejak lima bulan lalu,” kata Bambang berapi-api. Pengecekan di lapangan menunjukkan tambak udang di Peusangan banyak yang menganggur. “Udang-udang kami sudah banyak mati kena hama,” kata seorang penduduk. Meski demikian, sehari-hari masih ada warga kampung yang mencari sisa-sisa udang dan kepiting kecil di sana.

Tapi penduduk masih yakin TNI salah tembak. “Kami seluruh warga berani bersumpah bahwa Anas dan Dedi Daud bukan GAM. Kalau yang lain, kami tidak tahu karena bukan warga desa kami,” kata Saiful Bahri, Wakil Kepala Desa Cot Rabo Tunong. TNI bisa saja kerepotan menghadapi taktik gerilya. GAM bisa dengan mudah membaur dengan penduduk. Akibatnya, salah sasaran selalu mungkin terjadi.

Tentara lalu pasang kuda-kuda. Mereka kini tengah menyiapkan pengadilan militer cepat bagi anggotanya yang ditengarai sembarangan main tembak. Pengadilan itu rencananya akan diadakan di dua kawasan penting di Aceh, yakni Banda Aceh dan Lhokseumawe.

Sebuah keputusan yang bagus. Di pengadilan, kelak bisa diusut apakah penembakan anggota GAM tak bersenjata juga halal dilakukan. Dalam insiden Peusangan, sebagian besar korban ternyata ditemukan tanpa senjata di tangan. Kecamatan kecil itu kini cuma menyisakan sepi dan sakit hati.

Arif Zulkifli, Wahyu Dhyatmika, Zainal Bakri, Abdul Manan, Faisal Asegaf (Lhokseumawe)

TEMPO Edisi 030608-014/Hal. 26 Rubrik Laporan Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: