Nyanyian Pilu Para ‘Keuchik’

Kini banyak desa di Aceh tanpa pemimpin. Makanan empuk GAM, juga takut kepada TNI.

NYALI Ishak Makam bagai terbang entah ke mana. Tiga tamu tak diundang itu memang tidak mengumbar ancaman, tapi senapan Kalashnikov yang mereka empaskan di atas meja di ruang tamu sudah cukup membuat jantung berdebar. “Kami minta uang dua setengah juta,” kata seorang dari ketiga tamu itu, dengan mata melotot. Ishak Makam memejamkan mata, berusaha menstabilkan dengkulnya yang menggeletar. Dalam ketakutan, pria 50 tahun itu menjawab sekenanya, “Saya minta waktu beberapa hari, Pak.”

Lumayan, para tamu itu mengangguk, melangkah ke pintu, lalu menghilang ke belakang kampung. Ishak mengurut dada, lalu menarik napas panjang berulang-ulang. Lega. Tapi itu cuma sementara. Selang dua hari kawanan itu datang lagi. Kali ini mereka tak sudi pulang melenggang hampa. “Mana uangnya?! Serahkan, atau…,” kata seorang pria bertubuh gempal dengan moncong bedil mematuk jidat Ishak. Tak ada pilihan lain, sisa kas desa Rp 2,5 juta berpindah ke saku kawanan itu.

Sebelum pergi, mereka masih meninggalkan ancaman, “Bulan depan jangan tunda-tunda lagi. Kalau ditunda, kamu didor!” Sungguh, ancaman itu membuat hari-hari Ishak tak pernah tenteram. Jantungnya selalu berdebar-debar jika pintu rumahnya diketuk, walau cuma oleh tetangga sebelah yang datang bertamu. Para pemeras bersenjata itu mengaku anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang ngotot ingin memisahkan Serambi Mekah itu dari Republik Indonesia.

Ishak sendiri adalah keuchik alias kepala desa di daerah Bireuen. Menurut para kawanan tersebut, pungutan itu merupakan pajak untuk pemerintah Nanggroe Aceh–pemerintah versi GAM tentu saja. Pasukan GAM itu, menurut Ishak, beberapa kali menagih uang pajak kepadanya, dan selalu dilayani karena ia tak kuasa melawan. Aksi pemerasan itu baru berhenti setelah darurat militer pada 19 Mei lalu. “Mungkin mereka takut sama tentara Indonesia,” katanya.

Bukan cuma Keuchik Ishak yang mengalami nasib nahas. Sejumlah kantor desa di Aceh malah seperti anjungan tunai mandiri (ATM) bagi GAM. Hampir setiap bulan ada saja anggota GAM yang datang menagih uang. Rusli, Kepala Desa Babah Meulaboh, Aceh Barat, misalnya, mengaku berkali-kali didatangi orang GAM yang meminta uang, dari ratusan ribu hingga Rp 2,5 juta. Saat memungut “pajak” itu, mereka selalu menenteng senjata Kalashnikov dan M-16. Walau tak mengancam, senjata-senjata itu sudah cukup membunuh keberanian Rusli. Rakyat sedesa biasanya diam seribu bahasa. Jangankan melawan, mendengar kabar kawanan itu menghampiri desa saja, mereka sudah buru-buru mengunci pintu.

Kadang bukan cuma uang, nyawa juga bisa melayang. Tengku Haji Nurzaman Puteh, Kepala Desa Tuha Puduek Baroh, Trienggadeng, Sigli, misalnya, tewas ditembak orang tak dikenal beberapa waktu lalu. Cerita bermula ketika Nurzaman bertakziah ke rumah tetangganya, sekitar 100 meter dari rumahnya. Beberapa warga pulang duluan, sementara sang kepala desa baru beranjak sekitar pukul 23.30. Pada malam seperti itu, keadaan desa sangat sepi, warga sudah terlelap.

Tatkala memasuki halaman rumahnya, sang keuchik diberondong orang tak dikenal. Mendengar letusan senjata, putra-putri sang kepala desa bergegas ke luar rumah. Mereka menemukan ayahnya terkapar bersimbah darah, cuma beberapa depa dari pintu rumah. Ada lima jejak peluru di sekujur tubuhnya–satu bersarang di kepala. Tangisan keluarga dan warga memecah keheningan desa kecil itu. Aparat keamanan menyebutkan, pasukan GAM-lah yang menghabisi nyawa pria 56 tahun itu. Tapi GAM membantah.

Ketika darurat militer digelar, 19 Mei lalu, posisi para kepala desa di Aceh kian terjepit dan dilematis: pro-Indonesia dan pendukung GAM sekaligus. “Kedua pihak, GAM dan TNI, merasa memiliki para keuchik. Ini yang membuat posisi kami sangat sulit,” kata Bachtiar Abdullah, Keuchik Blang Bladah, Jeumpa, Bireuen. “Terpanggang” seperti itu memaksa mereka “bermuka dua”. Jika tentara Indonesia mendekati desa, para keuchik sigap memasang Bendera Merah-Putih di halaman kantor desa. Begitu ada kabar tentara GAM yang datang, dalam hitungan menit si Merah-Putih dilipat, lalu bendera GAM berkibar-kibar.

Sejumlah kepala desa punya siasat unik menghindari keterlambatan mengganti bendera, ya semacam “two in one”. Maksudnya, satu tiang dua bendera. Begitu mendengar pasukan GAM yang datang, tinggal memelorotkan si Merah-Putih, lalu mengereknya lagi setelah pasukan itu lewat. Begitu juga sebaliknya. Cara ini lebih ringkas, cepat, dan luput dari ancaman.

Tapi kisah seram tetap saja terjadi. Awal Juni lalu, ketika perang sedang sengit-sengitnya, tiba-tiba 12 kepala desa di Peurlak, Aceh Timur, diculik sekelompok orang bersenjata. Hingga kini belum jelas bagaimana nasib para kepala desa itu. Menurut Komandan Kodim Aceh Timur, Letnan Kolonel Sunari, penculikan itu dilakukan tentara GAM yang cemas akan rencana pembuatan KTP baru oleh penguasa darurat militer di Aceh. Pembuatan kartu itu menggantikan KTP yang diambil paksa oleh GAM begitu perang meletus, untuk mengaburkan data orang GAM yang masuk ke saku militer Indonesia. Jika semua warga tanpa kartu identitas, aparat Indonesia akan sulit mengidentifikasi mana GAM dan mana warga biasa. Nah, pembuatan identitas baru itu bisa memperjelasnya.

Penculikan juga terjadi di Jeunieb, Bireuen. Tujuh keuchik tiba-tiba diangkut sekelompok pria bersenjata berpakaian tentara. Membingungkan, memang. Sebab, di Aceh, GAM dan tentara Indonesia sama-sama menggunakan pakaian loreng yang warnanya serupa. Kisah-kisah penculikan seperti ini marak di hampir semua wilayah di Aceh. Aparat keamanan Indonesia menuding pelaku penculikan itu adalah anggota GAM.

Tapi bukan cuma GAM yang mengincar keuchik. Aparat tentara Indonesia juga pernah menghajar keuchik hingga babak-belur. Itu dialami Hamdani Yahya, penjabat keuchik–karena keuchik sebelumnya mengundurkan diri–di Meunaseh Raya, Bireuen, pada dini hari 27 Mei lalu. Hamdani sedang salat subuh ketika tiga tentara Indonesia datang ke rumahnya. Ketiga pria itu mengetuk pintu berkali-kali seraya bertanya, “Ada orang di dalam?” Begitu membuka pintu, Hamdani ditubruk pertanyaan, “Apakah benar kamu Pak Keuchik?” dari seorang di antara tentara itu. “Bukan, saya bukan keuchik, saya hanya sementara,” Hamdani menjawab.

Hamdani dipaksa mengikuti ketiga tentara itu ke sebuah gubuk di perbatasan desa. Di tengah perjalanan, menurut pengakuan Hamdani, ia digebuki. Ketika ditanya letak markas GAM, dan ia menjawab tak tahu, sebuah tendangan singgah di wajahnya. Di jalan itu rombongan mereka bertemu dengan seorang tentara yang kemudian diketahui bernama Tony Haryanto. Entah kenapa, si Tony juga ikut menggebuk lurah sementara itu. Sekujur badan Hamdani babak-belur, darah keluar dari hidung, dan bibirnya pecah. Ia terpaksa dirawat empat hari di Rumah Sakit Dr. Fauziah, Bireuen. Hasil visum menunjukkan ada luka parah di kedua kelopak matanya yang mengeluarkan darah.

Para tentara itu memang diadili secara militer di Pengadilan Negeri Lhokseumawe, sepekan setelah kejadian. Mereka adalah Pratu Saiful Bahri, Prada Tony Haryanto, dan Prada Agus Widayat. Ketiga terdakwa mengakui perbuatan mereka. Menurut pengakuan Tony Haryanto, pagi hari itu dia bertemu Hamdani di tengah jalan, yang beriring bersama sejumlah anggota TNI. Hidung dan bibirnya berdarah. Tony lalu mendekati Hamdani. Salah seorang kawannya bilang bahwa Hamdani tidak mengaku dirinya keuchik. “Saya emosional dan ikut memukul,” katanya. Atas aksi main gebuk itu, oditur militer menjerat mereka dengan Pasal 103 ayat 1 KUHP, soal penganiayaan. Hakim memvonis ketiganya empat bulan dan 20 hari penjara.

Di samping rentetan penculikan oleh GAM, penganiayaan terhadap Hamdani Yahya itu ikut memicu mundurnya sekitar 76 keuchik di Bireuen, tiga pekan lalu. Dalam pengumuman pengunduran diri yang dihadiri sejumlah wartawan ini, para kepala desa menyebut bahwa mereka tak kuat lagi menjadi pemimpin desa. “Kami tidak sanggup lagi menjadi kepala desa. Kami mau menjadi warga sipil biasa,” kata Razali, wakil para kepala desa itu. “Semasa darurat militer ini, keuchik harus menerima risiko berat ketika harus melindungi masyarakat yang tidak bersalah,” Mansyur Ali, kepala desa lainnya, menimpali. Sejumlah keuchik yang mundur itu belakangan memang bekerja lagi. Tapi beberapa tetap memilih pensiun, dengan alasan: mundur adalah pilihan paling nyaman.

Wenseslaus Manggut, Abdul Manan (Meulaboh), Cahyo Junaedy, dan Zainal Bakri ( Lhokseumawe)

TEMPO Edisi 030706-018/Hal. 36 Rubrik Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: